
Setelah Rita selesai mandi, ia berpakaian tidur rapi, duduk diatas ranjang sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Hendry mengetok pintu kamarnya, Rita mempersilahkan dia masuk ke dalam. Melihat Rita sedang mengeringkan rambutnya, Hendry pun mendekat dan membantunya.
"Sini, aku bantu," ujar Hendry menawarkan bantuan padanya. Dan tanpa menunggu jawaban darinya, ia pun segera mengambil handuk dari tangannya membantu Rita.
"Kalau butuh hair dryer? Di laci dibawah kaca ya," ujar Hendry. "Ga usah, aku jarang menggunakan hair dryer," tolak Rita lagi.
" Hen, besok saya pulang ya, nanti mereka kuatir," bujuk Rita. "Temani aku beberapa hari lagi yah," pinta Hendry sambil mengusap pipi Rita.
"Kamu ga perlu kuatir, Ta. Tadi aku menelepon ibumu. Juga ibuku." Hibur Hendry melihat Rita gelisah. "Mama ga marah, Hen?" tanya Rita gelisah. "Mamamu ga marah, beliau nitip kamu ke aku," balas Hendry menghibur hati Rita yang gundah gulana.
__ADS_1
"Tetapi, Mamaku ... "
"Kenapa," tanya Rita penasaran. "Mamaku ... sebut aku gila," ujarnya dengan wajah memelas. "Memang iya ..., katanya cuma antar ehh dibawa sekalian anak gadis orang," celoteh Hendry menirukan omelan ibunya.
"Ta, kita keluar makan, aku tunggu dibawah," ujar Hendry sambil keluar dari kamar Rita. Tapi Rita malah berbaring dan ketiduran.
"Kenapa lama sekali?" bisik Hendry dalam hati. Ia pun naik dan kembali ke kamar Rita. "Ta, Rita ... ," Hendry membangunkannya. Tetapi, Rita tidak acuh padanya.
Hendry meraba dahinya, ternyata suhu badannya tinggi. Hendry segera turun meminta bi Nul memasak bubur untuk Rita. Ia juga menelepon dr.Heryanto untuk home visit.
Usai mengantar Hery keluar, Hendry segera ke apotik terdekat untuk menebus resep obat dari Hery.
__ADS_1
Hanya makan waktu 10 menitan, ia sudah kembali ke rumahnya. Segera ia membawa bubur dan obat-obatan yang baru saja ia bawa pulang kepada Rita.
Sekali lagi ia merawat Rita, tapi kini di rumahnya sendiri. Ia meminumkan obat tadi pada Rita setelah menyuapinya makan.
Hendry mengompres dahi Rita. Hingga tak sadar ia ketiduran disamping Rita. Tubuh Rita sudah mulai pulih. Ia membalikkan tubuhnya dan memeluk bantal disebelahnya.
"Eh ... akan tetapi, kenapa bantal guling bisa sehangat ini?" batinnya di hati. Dan benar saja, ia membelalakkan matanya. "Hendry ..." teriaknya histeris. "Kamu kenapa tidur disini ...," Rita mendorong tubuh Hendry. "Sudah enakan, Ta?" tanya Hendry masih dengan mode magernya seraya meraba dahi Rita. Panas badannya ternyata sudah normal.
"Hen, kenapa kamu tidur disini?" tanya Rita sekali lagi. "Tadi badanmu panas, aku kuatir kamu sendirian disini jadi aku temani," Hendry membela diri agar Rita tak lagi mengomelinya.
"Sudah bisa ngomel, berarti sudah pulih dong," goda Hendry pada gadisnya. "Aku balik ke kamarku, kalau kelamaan disini, takut ga bisa ngontrol diri," Hendry pamit keluar dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
__ADS_1
Rita menelepon sang ibu memberitahukan posisinya saat ini. Ibunya tidak menyalahkannya dan menyuruhnya lekas beristirahat. Rita melanjutkan tidurnya hingga esok pagi.
Pagi-pagi, wajah Hendry begitu ceria. Ia mengetuk pintu kamar Rita mengajaknya sarapan berdua. Rita pun sudah rapi dan sudah segar setelah mandi dan sembuh dari demam.