Menikahi Pria Pilihan Orang Tua

Menikahi Pria Pilihan Orang Tua
Rita Sakit


__ADS_3

"Ternyata Rita sakit ... " bisik Hendry dalam hati. Ia masuk ke kamar Rita. Meraba dahinya, suhu tubuhnya tinggi.


"Rita, kita ke dokternya," bujuk Hendry. "Ga usah, aku sudah minum obat, Hen," balas Rita suaranya kecil hampir tak terdengar. "Tapi badanmu panas," ucap Hendry lagi.


"Sudah makan, Ta?" tanya Hendry sambil mengelus rambut Rita. "Ga nafsu, ga enak semua," tolak Rita dengan nada seraknya. "Ta, aku tinggal sebentar, nanti balik lagi, yah," Hendry mengecup keningnya dan keluar dari kamar Rita.


"Om, Tante, saya keluar sebentar nanti saya kembali," pamit Hendry. Hendry pulang ke rumahnya dan menelepon Raka. "Raka, Hari Senin saya tidak jadi pulang, saya akan kontak dengan Pak Anwar bahwa kamu yang menggantikan saya nanti," ujar Hendry singkat.


"Kenapa, Hen?" tanya Raka khawatir padanya. "Rita sakit, aku ga tega meninggalkannya, Ka," ungkap Hendry bimbang. "Okay, aku akan beresin semua," balas Raka di sana.

__ADS_1


Hendry masuk ke mobilnya dan pergi ke rumah makan chinese food, ia take away 2 porsi bubur untuk Rita juga 3 porsi nasi ayam untuk Ortu Rita juga untuk dirinya.


Setelah itu ia, konsul dengan dr. Toni, temannya tentang daerah sensitif wanitanya.


Toni memberinya obat yang ia inginkan. "Ini Hen, dijamin manjur," guraunya. "Okay, jadi ini langsung ke kasir, Ton," tanya Hendry bingung karena diberi obat sejenis balsem dan beberapa butir obat kapsul tetapi tidak menyertakan resep lain untuk ditebus.


"Hen, gratis kok buat teman," kata Toni lagi. "Tapi ga apa-apakan, Ton," tanya Hendry masih bingung. "Aman, Hen. Makanya nikah, Hen. Jadi ga galau seperti itu," ujar Toni sedikit meledeknya. "Mau Ton, sudah kesekian kalinya aku merayu, tapi tak juga bisa menaklukkannya," keluh Hendry.


"Om, Tante ini ada nasi ayam, saya ambil mangkok ya, Tan buat taruh bubur," Bu Anna mengambilkannya mangkok. "Tante sama Om makan dulu nanti balik lagi aza ke toko. Rita aman sama saya, Tan," Hendry menawarkan diri.

__ADS_1


"Kamu ga repot, Hen?" tanya Bu Anna ragu. "Ga kok, Tan. Besok saya tidak jadi pulang, tunggu hingga Rita sembuh, Tan," balas Hendry.


"Tan, boleh pernikahan kami dipercepat?" tanya Hendry pada Bu Anna. "Boleh, kenapa, nak," tanya Bu Anna heran. "Tapi ... Rita selalu menolak, Tan ..." keluh Hendry. "Nanti Ibu bujuk dia ya, kamu tenang aza," hibur Bu Anna.


"Tan, nasinya dimakan ya selagi hangat, nanti Rita biar saya yang temani." Hendry menawarkan diri mengurangi beban pikiran ortu Rita.


Hendry membawa bubur dan air serta obat-obatan yang Toni berikan. "Rita, bangun sayang, kita makan, yuk ..." ajak Hendry membangunkannya. "Kalau kamu tidak makan minimal 3 sendok, aku akan menghukummu seperti tadi malam, atau ... aku suapi kamu pakai mulutku, pasti nikmat, Ta," kecam Hendry tenang namun menakutkan.


Rita segera bangkit dan Hendry memapahnya duduk menyandarkannya di headboard ranjangnya. Hendry menyuapinya hingga hampir setengah dari mangkoknya.

__ADS_1


"Tadi jam berapa minum obat?" tanya Hendry mengintrogasi. "Jam 5 lewat," jawabnya setelah berpikir cukup lama.


"Sekarang minum ini," Hendry menyerahkan obatnya. "Rita pun patuh meneguk obat itu. "Lanjut buka bajumu!" perintah Hendry. "Ke ... kenapa, Hen?" tanya Rita gemetaran. "Saya kasih 2 pilihan, buka sendiri atau saya buka paksa," ancamnya.


__ADS_2