
Rita senyum bahagia memeluk ibunya. Ayahnya melihat tingkah mereka lalu menggeleng-geleng kepalanya dan berlalu meninggalkan mereka. Rita menyerahkan buah tangan dari Hendry, beliau menerimanya dan mengucapkan terima kasih padanya.
"Rita, Mama ingin sampaikan bahwa kalian akan segera menikah. Itu keputusan Papa kalian," ujar Ibunya tegas. "Ma, apa ga bisa ditunda, saya belum siap, Ma," Rita memohon pada Ibunya namun tetap tidak bisa mengubah keputusan Sang Ayah.
Rita pergi ke kamarnya dengan rasa jengkel. Ia segera mandi dan berangkat kerja. Ia sudah tak sabar lagi ingin bertemu dengan Sekar dan Desy. Ia segera berangkat karena ia sudah sarapan dari malam hingga subuh. Tak lupa, oleh-oleh untuk Desy, Sekar, Nina juga Ria sudah ia tenteng ditangan kanannya.
Desy sudah tiba di cafe dahulu, disusul Sekar, Ria dan Nina. Sedang Rita berlari terhuyung-huyung karena kurang tidur semalam.
"Des, Kar ..." Rita meneriaki sohibnya dari seberang jalan. Mendengar suara yang begitu akrab memanggilnya, sontak mereka serentak menoleh ke arah sumber suara.
"Rita ..." Desy memeluk Rita erat. "Aku kangen, Bebz," ujar Desy memeluknya semakin erat. "Akhirnya kamu kembali, Ta," tambah Sekar sembari memeluk Rita mesra. Mereka saling berpelukan melepas rindu.
__ADS_1
Dari seberang sana, Hendry melihat pemandangan itu, ia sungguh tersentuh dengan persahabatan mereka. Namun, ia memilih pergi dengan mobilnya daripada mengganggu mereka.
"Des, Kar, maaf ya, aku pergi tanpa permisi. Aku dijebak oleh Hendry." Rita mengadu pada kedua sohibnya. "Katanya antar sampai ke bandara, eh ... tahu-tahunya, diangkut sekalian kesana," curhat Rita jengkel.
Mereka tertawa terbahak-bahak mendengarnya. "Ta, sebenarnya Hendry sudah ijin sama kita berdua akan membawamu kesana."
"Hendry bilang mungkin sebulanan kamu disana," ujar Sekar menambahkan. "Siapa sangka, baru semingguan kamu sudah didepan mata, Ta," tambah Desy seraya melirikan matanya kearah Sekar.
Mereka asyik bercengkrama hingga lupa waktu. Namun Ria dan Nina sengaja membiarkan mereka melepas rindu. Dan ketika acara kangen-kangenan usai, meja kursi semua telah tertata rapi.
"Aduh ... Ria, Nina. Maaf kita ngobrol hingga lupa waktu," keluh Desy seraya menepuk jidatnya. "Ngak masalah Kak, Kakak bertiga lagi kangen-kangenan. Kita ga tega mengganggu," ujar Ria santai.
__ADS_1
Mereka pun berbagi tugas seperti biasa. "Ta, kamu stay di cashier today," kata Desy. "Des, maaf, aku ga bisa. Soalnya dari tadi malam aku ga tidur, dari malam hingga subuh kami duduk dikantin, ga berani kagetin Ortu," tolak Rita.
" Berarti Sekar ya kasir hari ini," ujar Desy. "Okay" sahutnya seraya berjalan kearah meja kasir dan menghitung uang receh dilaci meja.
"Aku ke dapur aza ya, Kar," kata Rita dan diiyakan oleh kedua temannya. Mereka pun mulai melakukan tugas masing-masing seperti sedia kala.
"Ta, waktu kamu ga ada, kita kelabakan. Ada beberapa orderan yang kita cancel, karena waktunya terlalu mepet." Sekar curhat pada Rita. "Sangat disayangkan ya, Kar," ujar Rita dengan raut wajah kecewa. "Ya, mungkin bukan rejeki kita," tambah Sekar.
"Ayo, semangat mengais Rupiah," ajak Rita. Ia mengambil cabai, bawang merah, bawang putih dan menggiling bahan tersebut di food proccesor. Suara bising dari alat itulah yang membuat semangat mereka berkobar-kobar.
Rita si pemberi semangat, menghidupkan suasana seisi cafe. Juga, si terampil dan cekatan dalam menaklukkan semua bumbu masakan.
__ADS_1