
"Waktunya pulang ..." celoteh Desy sambil bersorak riang. "Kamu kenapa, Des," tanya Hendry menggodanya. "Senanglah, pulanggg ..." balasnya dengan senyum dikulum. "Kita juga tahu mau pulang, Des," nyiyir Hendry. "Iya, iya, iya, dasar ... dikit- dikit dikomplen," cibir Desy. Hendry hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Desy, mirip anak kecil dikasih permen.
Desy pun menjauhi mereka dan pulang dengan mobil milik cafe. Rumah Desy jaraknya paling jauh dengan tempat kerja mereka. Jadi, dialah yang setiap hari membawa mobil datang dan pergi. Menjemput dan mengantar Sekar dan karyawan yang searah dengannya.
Rita dan Hendry juga dalam perjalanan pulang bersama. Mereka berjalan berdua, bercengkrama tentang dunia ...
"Ta, nanti malam, aku jemput, yah," ajak Hendry. "Okay, aku tunggu," sahut Rita. "Tapi, jangan makan di rumah ya, Ta. Awas kalau kamu bohong," ancam Hendry. "Siap, boss," guyon Rita sambil memberi hormat. "Bukan apa, Ta. Nanti, kalau aku aza yang makan sendirian, kan ga seru ..." rengek Hendry. "Iya, aku pasti cuma liatin aza kamu makan, ha ... ha ... ha ...," Rita berkelakar sembari tertawa.
__ADS_1
"Da, sampai ketemu nanti malam, darling," ucap Hendry. Rita membelalakkan mata mendengar ucapan Hendry. Ia pun masuk ke rumah.
Rita mandi dan berbaring sejenak, meluruskan seluruh tubuhnya yang sudah lemas. Beberapa lama kemudian, ponselnya berdering ... Hendry sudah menunggu di depan rumahnya. Ia turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke rumah Rita. Dan segera di persilahkan masuk oleh Pak Dominggus.
"Selamat malam Om, Tante ..., saya ijin mau ajak Rita makan di luar. Om Tante sudah makan malam, nanti saya sekalian bungkus ya," Hendry menawarkan Orangtua Rita makan malam. "Om dan Tante sudah kenyang, nak," ucap Pak Dominggus menolak tawaran Hendry.
"Pa, Ma, Rita keluar ya," pamit Rita. "Ya, jangan pulang kemalaman," Ibu Anna mengingatkan keduanya. "Ya, Ma, da ..." balas Rita di kejauhan.
__ADS_1
Lalu mobil berhenti di "Cafe Natural". "Yuk, masuk," Hendry menggandeng Rita kedalam cafe. Melihat suasana cafe penuh sesak. "Kita meleseh lagi ya, Ta," Hendry meminta usul. "Boleh, siapa takut," sahut Rita.
Pelayan mendatangi mereka seraya menyerahkan buku menu. "Kak, saya mau udang goreng saos mentega, cah asparagus, sop jagung seafood, jus jeruk dan air putih masing-masing 2 gelas." Hendry mengembalikan buku menu setelah memilih beberapa menu. "Iya, Pak ditunggu, yah," ucap pelayannya ramah. Sambil menunggu hidangan tiba, Hendry singgah di "Pojok oleh-oleh" membeli beberapa cemilan. "Ta, nih buka, sambil nunggu," ujar Hendry menyerahkan kantong besar berisi aneka cemilan didalamnya.
"Ta, besok malam Minggu, kita mau kemana lagi," tanya Hendry meminta saran Rita. "Hen, dirumah aza," ujar Rita. "Sejak pulang, kamu jarang kumpul sama Ortumu, kasihan mereka." Rita mengingatkan Hendry karena lebih sering menemani Rita. "Benar juga, makasih ya, Ta. Sudah memgingatkan," balas Hendry seraya mengelus-elus punggung tangan Rita.
"Permisi Pak, Bu," waitress menyajikan hidangan di atas meja mereka. "Selamat menikmati," ucapnya lalu meninggalkan mereka.
__ADS_1
Mereka menikmati hidangan dengan lahap, Hendry dan Rita yang sudah kelaparan karena menunggu terlalu lama.
Cafe ini lumayan ramai, meja dan kursi sudah penuh semua, yang tersisa hanya tempat meleseh, jadi mau tak mau mereka tak punya pilihan, duduk melantai, juga nikmat apalagi ditemani orang tersayang.