Menikahi Pria Pilihan Orang Tua

Menikahi Pria Pilihan Orang Tua
Hendry Kesepian


__ADS_3

"Hari ini kita dirumah aza, temani aku ya,Ta. Dan besok aku akan pulang kembali bekerja."


"Ok, Hen."


"Aku keluar sebentar."


Ia meninggalkan Rita dirumah dan pergi kerumahnya untuk mengambil sekotak kue black forest.


"Banyak benar, beli dimana ini?"


"Kebetulan ada kenalan jualan kue online. Aku order 1 cetak. Kemarin sore dia antar."


"Sebentar, aku seduh kopi."


"Pisau juga,Ta."


"Okay."


Dalam waktu sekejap, Rita kembali dengan nampan berisi segelas air kopi dan segelas minuman coklat, pisau, piring, juga sendok.


Mereka menikmati sarapan pagi sama seperti hari-hari yang telah lalu, sembari menikmati makanan mereka bercerita tentang dunia ...


"Ta, besok kerumah, ya! Antar aku ke Bandara, ya."


"Rita ... soal pernikahan kita, bagaimana?"


"Nanti, aku akan mencari lokasi terbaik untuk kamu usaha catering di sana.


"Asal jangan jauh dari aku, ya," bisik Hendry dengan manja menyandarkan kepalanya di bahu Rita.


"Mau mengajak Desy dan Sekar juga boleh."


"Desy dan Sekar juga punya kisahnya tersendiri."


"Juga ga bisa bilang mau pergi langsung pergi aza."


"Ibu Desy sudah tua, Desilah sandaran hidupnya. Walau kakak-beradiknya mapan, namun Desy yang merawat dan mengurus ibunya. Ibunya juga lebih betah tinggal dengan Desy daripada anak-anaknya yang lain."

__ADS_1


"Sementara Sekar mungkin tidak lama lagi akan menikah."


"Kamu jangan mau kalah, Ta."


"Ayo kita duluan."


"Nanti bila sudah menikah, kita akan sering pulang menjenguk mereka disini."


"Kamu tidak perlu bekerja keras lagi."


"Aku juga ada teman dirumah."


"Di rumah sepi, Ta. Rumah begitu besar, aku tinggal sendirian di temani para asisten Rumah tangga aza. Orangtuaku memilih tinggal di sini."


"Mau gimana lagi, mereka ingin menghabiskan sisa umurnya di kampung halaman."


"Jujur, Ta. Aku tidak tega melihatmu bekerja keras dari pagi hingga sore."


"Melayani pelanggan dengan berbagai tipe dan yang paling menjengkelkan adalah customer yang arogan sifatnya."


"Lelah pasti, cape juga iya. Namanya juga kerja, pasti ada ndak enaknya."


"Demi bertahan hidup. Aku ga mau menjadi beban orangtua. Menyusahkan orang lain."


"Ingin beli ini itu, bebas tidak ada yang melarang.."


"Kelak, kamu tidak perlu bekerja selelah ini lagi."


"Semua fasilitas aku siapkan untukmu."


"Dan nanti, bila aku kembali lagi ke sini, kita menikah. Aku tak mahu lagi mendengar alasan apapun, mengerti?"


Rita menggangguk, mengiyakan Hendry.


"Ta, ini tambah lagi sepotong."


"Sudah, stop, Hen. Sudah kenyang."

__ADS_1


"Akulah yang akan bertanggung jawab terhadap semua kebutuhanmu kelak."


"Siap, boss."


"Ayo, lanjut ngopi. Nanti keburu dingin, ga enak lho, Ta."


Mereka pun melanjutkan mencicipi kue blacky-blacky shiny itu.


Tok ... tok ... tok ...


Pintu diketuk oleh seseorang.


"Desy, Sekar ..."


"Yuk, masuk ..."


"Sorry say, Hendry melarang aku kerja."


"Ya, istirahat dulu, Ta. Wajahmu masih pucat," ujar Desy.


"Kalian sudah sargi? Ayo, sargi sama kita."


"Sudah tadi sebelum berangkat kerja." Sekar menyahut.


"Ta, istirahat dulu, kita bisa handle semua kok," pesan Sekar lagi.


"Kami berangkat kerja yah, da ...," pamit Desy.


"Kalau besok memungkinkan, aku masuk ya, bebz," ujar Rita tidak enak.


"Kesehatan lebih utama, kamu jangan merasa ga enak,Ta," ujar Desy lagi.


"Okay, makasih ya, say. Jujur kali ini aku benar-benar tepar, tak berdaya akibat demam kemarin."


"Makasi ya, bebz. Kalian care sama aku, jadi terharu," Rita memeluk kedua sohibnya.


"Aahh, Rita ... kamu kayak dengan siapa aza deh begituan, ah ...," sungut Desy seraya mengeryitkan keningnya menatap Rita yang sedang terharu dengan kehadiran kedua sohibnya itu.

__ADS_1


__ADS_2