
"Sampai di negara tujuan aku tinggal bersama Tante Katarina dan Paman Mikael," jawab Alona.
"Tunggu, waktu itu Tante Katarina menghubungiku apakah kamu memintanya untuk menghubungi diriku?" tanya Edward.
Alona hanya menganggukkan kepalanya sambil memalingkan wajahnya ke arah samping membuat Edward menarik dagu Alona dengan perlahan agar menatap dirinya.
"Kenapa wajahmu memerah?" tanya Edward sambil menatap bibir Alona yang sudah lama tidak disentuhnya.
"Aku ..." ucap Alona menggantungkan kalimatnya.
"Apakah kamu masih mencintai ku?" tanya Edward.
Alona lagi-lagi menganggukkan kepalanya dan wajahnya semakin bersemu merah membuat Edward tersenyum. Edward mendekatkan wajahnya ke arah wajah Alona membuat Alona memejamkan matanya.
Ceklek
Ketika ke dua bibir tersebut nyaris bersentuhan bersamaan pintu tersebut di buka oleh seseorang membuat Alona mendorong tubuh Edward sedangkan Edward menahan amarahnya. Alona dan Edward melihat Angel masuk ke dalam ruangan dan berjalan ke arah Alona.
"Mommy Alona, Edwind sudah di bawa ke ruang perawatan," ucap Angel.
"Baik,kalau begitu ayo kita ke sana," ajak Alona sambil berjalan keluar ruangan bersama Angel meninggalkan Edward.
"Setelah melihat ke tiga anak kami, aku akan menculik Alona," ucap Edward sambil turun dari ranjang kemudian berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
ceklek
Edward membuka pintu kamar perawatan dan melihat Edwind, Edmund dan Adara bersama keluarga besarnya sedang mengobrol.
"Daddy," panggil Edwind, Edmund dan Adara bersamaan.
"Ya," jawab Edward singkat sambil berjalan ke arah Edwind yang masih berbaring di ranjang.
Grep
Grep
"Kami kangen sama Daddy," ucap Edmund dan Adara bersamaan sambil memeluk Edward dari arah belakang.
"Daddy juga kangen dengan kalian, maafkan Daddy yang tidak sempat melihat kalian dari kecil hingga bertumbuh besar," ucap Edward berbohong kalau dirinya tidak sempat melihat karena sejujurnya dirinya tidak tahu.
"Daddy tidak mungkin melupakan kalian," ucap Edward.
Hati Edward terasa sakit namun tidak berdarah ketika mendengar ucapan ke tiga anak kembarnya yang tidak membenci dirinya karena tidak pernah hadir ketika mereka masih bayi hingga mereka bertumbuh besar.
Edward sangat menyesali perbuatannya di masa lalunya dan ingin memperbaiki kesalahannya untuk memulai hidup baru selain itu dirinya berjanji untuk tidak menyakiti Alona walau Ibunya menyuruhnya untuk menyakiti Alona lagi.
"Daddy, Edwind pengen di peluk Daddy," pinta Edwind.
__ADS_1
Edward hanya tersenyum kemudian ke dua adik kembarnya melepaskan pelukannya karena bagaimanapun juga kakak kembarnya juga merindukan Edward.
Grep
Edward memeluk Edwind dengan perasaan terharu sekaligus bahagia karena bisa melihat ke tiga anak kembarnya yang sangat mirip dengannya. Setelah beberapa saat Edward melepaskan pelukannya kemudian menatap satu persatu ke arah mereka.
"Daddy bisakah menjaga ke tiga cucu Daddy?" tanya Edward.
"Bisa, memangnya kamu mau kemana?" tanya Delon.
"Ada yang ingin aku tanyakan sama Paman Jimmy, Tante Jessica, Paman Lemos, Tante Soraya, Tante Sela, Paman Axel, Tante Seli dan Paman Albert," ucap Edward.
"Ok," jawab Delon singkat yang mengerti kenapa ingin berbicara dengan ke empat adik kembarnya dan ke empat adik iparnya.
"Edwind, Edmund dan Adara, Daddy keluar sebentar sama Mommy. Kalian bertiga sama Opa Delon ya," ucap Edward.
"Tapi Daddy tidak pergi lagi kan?" tanya Edwind, Edmund dan Adara bersamaan.
"Mulai sekarang dan seterusnya Daddy akan tinggal bersama Mommy dan kalian bertiga," ucap Edward.
"Yes, akhirnya keluarga kita lengkap," ucap Edwind, Edmund dan Adara bersamaan sambil tersenyum bahagia.
"Oma dan Opa juga ikut," ucap Mommy Maya dan Daddy Nathan bersamaan.
__ADS_1
Edward hanya tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya, mereka berjalan ke luar dari ruang perawatan karena Edward tidak ingin ke tiga anak kembarnya mendengar pembicaraan orang dewasa.
"Selain Edward yang tidak tahu kalau Alona masih hidup, siapa saja Paman Jimmy, Tante Jessica, Paman Lemos, Tante Soraya, Tante Sela, Paman Axel, Tante Seli dan Paman Albert?" tanya Edward yang masih penasaran.