Menikahi Pria Gangguan Jiwa

Menikahi Pria Gangguan Jiwa
Draft


__ADS_3

''Kenapa tidak tega? Sekarang tanda tangani atau kita bertemu di pengadilan," ancam Arsene.


"Eden, lebih baik tanda tangani surat perceraian kalian," ucap Edward yang sejak tadi diam menyaksikan Delisa dan adik kembarnya.


Sebenarnya Edward tidak tega melihat adik kembarnya yang sedang lumpuh namun kesalahan adik kembarnya terlalu fatal karena itulah Edward tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kak Edward, aku sangat mencintai Kak Arsene dan tidak ingin bercerai," ucap Eden dan tidak berapa lama air matanya keluar.


"Kakak tahu, tapi perbuatan mu di masa lalu membuat Arsene tidak bisa memaafkan dirimu jadi lepaskan Arsene dan memulai hidup baru," jawab Edward.


"Arsene, apakah kamu tega melihat putriku menangis?" tanya Delisa dengan nada memohon untuk ke dua kalinya.


Pertama ketika Delisa memohon sambil berlutut di depan Arsene agar mau menikah dengan putrinya karena putrinya ingin bunuh diri.


"Aku sudah berapa kali mengalah tapi kalian berdua sangat egois. Kalian tidak pernah tahu bagaimana waktu itu aku sangat sedih kehilangan istri dan putriku hingga membuatku gi*a terlebih Nyonya. Nyonya yang sudah tahu .. eh bukan tepatnya kalian bersekongkol kalau ternyata istri dan anak kami masih hidup tapi masih saja datang ke rumah orang tuaku dan menyalahkan aku membuatku semakin bertambah bersalah. Aku tidak bisa memaafkan kalian lagi karena kesalahan kalian sangat fatal." ucap Arsene sambil meletakkan dokumen perceraian di meja dekat ranjang.


"Terserah kamu tanda tangani atau tidak karena yang pasti jika dalam tiga hari surat perceraian itu tidak aku terima maka kita bertemu di pengadilan," ucap Arsene sambil berjalan meninggalkan ruangan tersebut.


"Kak Arsene," panggil Eden.


Arsene tetap melangkahkan ke dua kakinya tanpa memperdulikan panggilan Eden hingga Arsene menghilang dari pandangan mereka.


"Akhhhhhhhh.... Aku benci Mommy, gara-gara Mommy rumah tanggaku hancur!!" teriak Eden.


Plak

__ADS_1


"Jangan berteriak dan jangan salahkan Mommy!!" teriak Delisa kemudian menampar Eden untuk pertama kalinya.


"Apa kamu lupa kalau kamu punya ide untuk menghancurkan rumah kalian dan membuat kalian pura-pura meninggal supaya mendapatkan uang yang sangat banyak dari pihak asuransi?" tanya Delisa.


"Tapi seharusnya Mommy sebagai orang tua itu jika anaknya melakukan kesalahan di kasih tahu bukannya di dukung," ucap Eden dengan nada naik satu oktaf sambil memegangi pipinya yang perih.


"Cape ngomong sama kamu,'' ucap Delisa yang merasa dirinya tidak bersalah sedikitpun.


Delisa pergi meninggalkan ke dua anak kembarnya dan juga cucunya menuju ke arah kamar Delisa sambil memijat keningnya yang pusing.


"Kak Edward, aku dan putriku ingin pergi dari sini," pinta Eden.


"Kalau begitu ikut Kakak ke mansion milik Kakak," ucap Edward yang tidak tega melihat adik kembarnya sedih begitu pula dengan ponakannya.


"Alona sebenarnya masih hidup dan ada di mansion Kakak kalau kamu mau bertemu dengannya silahkan," ucap Edward.


"Apa? Kak Alona masih hidup?" tanya Eden dengan nada terkejut.


"Ya masih hidup," jawab Edward.


"Kalau begitu antar kan aku untuk bertemu dengan Kak Alona," pinta Eden.


"Baik, Kakak akan panggilkan pelayan untuk mendorong kursi roda," ucap Edward.


Edward menghubungi kepala pelayan untuk datang ke kamar Eden dan tidak berapa lama pintu kamar Eden di ketuk dan Edward memintanya untuk masuk ke dalam. Edward mengangkat tubuh Eden ke arah kursi roda kemudian berlanjut menggendong Dela untuk diletakkan ke kursi roda.

__ADS_1


"Dorong kursi roda ponakan ku," perintah Edward.


"Baik Tuan," jawab kepala pelayan.


Kepala pelayan mendorong kursi roda Dela sedangkan Edward mendorong kursi roda milik Delia kemudian mereka keluar dari kamar Eden.


Kepala pelayan dan Edward mendorong kursi roda hingga sampai di pintu utama karena Delisa memanggil Edward dan Eden.


"Edward, Eden mau kemana?" tanya Delisa.


"Mulai sekarang dan seterusnya aku dan putriku tidak akan menginjakkan kaki di mansion ini karena aku sangat membencimu, Mom," jawab Eden.


"Eden!!" bentak Delisa.


"Ayo Kak kita pergi dari sini," ucap Eden tidak perduli dengan ucapan Delisa.


"Edward," panggil Delisa.


"Maaf Mom, gara-gara Mommy rumah tangga kami berantakan. Seharusnya sebagai orang tua membimbing kami agar rumah tangganya selalu rukun bukan seperti ini. Mommy sangat egois gara-gara Mommy dendam dengan keluarga Alona, Mommy memisahkan Edward dengan Alona," ucap Edward.


Selesai mengatakan hal itu Edward mendorong kursi roda Eden dan keluar dari mansion megah tersebut dengan diikuti oleh kepala pelayan.


"Akhhhhhhhh... Kenapa jadi seperti ini?" tanya Delisa sambil berteriak histeris.


"Hahahaha... semua pergi meninggalkan aku, suamiku, putra kesayanganku Edward, Eden dan cucuku Dela." ucap Delisa sambil tertawa seperti orang gi*a.

__ADS_1


__ADS_2