Menikahi Pria Pilihan Orang Tua

Menikahi Pria Pilihan Orang Tua
Di kelilingi Orang-orang Baik


__ADS_3

Di perjalanan pulang, Hendry mengambil kendali menyetir mobil. Ketika melintas di depan 'Cafe Natural', ia menghentikan mobilnya. Mengajak Rita turun untuk makan siang. "Ta, aku lapar. Makan di sini aza, yah," please mohon Hendry.


Rita menyanggupinya dan mereka melihat kesana-kemari untuk mencari tempat duduk yang nyaman. Mereka memilih tempat duduk berlesehan, sambil menikmati tiupan angin sepoi-sepoi. Seorang pelayan membawa list menu dan Hendry memesannya karena Rita sudah kelelahan.


Sambil menunggu, mereka bercengkrama seperti biasanya. Beberapa lama, sang pelayan pun berjongkok menata hidangan di atas meja mereka. Cah asparagus, ayam goreng kalasan, fan beef belly saos teriyaki beserta jus jeruk kini terhidang di hadapan mereka.


Tak menunggu lama, keduanya menyantap semua masakan di depannya. Lanjut menyerumput jus jeruk yang begitu segar untuk mereka yang sedang kepedasan.

__ADS_1


"Adem ya,Ta," bisik Hendry. "Ya, udaranya segar," sahut Rita. "Hen, udah, kita pulang, ya," Rita memelas padanya. "Saya ke kasir dulu," pamit Hendry. Dan ia kembali dengan 2 bungkus cemilan. " Ayo, kita pulang," ajak Hendry.


"Ini masih jam kerja, main kabur keluyuran, ga enak sama mereka," ucap Rita serius. "Ta, mereka pasti ngerti kok, tenang aza," hibur Hendry kalem.


Tibalah mereka ke cafe ...


"Des, Sekar sorry ... ," ucap Rita seraya menyerahkan sejumlah uang tadi pada Sekar. "Udah, santai aza, Ta, kita ngerti kok," balas Sekar.

__ADS_1


Setelah puas beradu mulut, mereka kembali bekerja. "Hen, thanks ya cemilannya," ucap Sekar. Hendry mengangguk membalasnya sambil mengekori Desy dan Rita menuju ke arah dapur.


Hari ini mereka hanya konsen di cafe karena tidak ada job catering. Hendry juga membantu menyiangi sayur bersama Desy dan Rita. "Kapan pulang, Hen," tanya Desy ingin tahu. "Lusa, Hari Senin, aku berangkat pagi, Des," balas Hendry lagi. "Rasanya ingin stay lebih lama tapi situasi kurang pas saat ini," keluhnya pada Desy. "Iya sih, kalian bisa vical, Hen. Rita biar kami aza yang urus," hibur Desy lagi. Rita tertawa terbahak-bahak mendengar cuitan si kepo Desy dari depan rak kompor gas.


Tetapi, Rita salut pada Hendry juga, ia bisa dengan cepat beradaptasi dengan teman-temannya. Hendry juga loyal tidak kedekut dan perhitungan pada mereka. Begitu pula Sekar dan Desy juga bisa menerima keberadaan Hendry dalam tempo yang cukup singkat.


Awalnya, dengan profesi dan harta yang melimpah, Rita berpikir, Hendry pastilah sangat arogan dan temperamental, ternyata ia tidak seperti yang Rita bayangkan.

__ADS_1


Sekar dan Desy sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri. Mereka bermain sejak kecil hingga bersama-sama menyelesaikan studi terakhirnya.


Melihat mereka bisa saling menerima satu sama lain, Rita sangat bahagia. Di kelilingi begitu banyak orang yang menyayanginya, itu sudah lebih dari kata cukup. Karena bahagia itu tidak semata diukur dari harta berlimpah saja. Tapi, dikelilingi orang-orang baik, kaluarga, sahabat dan calon suami yang baik juga merupakan anugerah terindah.


__ADS_2