
Hendry tiba kota Y, ia sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Ia tak lupa mengabari orangtuanya juga Rita. Tetapi, Rita tidak memperhatikan ponselnya. Rita sibuk mengolah masakan catering orderan custumer setianya.
Setiba di huniannya, sebuah rumah mewah di kawasan elit di kotanya itu. Rumah yang megah dan dirancang oleh arsitektur dengan nuansa modern itu sudah ia tinggalkan sekitar puluhan hari.
Demi untuk membunuh rasa penasaran yang berkecamuk di dada. Dan kenyataannya ternyata tidak semenakutkan seperti yang ia bayangkan sebelumnya.
Setelah selesai mengepak semua masakannya di box-box karton yang sudah di siapkan sebelumnya, mereka pun mengantarkan ke rumah customer.
Rita menyetir mobil ke alamat tujuan, Desy dan Nina, karyawannya berangkat bersamanya.
Setiba di sana, mereka dengan cekatan menurunkan semua box berisi nasi uduk dan kawan-kawannya yang total berjumlah 700 box. Mereka menyusunnya rapi di atas meja yang telah di siapkan oleh tuan rumah.
Mereka lanjut ke rumah customer berikutnya, dengan orderan nasi box berjumlah 500 box. Mereka sangat menikmati pekerjaannya hingga lupa waktu.
Hari sudah senja, ketika kembali ke cafe, mereka sedang berbenah bersiap untuk kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat.
Setiba di rumah, Rita mandi dan beristirahat. Ia berbaring sejenak meluruskan tubuh yang penat setelah seharian beraktivitas.
Ia mengambil ponselnya di tas, tampak sederet panggilan dan chat dari Hendry, tak terhitung jumlahnya. "Gawat ... pasti di omelin," batin Rita.
__ADS_1
Ia pun membalas chat Hendry, mulai mengetik di aplikasi Whats Appnya.
"Malam, Hen," Rita mulai dengan menyapa Hendry seolah tak terjadi apa-apa.
"Malam, Ta. Kenapa baru balas pesanku?" tanya Hendry jengkel.
"Hari ini saya sibuk, banyak orderan catering di cafe jugs ramai, Hen. Sama sekali tidak dapat melirik hape." Rita memberi keterangan sesuai dengan keadaan sebenarnya.
"Sudah makan, Ta?" tanya Hendry menurunkan nada bicaranya.
"Sudah tadi, makan bersama mereka di cafe," sahut Rita lagi.
"Kita vidio call ya," ajak Hendry.
Namun, sama sekali tak Hendry gubris. Ia tetap melakukan vidio call. Rita serba, salah dibuatnya. Ponselnya berteriak terus- menerus minta diangkat.
Rita terpaksa mengangkat vicalnya, demi memuaskan keinginan Hendry jauh di seberang sana.
Hendry juga sedang berbaring di atas ranjangnya yang empuk. Melemaskan otot tubuhnya karena perjalanan panjang hari ini.
__ADS_1
Hendry tampak bahagia, karena Rita menuruti semua kemauannya.
"Ta, sedang apa?" tanya Hendry penasaran.
"Sedang baring, cape ...," jawab Rita yang matanya sudah tidak bisa diajak kerjasama namun masih bertahan demi menyelesaikan PeeRnya.
"Yuk, sini ... aku peluk biar hangat," guyon Hendry sembari ketawa kecil.
"Ga perlu ..." balas Rita ketus.
"Ta, kamu hari ini sexy ya?" goda Hendry lagi...
Rita baru sadar kalau ia mengenakan tanktop agak terbuka.
" Dasar mesum," balas Rita jengkel sembari berjalan ke balik pintu kamarnya. Tangannya bergerak menarik sehelai kain bali berumbai, menutup tubuhnya yang agak terbuka itu.
"Baru pulang ya, Ta?" tanya Hendry penasaran.
"Tadi jam 7 lewat baru sampai di rumah, mandi juga baring sebentar." Rita memberi penjelasan pada Hendry yang lagi menginterogasinya.
__ADS_1
Rita sedang sibuk mencoret-coret di buku bersampul biru itu. Hari ini gilirannya melakukan pembukuan.
Setiap hari sepulang kerja, baik Rita, Desy maupun Sekar bergiliran melakukan pembukuan. Adapun tujuan pembukuan ini adalah sebagai patokan untuk hari berikutnya. Bisa mengkalkulasi modal, pemasukan maupun keuntungan pada hari tersebut.