
Semua rumah yang ada di perumahan ini, warna cat dan bentuknya semua sama jika dilihat dari luar. Tapi ada beberapa rumah, seperti rumah kak Darlen...
Karena dari dulu, rumah Perwira agak sedikit besar dan jumlah kamarnyapun lebih banyak. Itu seingatku... Karena masa kecil, kuhabiskan tinggal di perumahan ini juga... Dan ketika papa membeli rumah pribadi, akhirnya kamipun pindah...
Ya,,,, 10tahun berlalu. Banyak perubahan di perumahan ini.... Kini hari-hariku akan kihabiskan disini bersama keluarga baruku... Ya, suami dan anakku tentunya...
Mobil kami berhenti di sebuah rumah... Itu rumah kak Darlen, ya rumah kami...
"Papa, apa papa mengecat lagi rumahnya?" tanya Cecil
"Darimana Cecil tau, sayang?" kak Darlen balik bertanya kepada Cecil...
"Cecil bisa mencium aroma cat dan pengharum ruangan dari luar sini" selidiknya...
Dengan senyuman kak Darlen berkata "Kamu ya,,, penciumanmu melebihi anjing pelacak yang kemarin membantu pap latihan" lanjut kak Darlen sambil mencubit hidung Cecil...
__ADS_1
Candaan mereka berdua seakan membuatku melupakan kejadian tadi di mini market itu...
Kamipun masuk ke dalam rumah...
Aku melihat kesemua sudut rumah itu... Bersih tanpa debu seperti ada orang yang selalu membersihkannya...
"Aku meminta anggota ku untuk membersihkan rumah ini dan mengecat bagian-bagian yang sudah pudar. Ternyata mereka mengecat semua sudut rumah ini" kata kak Darlen menjelaskan padaku...
"Eh, hmm. Iya" jawabku gugup...
Mama Irma langsung masuk ke dapur untuk memasak makan siang. Bukannya aku tidak tahu masak tapi mama Irma yang melarangku membantunya... Kata mama Irma, beliau ingin memanjakanku seperti yang dilakukan mama Retha... Cecil juga di dapur dengan omanya...
Tiba-tiba tanganku di tarik oleh kak Darlen masuk ke dalam kamar utama... Kamar yang bercat putih dan rapih sama persis dengan kamarku di rumah... Dia lantas mendudukkanku di samping tempat tidur... Lalu diambil kotak P3K yang ada di atas lemari pakaian. Dan mengambil salah dan mengoleskan di pipiku yang masih terlihat merah dan sedikit bengkak...
Ada hawa panas yang terasa dipipiku ketika tangan Darlen menyentunya... Seketika wajahku bersemu merah dan yang membuatku gugup adalah... Mata 👀 kami beradu pandang...
__ADS_1
Selesai mengoleskan salap... Kak Darlen mengangkat daguku. Dan memajukan wajahnya semakin dekat dengan wajahku... Jantungku berdegup kencang, tanpa meminta ijin dariku... Kak Darlen tiba-tiba mencium bibirku... Mataku terbelalak... "*Ini adalah ciuman pertamaku" guman hati kecilku...
"Ya, aku belum pernah berciuman dengan siapapun... Karena aku tidak pernah berpacaran dengan lelaki manapun*"
Bukannya menghentikan ciumannya... Dia malah memperdalamnya dengan memegang tengkuk leherku dengan tangannya yang satu, sedangkan tangan yang satunya lagi menarikku lebih dekat kepadanya.. Seakan-akan dia mengujiku sampai dimana aku bertahan...
Aku menutup mata dan menarik nafas dalam lewat hidungku dan membuangnya lagi masih lewat hidungku... Aku mencoba melepaskan ciuman... "Kak***, Lia kehabisan napas" kataku...
Akhirnya dia melepaskan ciumannya dan pelukannya dariku...
"Apa kamu tidak suka dicium suamimu ini, dek?" tanya Darlen padaku...
"Eh, ah. Bu-bukan begitu kak" jawabku... "Tapi Lia belum siap saja dan kakak tidak meminta ijin dariku" kataku lagi...
Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal dan tersenyum malu... Kak Darlen berujar "Apa mencium istri sendiri harus meminta ijin"...
__ADS_1