Menikahi Pria Pilihan Orang Tua

Menikahi Pria Pilihan Orang Tua
Ke Studio Photo


__ADS_3

Siang yang cerah dan semangkok soto Betawi yang maknyos. Selanjutnya, Hendry dan Rita akan keluar seperti yang Hendry janjikan padanya.


Hendry mencari topik pembicaraan, menghangatkan suasana siang yang sedikit sudah berubah mendung itu. "Kita cari buah tangan untuk mereka ya, Ta?" saran Hendry secara langsung membelok mobilnya sebelum merapat menepi.


"Rita, kamu pilih aza, sebentar aku ambil troli dulu," pamit Hendry dan menjauh dari Rita. Rita berjalan mengamati sekeliling, memperhatikan makanan yang terbungkus rapi berjajar di rak-rak besi, juga ada beberapa jajanan tradisional dalam kondisi di frozen.


Rita tak memilih frozen food biar ga ribet dibawa. Ia memilih yang simple. Hendry sudah disampingnya mendorong troli. "Disini rupanya," biisiknya.


"Hen, belikan Ortumu apa?" tanya Rita bingung. "Mama suka dodol papa juga," Rita berjalan kearah rak khusus dodol, mengambil beberapa kotak dodol ketan memasukkannya ke troli.

__ADS_1


"Ortumu suka apa, Ta? Tanya Hendry tak mau kalah saing. "Aku ambil krupuk aza buat Ortuku," sahut Rita. Hendry membongkar troli, Rita cuma meletakkan sekotak krupuk saja. "Rita ... Rita ..." sebut Hendry sambil geleng-geleng kepala. "Kenapa Hen?" tanya Rita penasaran.


"Kamu hanya ambil 1 kotak? Mana cukup, Ta?" keluh Hendry masih geleng-geleng kepala. "Kamu kenapa begitu hemat, malah mengarah ke pelit, Ta," komplen Hendry sedikit geram.


Rita pun tak tinggal diam dengan celoteh Hendry. "Hen, sekarang ini resesi. Kita harus menghemat semua pengeluaran. Memangnya, harus ya, makan sampai kenyang, sampai puas gitu? Cari duit itu susah lho, menghabiskannya sebentar," ngomel Rita. "Dan lagi, apa baik untuk kesehatan, makan berlebihan, apalagi gorengan, itu hanya menumpuk kolestrol, Hen," ujarnya panjang lebar.


Hendry pun hanya bisa diam. "Tapi tambah sekotak lagi ya krupuknya?" ucap Hendry seraya memasukkan 2 kotak lagi krupuk mentah seperti yang tadi Rita ambil tadi.


Wanita ini tegas dan berwibawa. Walau ia tahu, aku hidup berkecukupan, tapi ia tak seperti Riani. Hanya menguras isi dompetku saja. Barang yang Riani pilih semuanya branded agar terkesan stylish dan glamour.

__ADS_1


Rita ... gadis ini selalu sukses mencuri hati Hendry. Kepribadiannya yang mandiri, pekerja keras, hemat, juga cantik. Tak heran, Papa dan Mama menjodohkannya padaku. Gadis yang cukup berkarakter. "Aku akan memilikimu seutuhnya, Rita." Bisik Hendry dalam hati kecilnya.


"Aku ke kasir dulu," Hendry meninggalkannya sembari mendorong troli belanjaannya. Beruntung hari ini antrian ga panjang, jadi mereka bisa segera pergi.


Setelah puas memilih oleh-oleh, mereka naik lagi ke mobil. Hendry akan membawa Rita ke studio photo. Melihat gaun dan tuxedo yang akan mereka kenakan ketika photo prewedding nanti.


"Studio Photo?" sungut Rita ketika Hendry menghentikan mobilnya di depan studio. "Untuk apa, Hen?" tanyanya lagi. " "Kita lihat gaun", ucapnya singkat. "Masih awal, Hen," ucap Rita jengkel.


"Kita lihat-lihat aza," lanjut Hendry. "Terserah." Rita tak berdaya lagi didesak oleh Hendry. "Maunya menang sendiri", ngomel Rita dalam hati.

__ADS_1


Hendry selalu punya cara memuaskan hasratnya. "Ta, foto indoor aza sekalian, yah," pinta Hendry tak sabar. "Coba yang ini, kak," kata Hendry seraya memberikan gaun warna pink pada karyawan studio " Wish".


__ADS_2