
"Kami kehabisan darah golongan O, apakah Tuan atau Nyonya golongan darah nya O?" tanya dokter tersebut.
"Kebetulan darahku O dok, ambillah sebanyak mungkin asalkan putra kami selamat," ucap Edward.
Alona sangat terharu dengan ucapan suaminya yang sangat perduli dengan putranya. Tapi di dalam hatinya yang terdalam dirinya sangat takut jika Edward mengambil ke tiga anaknya yang sudah di rawat selama sebelas tahun lebih.
"Kalau begitu silahkan ikuti saya Tuan," ucap perawat tersebut.
Edward hanya menganggukkan kepalanya kemudian berjalan mengikuti langkah perawat dan diikuti oleh Alona sedangkan ke dua anaknya bersama Arsene dan Angel.
Alona melihat Edward sedang berbaring di ranjang kemudian perawat tersebut mengambil jarum untuk di ambil darah milik Edward. Alona yang sangat takut jarum suntik langsung memalingkan wajahnya ke arah samping membuat Edward menggenggam tangan Alona yang tidak ada jarumnya.
"Ada apa?" tanya Edward.
"Aku sangat takut jarum suntik," ucap Alona tanpa menatap Edward.
__ADS_1
Edward hanya tersenyum sambil masih menggenggam tangan Alona hingga beberapa saat kemudian perawat tersebut menarik jarum tanda darahnya sudah selesai di ambil kemudian langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
"Maaf Tuan dan Nyonya, saya tinggal karena anak Tuan dan Nyonya sangat membutuhkan darah ini," ucap perawat tersebut sebelum menghilang dari ruangan tersebut.
"Baik Sus dan terima kasih," jawab Alona.
Perawat tersebut hanya menganggukkan kepalanya sambil melanjutkan langkahnya. Edward dan Alona saling terdiam tanpa ada yang bicara sedikitpun hingga akhirnya Edward mengeluarkan suaranya.
"Kamu tahu ketika aku mengetahui kalau pesawat yang kamu tumpangi meledak hatiku sangat hancur hingga keluarga besar ku selalu mendampingiku dan memberikan aku kekuatan. Kenapa kamu tega melakukan ini padaku?" tanya Edward.
"Aku ingin tahu ceritamu setelah kamu berada di bandara dan aku tidak ingin ada kebohongan," pinta Edward.
Alona menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian Alona memalingkan wajahnya ke arah Edward.
"Waktu aku di toilet mall aku bertemu dengan Ibuku dan adik kembarku Alena. Mereka memintaku untuk pergi dan adik kembarku mengganti kan diriku kemudian Ibuku memberikan tiket pesawat atas nama Alena,'' ucap Alona menceritakan awal ceritanya.
__ADS_1
Edward hanya diam dan menunggu cerita selanjutnya sambil menahan amarahnya terhadap ke dua wanita itu yang sudah ma ti oleh anak buahnya atas perintah Edward.
"Aku pergi dari tempat itu dengan menggunakan taksi menuju ke bandara. Sampai di bandara aku bertemu dengan opa Max dan opa Louis, mereka mengatakan kalau pesawat yang akan aku tumpangi sudah di pasang bom dan pelakunya Ibu kandungku," ucap Alona dengan mata berkaca-kaca.
Alona tidak tahu kalau mereka adalah paman dan Tante bukan orang tua kandung Alona.
"Aku sudah mau mengalah tapi apa yang aku lakukan ternyata sia-sia mereka menginginkan kematian ku,'' sambung Alona sambil tersenyum namun hatinya sangat terluka.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Edward penasaran sekaligus menahan amarahnya.
"Opa Max dan Opa Louis memintaku dan penumpang lainnya menggunakan pesawat milik keluarga besar Alvonso," jawab Alona.
"Berarti pesawat yang meledak itu hanya ..." ucapan Edward terpotong oleh Alona.
"Bukan, pesawat itu dijalankan dengan menggunakan remote dan tidak ada orang sama sekali dan sesuai prediksi di tengah laut pesawat itu meledak dan tenggelam di dasar laut," jawab Alona menjelaskan.
__ADS_1
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Edward.