
Mereka turun bersama, memulai hari dengan sarapan berdua. "Ta, nanti ... ikut aku ke kantor, ya?" pinta Hendry seraya menyeka mulutnya. "Hen, aku di rumah aza, ya," balas Rita menolak ajakkan Hendry sambil memotong makanan didalam piringnya. "Nanti kamu bosan, sendirian di rumah," bujuk Hendry mencari alasan agar Rita menurutinya.
Rita hanya bisa menghela nafas dan menurutinya. Hendry tersenyum sumringah karena kemauannya Rita turuti. Ia bisa memamerkan kekasihnya dihadapan karyawannya. Juga sekaligus menepis antara dia dan Riani sudah tidak ada hubungan istimewa lagi.
Mereka berangkat bersama ke kantor. Para karyawan menyapa Hendry dengan senyum khas seolah ingin memberinya ucapan selamat. Akan tetapi, kehadiran Rita membuat Raka tidak bebas keluar masuk ke ruangan Hendry. Sementara Rita, ia duduk bingung di sofa, tak tahu harus mengerjakan apa
__ADS_1
Ia kemudian memilih duduk kalem sambil memainkan ponselnya. Sedari tadi, Hendry memperhatikan Rita sedang galau, ia pun berinisiatif membawanya ke kamar di ruangannya. "Ta, kamu beristirahat disini saja," Hendry membawanya ke kamar. Kamar ini sengaja ia desain senyaman mungkin bak kamar tidur pribadi di huniannya.
"Baring aza disana, aku ga ganggu kok," Hendry meyakinkan Rita agar ia bisa nyaman dan leluasa beristirahat disana. Setelah itu, ia kembali menatap laptop dan memegang mousenya, menyelesaikan pekerjaannya yang ia tinggalkan ketika pergi berlibur ke kota kelahirannya beberapa hari yang lalu.
Raka kali ini lebih sopan, ia mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke ruangan Hendry. Biar tidak mengganggu Hendry dan pasangannya. Hendry mempersilahkannya masuk. "Tumben, hari ini santun kamu, Ka?" Hendry heran melihat tingkah sohibnya itu. "Takut mengganggu juga melihat sesuatu yang tak pantas untuk di lihat," balasnya polos. "Berlebihan kamu," balas Hendry tak enak. Raka tak acuh padanya dan terus melanjutkan pekerjaan mereka membahas mega proyek terbarunya.
__ADS_1
Rita mendengar suara berisik, keluar dan melihat seorang wanita yang sedang mendekap mesra Hendry dengan mata kepala sendiri. Rita menghampirinya. "Hen, apa maksudnya ini?" Rita bertanya dengan nada ketus dan mata berkaca-kaca. "Rita, aku bisa jelaskan nanti, ya," Hendry menenangkan Rita yang sedang murka padanya. Rita kesal, ia segera berlari keluar dari kantor. "Cepat Ka, kejar Rita, jangan sampai dia keluar dari sini, cepat!"" perintah Hendry. Tanpa basa-basi, Raka segera berlari mengejar Rita, hingga tibalah di lobby, ia pun menghentikan Rita.
"Riani, percuma kamu merayu, memeluk atau apapun itu. Aku sudah tahu sifat aslimu," sambil berbicara ia melemparkan beberapa lembar foto pada Riani.
"Kamu peliharaan om-om," kecam Hendry dengan nada tinggi. "Mau memberikan pembelaan apapun, itu semua tidak berguna. Dan ... Mulai hari ini dan seterusnya, kita sudah tak ada hubungan apa-apa lagi," Hendry terus-menerus menyerangnya bertubi-tubi. "Baik, kamu tunggu pembalasanku," balas Riani tidak terima dengan perlakuan Hendry.
__ADS_1
Diluar sana, Raka berhasil mengejar Rita. Ia membawanya ke kantin menjelaskan semua permasalahan sebenarnya. Rita hanya bisa diam mendengar penjelasan Raka. Air matanya mengalir deras, ia merasa sakit hati melihat kejadian tadi. Raka hanya bisa diam melihatnya sedih. Ia pun bangkit dari kursi dan kembali lagi menyodorkan ice cream untuk Rita. "Nah, biar suasana hatimu lebih tenang," tambah Raka.