
"Hen, sudah gak sakit lagi kok daerah itu," Rita beralasan agar Hendry tak lagi risau. Sini creamnya biar aku olesi sendiri, ya," Rita menjulurkan tangannya supaya menyerahkan obat dari Toni.
Rita kuatir bila Hendry melihat kedua bola kenyal miliknya, tak bisa menahan nafsu dan kehilangan kontrol. "Sini Hen, biar aku yang mengobatinya sendiri," bujuk Rita sekali lagi, ia berusaha meyakinkan Hendry lagi. Hendry pun luluh dan menyerahkan botol cream pada Rita. "Makasih ya," goda Rita karena sudah sukses menaklukkan pria keras kepala itu.
"Boleh aku periksa sebentar, gunung kembar itu apa benar sudah baik-baik saja," goda Hendry lagi. "Hmm, mereka baik-baik saja, aman bos," guyon Rita kini lebih bertenaga dan lebih aktif. Kondisinya sudah fit walau wajahnya terlihat masih sedikit pucat.
"Ta, aku tinggal sebentar, ya," pamit Hendry sambil memegang kunci Rita. Rita mengangguk mengijinkannya. Ia meninggalkan kamar Rita.
__ADS_1
Rita kembali berbaring di ranjangnya. Sementara Hendry sedang berada di rumah makan favoritnya, sedang memesan nasi untuk mereka yang ia sayangi. Setelah pesanannya sudah di tangan, ia pun merogoh beberapa lembar Rupiah dan kembali mengemudikan mobilnya yang membawanya tiba ke rumah Rita.
Setiba di sana, ia segera memindahkan nasi ke piring dan membangunkan Rita yang sedang berbaring lelap memeluk bantal gulingnya.
"Rita, bangun ... makan yuk, sini aku suapin," bujuk Hendry lembut. "Masih kenyang, Hen. Aku ngantuk," tolak Rita seraya mendorong tangannya.
"Bangun, kalau kamu menolak aku suapin dengan mulut, mau?" ancam Hendry. "Ayo ... bangun," Hendry menggendongnya lalu menyandarkannya pada headboard. "Kamu makan yang banyak ya, Ta. Jangan buat aku kuatir, please!" mohon Hendry sambil menyuapi Rita sesuap demi sesuap nasi hingga sisa separuh di piringnya.
__ADS_1
"Ta, aku balik ke rumah sebentar aza, boleh ya," pamit Hendry. "Mau antar nasi ayam juga buat Ortu," tambah Hendry lagi. "Iya, boleh. Cepat sana, Hen, nanti mereka terlanjur masak atau beli di rumah makan sebelah, kan sayang ... ," sahut Rita cepat. "Nanti aku balik lagi," Hendry mengecup kening Rita dan turun ke bawah.
Di rumah Hendry, Papa dan Mamanya sedang duduk di ruang depan menonton siaran berita malam.
"Pa, Ma makan, yuk!" ajak Hendry sambil berjalan ke dapur mengambil piring serta membuka bungkusan nasi untuk Ortunya yang sudah duduk manis di meja makan.
"Rita udah sembuh, Hen?" tanya Bu Mariana menatap wajah Hendry. " Sudah, Ma. Tadi selera makannya sudah bagus," sahut Hendry. "Nanti, Papa sama Mama jenguk Rita ya, Hen?" tanya Mamanya. "Biar Hendry yang temani Rita, Ma. Mama di rumah aza, ya," pinta Hendry.
__ADS_1
"Mama sama Papa makan ya, Hendry tinggal dulu. Mau kembali ke rumah Rita," pamit Hendry. "Salam buat Rita ya, Hen," ujar sang Ibu menitipkan pesannya. "Ya, Ma," jawab Hendry sambil memakai alas kakinya dan menutup pintu rumah. Lanjut menutup pintu pagarnya dan pergi ke rumah Rita.
Ketika ia masuk, Ortu Rita sudah berada di rumah. "Om, Tante itu nasinya dimakan ya, keburu dingin," sahut Hendry.