
Rita diajak ke ruang ganti dan taraaa ... "Hen, bagaimana gaunnya, cantik? Pretty memancing reaksinya di dampingi Gita karyawannya yang nanti bertugas untuk memilihkan gaun yang akan dikenakan Rita sewaktu sesi pemotretan didalam maupun luar ruangan.
Hendry berjalan kearah Rita, Ia diam tak bersuara memandangi gaun pink tersebut. Sesekali memandang wajah Rita. Ia terbuai dalam lamunan. Menghayal andai benar hari itu tiba ...
Melihat Hendry tak bereaksi, Rita pun menyadarkannya dari lamunannya. "Hen, bagaimana menurutmu?"Tanya Rita meminta komentar. "Cantik sempurna," jawabnya ketika ia sadar dari lamunan seolah terhipnotis oleh Rita.
"Gita, langsung dimake over ya," tambah Hendry. "Okay, siap", sahutnya. "Langsung pemotretan indoor, ya?" tanya Gita. "Hen?" Rita terheran-heran karena Hendry plin-plan.
Kini Rita dihandle oleh Pretty sedangkan urusan gaun tadi ditangani oleh Gita. Hendry berjalan kearah fitting room. Ia berjalan keluar dengan mengenakan tuxedo hitamnya, penampilannya sangat gagah. Mereka pasangan yang sangat ideal, pihak lelaki ganteng dan gagah sedangkan pasangannya cantik mempesona.
Wajah Rita kini dimake over oleh Pretty. Hendry duduk menunggu di sofa yang tak jauh dari meja tempat mereka berdandan. Pria itu mencuri-curi memandangi Rita yang sedang dirias oleh Pretty.
Namun, Rita dari jauh sudah melihat gerak-gerik pria itu dari cermin di meja rias di hadapannya.
Kini, mereka bertukar tempat duduk. Hendry sekarang duduk di depan meja rias untuk dipoles tipis, agar nanti ketika sesi pemotretan wajahnya bisa menyeimbangi wajah Sang pengantin.
Hendry masih saja menatap wajah cantik milik Rita. "Rita, kamu benar-benar cantik," batin Hendry dari seberang meja rias sana.
__ADS_1
"Hen, pilihanmu ga pernah salah, ya?" gurau Pretty. Temannya ketika mengenyam bangku SMU. Hendry hanya menjawabnya dengan senyum.
Hendry tak bosan-bosannya memandang wajah Rita yang benar-benar cantik maksimal pada hari itu. "Okay, kelar," ujar Pretty puas dengan polesannya pada pasangan kekasih itu.
"Heru, kenalkan Ini Hendry dan Rita, targetmu selanjutnya," guyon Pretty. "Okay, aku tinggal ya, Hen dan Rita, kalian nanti siap-siap diarahin sama Heru," Pretty pamit melanjutkan urusan lainnya.
"Hi, Hendry, Rita, aku Heru, senang bertemu dengan kalian," sapa Heru akrab. "Nanti, mohon maaf nih, kalian harus ikuti arahan aku, ya," pesan Heru santai. "Aku sebagai produser dan kalianlah tokohnya, hanya sesimple itu kok, ha ... ha ... ha ...," canda Heru untuk mendinginkan suasana yang agak-agak tegang.
"Ok, ikuti arahanku ya, guys," saran Heru. "Sekarang kalian saling hadap-hadapan, Hendry cium kening Rita," Heru mengarahkan mereka. Hendry pun maju menatap Rita, Ia gugup dan canggung menghadapi pasangannya. Tubuhnya dingin membeku. "Ntah kesambet apa dia?"
Hendry pun segera melaksanakan arahan Heru mengecup kening Rita dengan penuh cinta. Pelan tapi pasti, Ia bisa menguasai situasi dengan baik. "Hen, ekspresinya kurang," Heru komplen dengan gelagat Hendry yang kaku dan tidak lincah. "Santai aza bro ...," godanya.
"Okay, kalau adegan ini sih, prakteknya sudah sering ya, Hen?" kelakar Heru menghangati suasana yang sedang dingin membeku. Tapi bukan tentang cuaca saat itu. Cuaca hari itu sangatlah panas, hanya hatilah yang sedikit membeku, ha ... ha ...
Berbagai pose, berbagai gaun maupun tuxedo, berikut riasan sudah mereka pakai dan praktekkan. Untuk kelak mereka jadikan kenangan pra nikah yang akan diabadikan untuk dipersembahkan lagi, diperlihatkan lagi untuk anak cucunya.
Berbagai cerita indah yang akan dirangkum didalam suatu album. Yang kelak akan menjadi saksi bisu cinta mereka.
__ADS_1
Hari pun sudah senja dan selesailah sudah sesi pemotretan indoor mereka. "Huff, pusing, Preettt," keluh Hendry pada Pretty yang sedang asyik membuka pernak-pernik di rambut Rita.
"Rasain, siapa yang suruh kamu nikah? Bayar mahal-mahal, wajah dipoles-poles, diatur-atur lagi, cape deh," oceh Pretty yang membuat semua orang diruangan tertawa riuh.
"Hen, itulah konsekuensinya," ujar Pretty. "Makanya, dari awal hingga akhir, semuanya penuh perjuangan. Mengingatkan kita harus senantiasa menjunjung tinggi makna pernikahan yang sesungguhnya." Nasehat Pretty yang mirip emak-emak.
"Bukan seperti mau buang, lha tinggal buang aza, terus kalau butuh, tinggal dipungut," tambah Pretty memberi petuah yang masuk akal kepada Hendry dan Rita.
"Pernikahan itu adalah ibadah yang kita lakukan seumur hidup. Kita harus mencintai orang yang sama hingga maut memisahkan, betul ga?" tanya Pretty mengejutkan mereka semua yang sedang beraktivitas diruangan make-upnya.
"Prettt, kau macam emak-emak aza," ledek Hendry. "Udah pusing kena kau poles-poles, tambah pusing lagi kena kau omel-omel, Prettt," celoteh Hendry kepada teman sekelasnya itu.
"Hen, aku menasehatimu agar kamu jangan seperti diriku," curhatnya kini dengan nada sedikit pilu. "Kenapa Preett?" tanya Hendry mulai serius. Rita juga kian penasaran dengan wanita cantik yang tadinya nyentrik, kini berubah melow.
"Aku sudah pisah dengan Miko, 2 tahun yang lalu. Saat aku mengandung Johan, Miko selingkuh dengan Asisten Rumah Tangga kami. Awalnya aku ga menaruh curiga sedikitpun. Hingga suatu hari, ketika aku pulang dari luar kota. Aku merasa di kamar aku seperti ada sesuatu yang mencurigakan. Lalu akupun masuk dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Ayah dari anak aku, mengkhianatiku. Aku benar-benar kecewa, apalagi kondisiku saat itu sedang hamil muda. Aku menangis sepuas-puasnya. Aku dihadapkan pada 2 pilihan, pertama bertahan namun sakit hati, kedua bubar meski menyandang status janda beranak satu, tetapi bahagia." Pretty bercerita panjang lebar tentang kisahnya.
"Namun, belum selesai lho, Hen," ucapnya lirih. Aku harus susah payah membesarkan anakku sendiri. Jadi orangtua tunggal tidak mudah. Pernah, aku sampai ga ad uang untuk bayar uang sekolah Johan, sedih aku, Hen," Pretty curhat hingga air matanya menetes di baju Rita.
__ADS_1
"Rita, maaf ya, aku terbawa emosi, air mata ini sialan," guyonnya sambil tertawa kecil dengan mata sembabnya yang memerah.
"Ga apa-apa Pret, santai aza," balas Rita sembari menepuk-nepuk tangan Pretty untuk menghiburnya.