
Raka dan Hendry ke kantornya, kedua pria rupawan itu melangkah dengan terburu-buru seolah ingin menghindari sesuatu.
Sementara, Riani masih duduk manis di kantin perusahaan. Dia memasang wajah serius menatap ponselnya. Riani ada meeting mesra dengan Om Herunya malam ini.
Heru seorang pengusaha peternakan ayam paling top di kota itu. Walau memiliki seorang istri nan cantik jelita, ia masih saja tergoda oleh rayuan gombal Riani.
Ketika mobil melintas di depan kantin, tak sengaja ia mendapati sosok Riani berada di sana. Sedang menunduk asyik dengan ponselnya.
Kedua pria itu bergegas ke ruangan Hendry. Raka juga stay di sana. Ia ingin menghalangi Riani agar tidak lagi mengganggu hidup Hendry.
__ADS_1
Hendry segera menghubungi Roby, temannya yang berprofesi sebagai informan dan detektif swasta. Ia ingin segera menyelesaikan hubungannya dengan Riani. Akan tetapi, harus di sertai bukti kuat yang akurat, hingga Riani mati kutu tanpa bisa melakukan perlawanan.
Hari sudah larut, mereka pun bubar dan kembali ke rumah. Hendry sudah lelah seharian masuk ke kamarnya dan berendam sejenak. Setelah puas memanjakan tubuhnya ia mengeringkan seluruh tubuh atletisnya, mengenakan celana casual tanpa memakai atasan.
Ia teringat pada Rita. Segera ia mengambil ponselnya dan vidio call manja pada calon istrinya. Namun, Rita tampaknya masih sibuk. Hingga membuat Hendry sedikit kesal
Mereka memindahkan semua nasi box dan komplotannya ke dalam mobil, Desy pun menyetir dan menjauh meningalkan cafe.
Mereka kini mulai berbenah agar bisa kembali beristirahat di rumah masing-masing. Setelah Desy dan Ria tiba di cafe, mereka pun berpisah dan meninggalkan tempat kerja mereka.
__ADS_1
Rita yang sedah lelah, segera membersihkan tubuhnya. Kemudian berbaring seketika. Namun, ponselnya berdering memanggilnya terus-menerus.
Rita mengambilnya, panggilan Hendry tak terhitung banyaknya. "Pasti nanti diomelin," batinnya.
"Hen, selamat malam, sorry ya, baru dibalas. Hari ini sibuk, aku aza baru selesai mandi," Rita membalasnya dengan pesan singkat, kala itu waktu sudah menunjukkkan pukul 21,46. Di seberang sana, Hendry segera membalasnya. "Ta, aku kangen," balasnya. "Iya," balas Rita. "Ta, vidio call ya, please! Mohon Hendry padanya. "Hen, hari ini aku super duper lelah, besok, ya," Rita mengelaknya di chat. "Ok deh, awas jangan ingkar, ya!" ancam Hendry padanya. "Ya ... iya ..." balas Rita lagi. "Hen, aku istirahat dulu ya, badanku terasa remuk semua, mungkin efek dari orderan kemarin super banyak, Hen," timpal Rita lagi. "Okay, selamat malam, mimpi yang indah ya, Ta. Jangan lupa, bawa aku dalam mimpimu," seru Hendry yang sebenarnya kesal karena ia masih ingin bercerita lebih banyak lagi padanya, namun ia sadar Rita memang sibuk dengan aktivitasnya di cafe, ia pasti sangat lelah. "Rita, kelak aku akan membahagiakanmu tanpa kau perlu bekerja selelah ini, doakan hari itu tiba ya!" gumam Hendry dari hati kecilnya.
Hari berganti pagi, seperti hari-hari sebelumnya, Hendry berangkat kerja. "Pagi, Pak," sapa karyawannya yang mulai berdatangan saru per satu. "Pagi ... pagi ..." balasnya pada mereka.
Raka seperti biasa, menerobos masuk ke kantor Hendry tanpa permisi. "Gimana, Hen?" tanyanya tanpa basa-basi. "Blom, kita tunggu kabar dari Roby baru kita jalankan misi berikutnya. "Jangan terburu-buru, Ka," timpal Hendry tersenyum kecil padanya.
__ADS_1