Menikahi Pria Pilihan Orang Tua

Menikahi Pria Pilihan Orang Tua
Tidak Ada Pilihan


__ADS_3

Rita masih diam dan tidak acuh pada Hendry. "Aku mau pulang," ucap Rita sambil menyeka air mata. Hendry segera mengantarnya pulang. Sesampai dirumah, ia segera masuk ke kamarnya mengunci diri di dalam sana. Rita baru saja ingin mengemasi pakaiannya dan pulang ke kota X. Tapi ... Tunggu dulu, Rita baru ingat, ketika ia ke sini, tidak membawa apapun bahkan uang sepeserpun tidak ia kantongi.


Rita ingin menelepon Desy dan Sekar, meminta sohibnya mentransfer sejumlah uang untuknya, namun lagi-lagi ia baru menyadari, ponsel bahkan kartu kredit pun masih di dompetnya. "Aduh, gimana ini?" batinnya dihati. Rita hanya bisa duduk kebingungan di kamarnya.


Tok ... tok ... tok ...


"Ta, aku masuk ya?" Hendry menyapa di depan pintu kamar Rita. Namun Rita tak menggubrisnya. Tapi ia harus mencari akal agar bisa keluar dari sini.


"Hen, aku minta uang, mau beli tiket," Ia menjulurkan tangannya meminta uang dari Hendry. Hendry meletakkan segepok uang kertas di tangan Rita. "Kamu pakai sesukamu, tapi jangan pergi dari sini tanpa seijin aku!" ucap Hendry tegas.

__ADS_1


Rita hanya bisa diam. Hendry menariknya duduk di balkon kamarnya yang lapang. Hendry menceritakan kisahnya dan Riani. Sama seperti yang disampaikan Raka kepadanya.


Hati Rita sedikit lega.Ternyata Hendry tidak pernah berbohong padanya. Ia pun meminta Hendry keluar, dia ingin istirahat katanya.


"Ta, aku memang pernah menyayanginya, tapi itu dulu." Hendry memberi penjelasan sekali lagi. "Kini, ia menyerahkan dirinya untuk orang lain," tambah Hendry. "Sekarang, aku telah menemukan tambatan hatiku, jodoh yang orangtuaku berikan, kamu, Ta," ujar Hendry pelan seraya memeluk Rita erat.


Hendry pun keluar dari kamar Rita, menutup pintu dan kembali mengecup keningnya. "Ta, selamat istirahat, sayang," bisiknya.


Ia mengetuk pintu kamarnya, ia masuk kedalam dan melihat Rita sedang tidur pulas. "Rita, bangun makan yuk," ajak Hendry sambil menepuk-nepuk tangannya. "Masih kenyang, Hen," jawab Rita pelan.

__ADS_1


Hendry turun dan membawakan makanan untuknya. "Ayo, bangun kita makan bersama, ayo ...," ajak Hendry. "Atau mau aku suapi?" tanya Hendry seraya tersenyum nakal.


Rita tak berani melawan Hendry, ia segera menghabiskan semua makanan dari Hendry. Daripada nanti ia bertindak brutal.


"Hen, belikan aku tiket ya? Aku mau pulang. Bosan, di sini nganggur," keluh Rita. "Temani aku ya, setelah seminggu aku janji antar kamu pulang."


"Ga usah antar, aku bisa sendiri," Rita menolak niat baik Hendry. "Wanita ga baik pergi sendirian. Tapi terserah sih, kalau ga mau aku antar pulang, ya kamu tetap di sini aza, okay," sahut Hendry enteng.


Rita terpaksa mengiyakannya daripada tinggal disini, aduh ... bosan ... "Besok kita holiday ke mana, Ta?" Hendry meminta usul kepada Rita. "Di rumah aza," jawabnya enteng. Hendry mengabaikan penolakannya dan tetap pada pendiriannya.

__ADS_1


"Kamu belum mandi? Mandi sana, atau aku temani?" Mendengar itu Rita segera berlari ke kamar mandi. "Ha ... ha ... ha ...," Hendry tertawa dalam hati. "Rita ... Rita ...," ujar Hendry geleng-geleng kepala melihat tingkahnya yang kekanakan. Tetapi sifat Rita inilah yang membuat Hendry jatuh hati padanya.


__ADS_2