Menikahi Pria Pilihan Orang Tua

Menikahi Pria Pilihan Orang Tua
Sosok Misterius


__ADS_3

"Ta, nanti sore ada orderan nasi tumpeng ultah porsi gede dan 50 box nasi kuning dan rombongannya. "Baguslah, yuk kita siapkan bahannya sekarang," ajak Rita penuh semangat. "Sudah tinggal diolah, say. Kemarin sore aku belanja," ujar Desy seraya membuka pintu kulkas berwarna hitam itu dan mengeluarkan semua isinya.


Sepert biasa, mereka membagi tugas Rita meracik bumbu sambal, Desy menyiangi dan mencuci sayur-mayur, Ria tampak asyik memotong kacang panjang, sedang Nina keluar membeli box nasi yang kebetulan stok mereka sudah kosong.


Sekembalinya Rita, mereka kembali bergejolak. Seperti mendapatkan kembali sesuatu yang telah hilang. Mereka sangat bergairah dalam berkarya.


Siang yang terik menyengat itu, seorang pria berperawakan tinggi, berkulit bening, bermasker juga memakai topi matching dengan warna yang senada dengan jaket hitamnya. Mirip selebritis Korea, tetapi juga hampir menyerupai mafia.


Ia menarik pintu kaca, kemudian melangkah masuk ke dalam. Nina yang baru saja masuk, segera menghampirinya. "Siang pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Nina jelas. "Maaf, saya hanya mau dilayani oleh Rita," sahutnya tegas. "Baik, silahkan tunggu sebentar ya," jawab Nina lalu pergi meninggalkannya customer misterius itu.


Sepeninggal Nina, Hendry tertawa terbahak-bahak. Sekar ternyata juga dari tadi memperhatikan sosok misterius itu.

__ADS_1


"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Rita berdiri disampingnya. Ia melihat sekilas buku menu. "Saya mau cah asparagus, ayam goreng lengkuas, cumi crispi, dan sop jagung." Ucapnya seraya mengembalikan buku menu pada Rita.


"Mohon ditunggu ya, Pak. Kami akan segera memprosesnya," Rita segera meninggalkannya Hendry yang masih rapi menyembunyikan identitasnya.


Ia kemudian memasak semua menu orderan Hendry. Sembari memasak, ia menebak-nebak. "Kenapa seleranya mirip dengan Hendry," bisiknya dalam hati. "Akh ... mungkin kebetulan," ia menjawab sendiri pertanyaannya.


Desy melihatnya bingung, menghampirinya dan menepuknya, menyadarkannya dari kebingungannya.


"Ya, Des, tapi dia sibuk katanya," sahut Rita meyakinkan Desy. "Tapi ... bisa saja ia hendak memberimu surprise," tebak Desy lagi. "Des, kita ngeprank dia yuk, biar tahu rasa dia," ujar Rita sudah tidak sabaran.


Selesai sudah semua masakannya kini mereka mengantarnya kepada para customer. Usai menata semua makanan diatas meja, Rita pun mengambil hape dari tasnya. Desy sengaja miss call di hape Rita.

__ADS_1


Mereka berbuat seolah benar Rita selingkuh. Hendry awalnya tak acuh pada gadis-gadis itu, tapi lama kelamaan, ia termakan api cemburu. Ia bangkit dari kursinya, merebut ponsel Rita dari tangangnya.


Wajahnya cemburu menatap Rita dalam-dalam. Rita senyum lalu menariknya kembali duduk dikursi. Tak sempat mengeluarkan sepatah katapun, ia dilayani Rita dengan sabar.


Hingga emosinya sempat memuncak itu hilang entah kemana. Dalam sekejap, ia sepeeti hilang ingatan dengan kejadian tadi. Ia terus mencicipi semua masakan Rita hingga habis.


Desy datang dan membereskan meja yang baru saja ditinggalkan Hendry untuk ke wc. Mereka tertawa puas karena berhasil membuka kedok sang mafia itu.


" Makanya, jangan nyamar jadi mafia, Hen. Feeling wanita itu kuat lho," celoteh Desy sambil merapikan meja tadi.


Hendry mengaku kalah, diam dan mengabaikan kedua gadis itu. Sekar pun tertawa terbahak-bahak melihat sifat mereka bak anak kecil yang sedang bertengkar.

__ADS_1


__ADS_2