
Hendry pamit ke kamar Rita. Akan tetapi, Rita sedang tertidur pulas di atas ranjang. Hendry turun lagi dan pamit pada kedua Orangtua Rita.
"Hen, kamu pulang istirahat sana. Sudah seharian kamu merawat Rita. Merepotkan kamu, Nak," ujar Pak Dominggus. "Ga repot Pak, demi Rita saya rela," balas Hendry pada Pak Dominggus. "Saya pulang ya, Om Tante," sahut Hendry. "Makasih ya, Nak," ujar Bu Anna. "Ya, Om," ujar Hendry tersenyum lantas pergi melangkah keluar pintu.
Di rumah, Hendry yang sudah lelah dan gerah segera membasuh dirinya dengan percikan air hangat dari shower. Sensasi hangat mengembalikan staminanya semula.
Selesai mandi, Ia menghubungi Raka. "Ka, bagaimana hasil meeting kemarin?" tanya Hendry. "Aman, bos," balas Raka disana. "Semua data sudah saya kirim di email, nanti kamu cek ulang Hen," ujar Raka melanjutkan menjelaskan pertanyaan Hendry
"Hen, kamu kapan pulang?" tanya Raka care padanya. "Nanti aku kabarin," balas Hendry lagi. "Apa kabar Rita, Hen?" tanya Raka peduli. "Sudah baikan, Ka," balas Hendry pelan.
"Hen, aku tidak habis pikir. Kenapa Rita selalu saja menolak bila saya ajak menikah," Hendry bertanya-tanya. "Di luar sana, banyak yang datang kepadaku, ingin dekat denganku. Tapi Rita ... malah menolakku," curhat Hendry geram.
__ADS_1
"Hen, tidak semua cewek itu matre. Apalagi tipe seperti Rita. Ia mandiri, tidak manja, bertanggung jawab dan kelebihan lainnya," ujar Hendry. "Justru wanital tipikal inilah yang membuat mereka tuh, limitted edotion.
"Bahkan, ketika kamu ngedate sama dia, dia ga pernah membebanimu dengan memilih sesuatu yang wow ... Ia tahu cari duit itu susah," ujar Raka memberi pengertian.
"Ia tidak pernah berpikir untuk memorotmu agar Ia mendapatkan fasilitas apapun yang Ia mau," tambah Raka.
"Benar, Ka. Rita gadis yang berpendirian teguh," ujar Hendry sambil berdiri di balkon memandang langit gelap tak ada satu bintang di sana.
"Kembalilah, Hen. Kumpulkan dulu niatmu, jangan terlalu memaksakan kehendak mu pada Rita agar Ia tak merasa kamu mengekangnya," terang Raka.
"Okay, istirahat dulu, Ka. Badanku cape semua," Hendry mengakhiri pembicaraan dengan Raka dan menutup ponselnya.
__ADS_1
Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuknya. Tak lama, Ia pun tertidur pulas. Hingga, ketika sang surya, menyinari bumi, barulah Ia bangun dari peraduannya.
Hendry segera mandi dan berpakaian rapi. Ia akan berangkat ke rumah Rita. Jam din -ding menunjukkan pukul 6. 24.
Hendry menelepon Rita untuk membukakannya pintu. Rita pun keluar dan mempersilahkannya masuk.
"Sudah segar, Ta?" Tanya Hendry melihatnya kembali lincah. "Iya, Hen. Makasih, ya. Kemarin kamu seharian menemani aku, mengurus aku makan, minum obat dan lain-lainnya."
"Ya, kamu sehat-sehat ya. Aku selalu ingin kamu selalu bahagia, Ta," ujar Hendry seraya memeluk dan mengacak-acak rambut Rita. Ia juga tidak menghiraukannya.
"Hen, kamu batal pulang?" Tanya Rita ingin tahu. "Aku ga mau kamu sakit lagi, Ta," ujar Hendry masih terus mengelus rambut panjangnya.
__ADS_1
"Hen, karirmu itu penting jangan kamu telantarkan terlalu lama," Rita mengoceh padanya. "Ya, siap Bos!" guyon Hendry sembari memberi hormat.
"Hari ini jangan masuk kerja dulu ya, Ta?" pinta Hendry. "Tapi aku benar sudah sehat," Rita menjawab Hendry dengan nada agak tinggi. "Aku ingin kamu istirahat!" balas Hendry dengan nada tak kalah tinggi.