
Hari sudah larut, Rita sudah sekian kali meminta ijin pulang, namun Hendry tak acuh padanya. Namun kali terakhir ini, ia mengabulkan permintaan Rita, Hendry mengantarnya pulang. Ia juga tak tega melihat Rita yang sudah kelelahan.
Setelah melihat Rita melangkah memasuki pintu rumahnya, ia beranjak pergi dari sana. Rita segera merebahkan diri di kamarnya.
Akan tetapi, matanya masih tertuju pada kotak berbalut kertas warna-warni itu. Ia meraihnya dan membuka kotak itu untuk memastikan isinya.
Sebuah cincin emas. Rita pun mengambil ponsel, segera menghubungi Hendry untuk menanyakan perihal perhiasan logam mulia itu.
"Hen, kenapa kamu kasih cincin itu? Kan mahal," tanya Rita heran. "Oh, itu ..." jawab Hendry masa bodoh. "Hen, saya belum bisa menerimanya," tolak Rita dengan sopan pemberian Hendry yang dia anggap berlebihan.
"Ta, itu pemberian dari mama. Jadi kalau kamu keberatan, langsung aza bilang sama mama yah," Hendry mencoba mengelak pertanyaan bertubi-tubi dari Rita dengan mengatasnamakan mamanya agar Rita tak lagi menyerangnya bertubi-tubi.
"Hen, sudah berulang kali saya katakan, jangan berlebihan," gumam Rita jengkel pada pria loyal itu.
"Rita, apa hubungan kita sebatas teman saja?" tanya Hendry penasaran karena sangat sulit menebak isi hati seorang wanita.
__ADS_1
"Kamu sepertinya tidak serius dengan hubungan kita?" Hendry dengan tegas menginginkan sebuah kepastian.
"Saya serius, Hen," balas Rita. Tapi, saya tidak sanggup menerima pemberian yang mehong seperti ini, kemarin rumah sekarang perhiasan," jawab Hendry.
"Saya takut saya ga sanggup menjaganya, Hen? Berat tanggung jawab buat saya." Rita mengungkapkan alasan kenapa menolaknya.
Mereka akhirnya berhenti adu mulut dan saling diam. Mematikan ponsel dan memejamkan mata beristirahat.
Esoknya, sesuai janjinya pada Hendry, ia berangkat awal ke sana. Namun, Hendry tak mengacuhkannya. Padahal, ia tahu kalau Rita kini berada di sana.
"Ta, maaf ya," ucap Hendry memelas seraya membelai rambut hitam sebahu milik Rita. Lanjut mengecup mesra kening gadisnya itu
"Selama aku tidak di sini, jaga diri baik-baik ya! Titip papa sama mama ya, Ta," bisik Hendry pada Rita masih memeluk mesra tubuh putih mulus itu.
Sebelum ia naik ke mobil, ia memberikan sekotak kue favoritnya pada Rita."Buat kamu sarapan," kata Hendry lagi.
__ADS_1
Orangtua Hendry dan Rita, berdiri berdampingan mengantarkan kepergiannya.
Mobil yang membawa Henry perlahan menghilang dari pandangan, meninggalkan mereka yang masih berdiri di sana.
"Om, tante, Rita ijin pulang yah," pamit Rita. "Nanti, sering- sering main ke sini ya, nak," pinta mama Hendry.
Rita pun pulang dan melanjutkan aktivitasnya seperti biasa. Ia mandi, berpakaian casual dan berangkat kerja.
Hari ini, mereka mendapat orderan catering dalam jumlah banyak. Mereka semua membagi tugas seperti biasa. Kekompakkan diantara ketiga sohib itu patut diacungi jempol.
Seiring waktu, customer di Cafe Ceria meningkat, orderan catering juga naik drastis sehingga mereka mempekerjakan 2 orang karyawan untuk membantu meringankan tugas mereka.
Rita, Desy dan Sekar sangat terampil dan saling kompak. Mereka bertiga mengerjakan kewajiban masing-masing secara spontan.
Cafe selalu dalam kondisi rapi dan bersih, hingga custumer betah berada di sana. Kehigienisan makanan juga mereka jaga sehingga pelanggan puas dan repeat order lagi dan lagi.
__ADS_1