Menikahi Pria Pilihan Orang Tua

Menikahi Pria Pilihan Orang Tua
Nafsu Sesaat


__ADS_3

Hendry tak berani melakukannya dengan kasar. Ia membelai lembut kedua bola kenyal itu. Rita sudah tak berdaya, semakin mendesah. Hendry menggendong tubuh langsing miliknya, meletakkannya di atas ranjang.


Hendry terus-menerus memberikan cumbuan panasnya. Rita sudah hampir kehilangan kesadaran. Membuka atasan coklat yang Rita kenakan dan dalam sekejap bra hitam yang Hendry pilihkan untuknya lepas dari kedua bola kenyalnya. Hendry terpana menatap bola-bola pengundang syahwat itu.


"Rita, payudaramu apa masih sakit?" tanyanya seraya meraba pentilnya yang sudah memerah akibat rangsangan secara bergantian.


"Sudah tidak sakit lagi. Aku mohon, lepaskan aku, Hen. Aku belum siap," mohon Rita. Namun Hendry tak perduli, ia terus meraba dan memainkan ****** indah milik Rita.


Rita terangsang oleh setiap sentuhan Hendry yang semakin menjadi-jadi. "Hen, sudah, berhenti!" pinta Rita memelas padanya. "Rita kita menikah ya, hari ini serahkan semua untukku, ya?" mohon Hendry yang kesekian kalinya.

__ADS_1


"Aku belum siap, Hen. Maaf," tolak Rita sambil menangis. "Ta, kapan kamu siap?" tanya Hendry jengkel. "Setelah kita menikah," sahutnya lantang. "Okay, kita segera menikah, secepatnya!" tantang Hendry. Mata Rita sembab berkaca-kaca. Hendry tak tega melihat Rita menangis. Hendry sadar tindakkannya yang membabi-buta membuat Rita ketakutan.


Ia memungut bra berwarna hitam milik Rita beserta baju atasan yang tadi ia buka paksa. "Maaf, Ta," ucapnya terbata-bata seraya membantu Rita mengenakan bra dan bajunya tersebut.


"Aku cape, mau istirahat," ujarnya seraya memalingkan wajah. "Maaf, Ta. Aku khilaf ," Hendry memohon maaf untuk kesekian kalinya atas perlakuannya tadi. Ia lalu keluar dari kamar Rita.


Rita merasa lelah dan kantuk yang luar biasa. Ia segera merebahkan diri di ranjangnya. Dan besok, ia akan memaksa Hendry membelikan tiket pulang untuknya. Jika tidak ia akan membatalkan perjodohan mereka.


Tok ... tok ... tok ...

__ADS_1


"Pagi ... Ta, sarapan yuk," ajaknya santai. Mendengar suara Hendry, Rita segera keluar, dan bersiap-siap dengan rencananya.


"Pagi, Hen," sapa Rita. "Aku mau pulang hari ini, belikan aku tiket untuk hari ini. Kamu ga perlu mengantarku, aku bisa sendiri," katanya tegas.


"Bila kamu menolak, maka batalkan saja pernikahan kita," ancam Rita. Namun, Hendry juga tak bisa diremahkan. Ia juga punya strategi yang tak kalah jitu.


"Ta, ini vidio kita semalam, sangat romantis dan hot," ancam Hendry tak mau kalah. Wajah Rita merah merona, menahan malu. Ia hanya bisa diam mengakui kehebatan Hendry.


"Gimana, Ta, jadi pulang hari ini?" tanya Hendry memancingnya. "Ya, aku pulang ya, Hen," ujar Rita tegas. Lain kali aku datang lagi, kita liburan bersama ya, Hen," bujuk Rita agar menyetujuinya pulang.

__ADS_1


"Ta, stay beberapa hari lagi ya, please!" rayu Hendry manja. "Aku janji ga akan ganggu kamu lagi, ya," Hendry memohon rayu Rita supaya dia berubah pikiran. Namun sayang, Rita keukeh pada pendiriannya, ia akan tetap pulang hari ini juga.


"Ta, ok, kamu boleh pulang. Tapi ... besok ya, aku serahkan tugas ke Raka, terus aku antar kamu pulang," pinta Hendry. "Ga apa-apa, aku bisa sendiri kok," sahutnya kalem. "Aku ikut, ya ... kalau ga diijinkan berarti kamu stay disini temani aku, okay" Hendry lagi-lagi mengancamnya agar tak melawannya


__ADS_2