
Tiba hari keberangkatan Darlen dan pasukannya ke daerah perbatasan... Semua keluarga dari pasukan yang akan berangkat turut mengantarkan... Aku, Cecil, mama Irma juga kedua orang tuaku...
Hatiku seperti tidak merelakan kak Darlen berangkat... Entah kenapa hatiku berat... Aku melihat kak Darlen dengan seragam kebanggaannya itu. Dia terlihat begitu gagah... Dia berdiri melaporkan persiapan pasukannya yang siap di berangkatkan...
Cecil membuyarkan lamunanku "Mama, itu papa berjalan menuju kita" sambil menunjukkan kak Darlen yang melangkah ke arah kami...
"Hai, anak papa. Jangan nakal ya, sama mama dan oma. Cecil harus makan yang banyak, makan obatnya dan harus banyak istirahat. Dan yang paling penting Cecil harus rajin belajar. Oke!!!" kata kak Darlen mengingatkan anaknya...
"Siap, komandan!" jawab Cecil dengan sikap seperti seorang anak buah yang sedang berhadapan dengan atasannya...
Kak Darlen mengendong, memeluk dan mencium Cecil... Aku hanya bisa melihat anak dan ayah itu saling berpelukan dan air mataku pun tanpa sadar mengalir dari mataku...
__ADS_1
"Dek, kenapa menangis?" tanya Darlen padaku ketika melihat kristal bening mengalir di pipiku...
"Li,,,, Lia tidak tahu. Tiba-tiba air mata Lia jatuh saja" jawabku melihat kak Darlen... Dan tanpa rasa malu atau gugup. Aku langsung memeluk tububnya dan menangis tersedu di dalam pelukannya...
Mam Irma yang melihatku seperti langsung meminta Cecil untuk turun dari gendongan papanya dan membiarkan aku terus memeluk kak Darlen...
Kedua orang tuaku yang ada saat itupun terharu melihat sikapku...
"Hei, dek. Jangan seperti itu" ucapnya... Dan aku hanya menggelengkan kepalaku... Ini pertama kalinya aku berani memeluk kak Darlen...
"Kak, jaga dirimu baik-baik disana. Makan yang teratur dan tetap sehat. Dan cepat kembali" kataku dengan terisak...
__ADS_1
Kak Darlen melepaskan pelukannya dan memandang wajahku "Aku akan kembali untukmu dan untuk Cecil. Tunggu aku" Katanya... Dia kembali memelukku dan berbisik di telingaku "Aku mencintaimu, istriku" dengan senyuman dia mengecup puncak kepalaku...
Dengan suara lirih "Aku akan menunggumu kembali, kak... Aku juga mencintaimu" kataku...
"Sembilan bulan, sayang. Hanya sembilan bulan. Tunggulah aku" Ucapnya sembari melepaskan pelukannya dariku dan berjalan menuju kapal yang akan membawanya serta pasukannya bertugas di daerah perbatasan...
"*Sudah seminggu kepergiam kak Darlen menjalankan tugasnya di daerah perbatasan. Dia juga belum mengabariku keadaannya. Apa dia baik-baik saja? bagaimana kondisinya? Dan banyak lagi pertanyaan yang muncul di kepalaku"
"Tuhan, jaga suamiku. Jaga mereka semua. Kemana saja dan di mana saja dia melakukan tugasnya. Jangan biarkan musuh menghalau jalannya dan anak-anak buahnya*"
Setiap malam, aku tidak pernah lupa untuk. Mendoakan suamiku, rekam-rekannya dan juga anak-anak buahnya....
__ADS_1
Cecil dan mama Irma mungkin sudah biasa dengan kepergian Darlen. Dan seharusnya aku juga begitu. Karena dari kecil aku sudah terbiasa dengan kepergian papa yang sering mendapatkan tugas ke daerah-daerah yang rawan seperti sekarang yang diemban suamiku... Tapi tidak dengan aku, yang sering merindukannya...
Ya, aku merindukan pelukannya, ciumannya yang tiba-tiba dan juga desah nafasnya... "Aku merindukanmu, kak Darlen. Cepat pulang ya. Kami menunggumu" ucapku sambil melihat fotonya di handphone ku yang kuambik diam-diam, disaat dia sedang asik bersama Cecil...