Menikahi Pria Pilihan Orang Tua

Menikahi Pria Pilihan Orang Tua
Menantu Idaman


__ADS_3

"Hen, sudah selesai mengisi kampung tengah, lalu gimana?" tanya Rita meledek. "Kamu mau beli apa buat Om Tante, Ta?" tanya Hendry seraya mengelap bibirnya. "Jangan, Hen. Mereka sudah kenyang," tolak Rita.


"Kak," Hendry memanggil waitress dan menyerahkan sejumlah uang. "Terima kasih Pak, Bu," ucap waitress itu ramah.


Mereka pun beranjak dari alas duduk tikar dan Rita tak lupa menenteng kantong berisi cemilan dari atas meja. Diperjalanan pulang, Hendry berhenti lagi di toko kue langganannya. "Ta, turun," ajak Hendry sambil membukakan pintu untuknya. "Kamu pilih kue buat Om dan Tante," katanya sambil berjalan ke arah pojok.


Hendry memasukkan beberapa botol minuman beralkohol kekeranjangnya dan keranjang lain berisi kue.


Sedangkan Rita hanya mengambil 2 buah Roti isi selai srikaya. "Sudah, Ta?" tanya Hendry. Ia menyerahkan 2 buah roti tadi. "Rita ... yang benar aza kamu? Hanya 2 biji?" tanya Hendry tercengang. "Rita ... ambil lagi yah, segini ga cukup ,Ta ... " cibir Hendry. Lalu dia sendiri pergi mengambil kue yang sama, ia genapkan 10 buah. Ia geleng-geleng kepala melihat tingkah Rita.

__ADS_1


Hendry ke arah kasir lalu mereka keluar dengan membawa beberapa kantong kresek. Rita membukakan pintu mobil untuk Hendry yang kedua tangannya sedang memegang kantong.


Belasan menit perjalanan, mereka pun tiba di depan rumah Rita. "Ta, kamu turun dulu. Ini ... kamu bawa untuk Om Tante," Hendry menyerahkan roti tadi. "Hen, kebanyakan, kamu bawa juga, ya?" Rita menolaknya. "Jangan protes, ini perintah," kecam Hendry. Rita menyiyir sembari berjalan masuk ke rumahnya.


Hendry meninggalkannya, segera memarkirkan mobilnya ke pojok pagar, ia pun masuk dan meletakkan kantongnya di atas meja di ruang makan rumahnya.


"Pa, Ma sudah tidur belum?" tanya Hendry sambil mengetuk pintu kamarnya orangtuanya. "Hen, sudah pulang? Rita mana, Hen?" tanya mamanya mencari-cari Rita.


"Hen, selama kamu di sana, Rita setiap hari membawakan Mama masakan juga kue serta cemilan. Mama hanya masak nasi aza. Waktu Mama mengembalikan rantangnya, Mama selipkan sedikit uang tapi ia kembalikan. Mama ga enak sama Rita, Hen," ucap Bu Martina.

__ADS_1


"Ma, nanti Hendry akan cari cara ya, biar Rita bisa menerima uang Hendry, okay," sahut Hendry menenangkan hati ibunya.


"Hen, Rita anak baik. Ia sering menyempatkan waktu mengunjungi kami. Hen, kapan kalian menikah?" tanya Bu Martina ingin tahu. "Rita selalu jawab belum siap, Ma," balas Hendry. "Jangan lama ya, Mama sudah tak sabar ingin menggendong cucu. "Rita itu calon istri idaman," celoteh ibunya. "Nanti keburu diambil orang, lho," tambah ibunya.


"Iya, Ma. Nanti kita bikin ya, Ma" gurau Hendry. "Kamu tuh, kalau diajak ngomong ga pernah serius," ngomel Bu Martina sambil pergi ke kamarnya. "Ma, Hendry jemput Rita, ya " pamit Hendry. "Iya ..." jawab beliau dari kamarnya.


Dirumah Rita, ia sedang merapikan kue dan cemilan yang tadi siang dan baru saja dibelikan Hendry. "Hendry, dasar boros, kue tadi siang aza belum habis, malam lanjut lagi, aduh ..." gerutu Rita.


Tok ... tok ... tok ...

__ADS_1


"Iya ... iya ... " sahut Rita sembari melangkah ke arah pintu. "Lagi sibuk, Ta," tanya Hendry seolah tak berdosa. "Sibuk ... tuh menata cemilan dan kue semeja ..." nyiyir Rita dengan kalem. "Banyak ya, Ta," jawabnya tak menyadari ulahnya.


"Kan kamu yang beli, Hen," sahut Rita. Hendry kebingungan dengan sikap Rita padanya. Akhirnya, ia sadar itu semua ulahnya. Ha ... ha ... ha ...


__ADS_2