Menikahi Pria Pilihan Orang Tua

Menikahi Pria Pilihan Orang Tua
Hendry Brutal


__ADS_3

"Om dan Tante ada, Ta?" tanya Hendry. "Mereka sudah istirahat, Hen," balasnya. "Ayo, kita jalan," ajak Rita sambil merogoh kunci di tasnya.


"Besok, aku sarapan lagi dirumahmu, biar kue-kue semeja itu aku masukkan semua ke perutku ya, Ta," ujar Hendry menghibur sekaligus meledeknya. Rita hanya menyahutnya dengan tatapan mata jengkel.


"Kamu kalau marah, tambah cantik, Ta," bisik Hendry di telinga Rita. Mereka tiba dan duduk lagi seperti biasa, di balkon.


"Ta, sejak Ortuku disini, kamu setiap hari membawa bekal untuk mereka?" Hendry memulai pembicaraan mereka. "Orangtua Hen, porsi makannya juga ga seberapa tiap siang aku antar untuk mereka, sekalian juga buat Ortuku," jawab Rita lagi.


Hendry mengambil minuman kaleng dan meneguknya, sekaleng, lagi, lagi ... "Nanti mabuk, Hen," cegat Rita melihatnya sudah minum lebih dari sekaleng. "Ini ... belum seberapa,Ta," jawabnya sambil menatap Rita.


"Ta, ini kamu simpan!" Hendry menyerahkan setumpuk uang pada Rita. "Untuk apa, Hen?" tanya Rita bingung. Untuk kamu beli sayur dan masak buat Ortu, jangan ditolak, atau ..." Mata Hendry menatap tajam pada Rita, mereka pun beradu pandang. "Atau ... apa, Hen?" tanya Rita semakin bingung.


"Aku akan melahapmu, Ta," ancam Hendry sambil mendekat dan semakin dekat pada Rita. Ia menahan wajahnya dengan tangan. "Kamu bau alkohol, Hen. Sudah mabuk?" tanya Rita.


"Iya, sudah mabuk, mabuk asmara," jawab Hendry sambil menelan tawa. "Hen, uang itu kebanyakan, kamu simpan aza, yah," pinta Rita lagi. "Yakin kamu ga mau menerima?" tanya Hendry. "Yakin seyakin-yakinnya," jawabnya tegas.

__ADS_1


Hendry mendekat mencium paksa Rita secara brutal. Rita berusaha melawan lagi-lagi gagal. Rita terus meronta, tapi tangan kekar itu tak bisa ia elak. Tangannya menangkap bola kenyal milik Rita, namun Rita memberontak. Kedua bola itu, ia remas-remas, semakin ia remas ia semakin ketagihan.


Rita menahan rasa sakit akibat tingkah brutalnya. Walau sakit, tapi kedua pentilnya mengeras berwarna kemerahan.


"Kamu yakin ga mau ambil uang itu?" Hendry melepaskannya dan sekali lagi memberinya kesempatan. "Ga usah, Hen, aku iklas kok," tolak Rita menahan perih di ***********.


Hendry mengulangi lagi menghukumnya. Rita berusaha keras lepas dari dia. "Kamu masih ga mau menerima, Ta?" tanya Hendry berbisik ditelinganya. "Ya, aku terima, puass?" tanya Rita geram, lalu bangkit dari kursi. Tapi Hendry segera menarik tangannya.


Ia jatuh lagi kepangkuan Hendry. Ia memeluknya. "Maaf ya, Ta," ucapnya seraya membelai rambut hitam Rita. Hendry mengecupnya dengan lembut, tidak seperti tadi sangat brutal dan kasar padanya.


Ia tak tega melihat Rita tidur dalam posisi duduk seperti itu. Ia menggendongnya ke kamarnya. Hendry berbaring di samping Rita, memperhatikannya tidur. Ia dengan setia menunggui Rita di sampingnya.


"Ta ... Ta ... bangun, sudah malam, kamu nginap atau mau pulang?" bisik Hendry pelan sambil memegang tangannya. Rita terbangun dari tidurnya.


"Aku ketiduran, ya?" tanya Rita bingung. Aku yang bawa kamu ke sini, tadi kamu ketiduran gara-gara aku peluk," jawab Hendry kalem.

__ADS_1


"Tidur ya disini, Ta," tatapan Hendry genit dan semakin merapatkan tubuhnya pada Rita. " Aku mau pulang, sudah malam, Hen," tolak Rita sambil bangkit dari ranjang Hendry.


Namun, Hendry menariknya, ia jatuh lagi tepat terduduk di atas paha Hendry. "Ta, kita nikah ya?" pinta Hendry. "Mama ingin segera menimang cucu," mohon Hendry lagi.


"Hen, aku pulang sudah larut, nanti Ortuku ngomel," ujar Rita sambil meninggalkannya sendiri duduk di ranjangnya.


Ia bangkit dan berlari mengejar Rita. Namun, Rita sudah kabur ke luar pintu."Ta, tunggu ... Rita ..." panggil Hendry tapi Rita mengabaikannya. Hendry mengejarnya lagi. "Ta, Ta, Rita," Hendry terus memanggilnya di balik pintu namun tak dihiraukannya.


Hendry mencoba mengirim pesan namun tak digubris. Menelepon tapi juga tidak diangkat. Ia mengirim pesan suara. "Ta, aku tahu, kamu marahkan sama aku, maaf ya ,Ta," ucapnya memelas.


"Aku terlalu kasar tadi, kamu kesakitan, Ta," ujarnya lagi. Namun, Rita tak peduli padanya. Rita ke kamar dan mengurut *********** lalu mengompresnya dengan air hangat.


Esoknya Hendry mengetok pintu Rita, tapi tidak ada yang membukanya. Hendry meneleponnya juga sia-sia. Pada siang harinya, ia datang lagi ke rumahnya dan Pak Dominggus membukakannya pintu.


"Pak, boleh saya ketemu Rita," ijin Hendry. "Boleh, nak, Rita dikamarnya," ujar Pak Dominggus lagi.

__ADS_1


__ADS_2