Menikahi Pria Pilihan Orang Tua

Menikahi Pria Pilihan Orang Tua
Hendry dan Rita Pulkam


__ADS_3

Setelah selesai mendengar keluh-kesah Pretty, mereka pun pamit pulang. Rita dan Hendry meninggalkan "Studio Wish" dan kembali ke rumah.


Mereka masuk ke kamar masing-masing, membersihkan diri dari make-up yang sangat mengganggu dan tubuh yang sudah keringatan itu.


Usai mandi, Rita sudah rapi dengan baju putih polos dan bawahan celana panjang. Ia sibuk packing semua barang buah tangan yang akan di bawa pulang nanti.


Hendry singgah di kamar Rita. Ia duduk di sofa kamar melihat sang gadis sibuk berbenah. Laki-laki itu tampak lesu. Sepeninggal Rita nanti, rumah ini kembali sepi lagi, bisiknya dalam hati kecilnya.


"Ta, aku temui Raka sebentar, kamu siap-siap dulu, nanti kita berangkat," pamitnya seraya berjalan menjauh dari kamar Rita. Gadis itu mengangguk senang, sebentar lagi ia akan pulang ke rumahnya, ke kampung halamannya.


Hendry tiba di rumah Raka, tak jauh dari huniannya. Mereka pun duduk di teras balkon, Hendry menyerahkan beberapa dokumen pada Raka. Setelah menyampaikan semua tugasnya untuk Raka, ia pun kembali ke rumahnya.


Mereka memesan taxi online untuk membawanya kebandara. Setiba disana, mereka makan di food court terdekat. Kemudian melakukan check-in dan selang beberapa saat, pesawat yang mereka tumpangi pun memberangkatkan mereka ke kota tujuannya.

__ADS_1


Selama diperjalanan, Rita sudah amat sangat lelah. Jadwal pemotretan yang mendadak saja sudah menguras banyak tenaganya. Walau ia belum siap, tetapi ia tak ingin mengecewakan Hendry. Hingga Hendry pun tak tega mengulur waktu kepulangannya.


Ia tidur pulas. Hendry menyandarkan kepala Rita ke bahunya. Membiarkannya tidur nyenyak. Ia menggeser sedikit seatbelt Rita agar tak mengganggu tubuh gadis itu ketika menyandar pada bahu Hendry.


Tepat jam 12, pesawat landing dengan selamat ke kota tujuan mereka. Tak lama, para kru pesawat membuka pintu pesawat. Para penumpang turun secara teratur.


Rita sudah terjaga dari tidurnya sejak tadi. Ia sudah tak sabar ingin pulang ke rumahnya. Hendry mengambil bagasi mereka. Kemudian meninggalkan bandara.


Rita hanya memesan segelas teh panas beserta kue ketan panggang isi abon. Semua penat dan kantuk lenyap seketika seiring pergantian waktu.


Kencan larut malam, hmm lebih tepatnya kencan hingga subuh-subuh. "Ta, kita duduk sampai jam 4 ya, atau kamu mau istirahat di mobil?" tanya Hendry cemas pada Rita.


"Aku tadi sudah puas tidur, Hen. Kamu ga ngantuk?" Rita berbalik menanyakannnya. "Aku ga tega membangunkan mereka, Ta. Kamu juga, kan?" keduanya senyum mengiyakan.

__ADS_1


Orangtua keduanya bangun pada jam 4 subuh. Mereka tak ingin mengganggu tidur orang tersayangnya. Dan lanjut menikmati subuh yang indah, menikmati fenomena alam kerumunan awan bergerak saling menjauhi pelan, pelan, langit kian terang-benderang. Disambut suara ayam jantan berkokok menandai bahwa hari sudah subuh.


Langit semakin cerah, semakin terang. Waktu telah menunjukkan pukul 03.49. Sebentar lagi mereka pulang kerumah masing-masing.


Hendry membayar sejumlah uang kepada pemilik warung kopi. Kemudian membungkus pulang kue untuk orangtua mereka. Dan meninggalkan warkop itu.


Setiba di rumah Rita, Hendry berhenti dan membawa turun koper hitam miliknya untuk Rita menyimpan buah tangan didalamnya.


Setelah memastikan Rita masuk kerumahnya dengan selamat, ia pun meninggalkan halaman rumah tersebut dan pulang ke rumahnya.


Lampu dirumahnya juga sudah terang-benderang. "Mama pasti sudah bangun," bisiknya. "Ma ... Ma ..." panggil Hendry kalem. Bu Martina mendapati suara anaknya segera mendekat ke arah pintu. Mengintip di balik lubang untuk memastikan bahwa benar itu suara anaknya.


"Hen, Hendry," panggil Bu Martina lagi. "Iya, Ma. Ini anak mama terganteng," puji Hendry pada dirinya sejak ia masih kecil. Bu Martina segera keluar dan memeluk anaknya.

__ADS_1


__ADS_2