
"Kami berangkat kerja dulu, Ta," pamit Desy. "Hen, jaga yang benar, jangan suka gombal, nanti Rita malah mabuk," celoteh Desy.
"Aah, paling juga mabuk asmara, ya kan, Ta," Rita tak perduli padanya, ia terus mengisi kue di container.
Rita dan Sekar pun pergi meninggalkan kedua pasangan itu. "Sekar, Desy, sebentar ..." Rita mengejar mereka dengan membawa wadah plastik berisi kue di dalamnya untuk bekal teman kopi mereka.
"Rita, kamu sakit kok masih repot begini?" ujar Sekar ga enak. "Ga repot, Kar. Buat cemilan nanti siang," balas Rita lagi. "Stoknya juga banyak," tambah Rita lagi. "Okay, Hen, titip Rita, ya," pamit Sekar dan Desy sambil berlalu dari hadapan mereka.
Setiba di cafe, Sekar maupun Desy melakukan akivitasnya seperti biasa. Tak dapat dipungkiri, ketidakhadiran Rita juga berdampak pada usaha mereka.
Rita seorang pekerja keras, bila mengerjakan sesuatu, selalu konsisten dan lincah. Ketidakhadirannya dicari-cari oleh pelanggan setianya yang selalu menyapa dan bercengkrama dengannya. Ia gadis yang ramah.
__ADS_1
"Ta, sini ..." Rita pun mendekat dan duduk bersama di atas sofa di ruang tengahnya. Hendry mengecupnya manja. Rita yang masih lemah hanya bersandar lemah dan pasrah.
Hendry meluapkan perasaannya, rasa sayang dan cintanya pada Rita hanya mampu ia tunjukkan sebatas ini. Ia berusaha tidak menakuti Rita dengan lembut mengulum bibir sexy Rita. Melepaskan kecupannya dan mengelus-ngelus pipinya yang merona.
Tubuh Rita yang masih lemah membuatnya kantuk hingga ketiduran di atas sofa. Hendry dengan setia menemaninya hingga senja.
Perut keroncongan Hendry membangunkannya. "Ta, aku keluar ya, kamu bangun mandi gih," ucap Hendry membangunkan Rita.
Ia keluar dan dalam waktu 23 menit, ia kembali lagi dengan makanan untuk mengganjal perutnya yang sedang keroncongan.
Hendry memasukkan sesuap nasi ke mulutnya kemudian menyentuh bibir Rita. Menyuapinya menggunakan mulut. "Hen ... ga mau ahh ..." Rita mendorong Hendry menjauh darinya.
__ADS_1
"Makanya, kalau aku bilang makan, kamu makan dong," Hendry melototinya sambil mengunyah makanan dimulutnya.
Rita segera mengambil nasi dan segera menyuapi dirinya. Hendry mengambil sepotong ayam goreng lengkuas. Ayam itu ia suwir-suwir dan menaruhnya ke piring Rita.
"Sudah, Hen. Aku sudah kenyang," katanya menolak lauk pemberian Hendry.
"Hen, nanti malam jangan kemari ya, aku cape," Rita mengingatkan Hendry supaya tak mengganggunya. "Sebentar aza ya, Ta," mohon Hendry seraya membelai lembut tangan Rita. "Aku ingin tidur awal, Hen," Rita memberi alasan. "Okay, aku masih boleh duduk sebentar lagi?" Rita senyum melihat tingkah pria dewasa di depannya namun sifat kekanakannya memanipulasi kejantanannya.
"Boleh, habiskan dulu makananmu, masih banyak, jangan mubazir," pesan Rita seraya menunggui Hendry yang sedang makan dengan lahap.
Jam sudah menunjuk pukul 7, Hendry pun pamit pulang. Dan sebelum pergi, ia beres-beres meja serta mencuci semua tableware kotor agar Rita bisa segera istirahat.
__ADS_1
"Ta, aku pulang, kamu langsung naik ke kamar, istirahat ya," pesan Hendry. Ia mengecup kening Rita sambil berbisik "Selamat beristirahat dan GWS ya." Hendry keluar dari rumah Rita, ia juga sedikit mendorong pintu untuk memastikan bahwa pintu sudah tertutup rapat.
Rita sudah di kamarnya, sedang berbaring dan beristirahat di sana.