
Saat kecelakaan yang menimpa Lia. Bram dan Darlen sedang ada dalam latihan persiapan keberangkatan pasukan perdamaian ke negara yang sedang mengalami konflik.
Mereka segera meninggalkan tempat latihan setelah menerima kabar kecelakaan itu... Dunia Bram dan Darlen serasa runtuh... Dengan seragam latihan, mereka memasuki rumah sakit dengan langkah cepat juga tubuh yang bergetar...
Ingin rasanya Bram yang menggantikan keadaan Lia sekarang.... Lia dirawat di rumah sakit kembali setelah dia melihat Darlen yang sedang duduk bersama seorang wanita disaat mereka pergi ke psikiater hari itu...
Lia mengira wanita itu adalah kekasih Darlen sehingga membuat Lia terpuruk karena keadaannya pasca kecelakaan yg mengakibatkan janin dan rahimnya harus hilang dan tak bisa lagi memberikan Darlen seorang anak...
Lia harus dirawat intensif dan semua alat2 rumah sakit harus terpasang ditubuhnya kini... Lia bagaikan mayat hidup yang mati enggan, hiduppun terasa berat...
"Sayang ini kak Bram. Kakak nggak bisa lihat kamu seperti ini. Sampai kapan Lia? Kakak sudah mendapatkan pacar. Ayolah, dia ingin sekali bertemu denganmu, adikku" kata Bram penuh tangis. padahal Bram paling susah untuk menangis, dia terkenal dingin bagai bongkahan es kecuali dihadapan adiknya Aurelia...
Papa Sam dan mama Retha tidak bisa menahan kesedihannya... kak Vanny yang kebetulan datang menjenguk suaminya yang juga latihan bersama Bram dan Darlen, segera mendatangi rumah sakit mendengar kondisi adiknya kritis...
__ADS_1
"Dimana Darlen???" tanya Kak Vanny marah karena tidak melihat Darlen... "Apa dia harus seperti ini disaat kita semua ada disini dengan kondisi Lia" lanjut Vanny yang penuh emosi....
Setelah Vanny marah-marah karena ketiadaannya Darlen... Tiba-tiba handphone mama Irma berbunyi....
"Hallo" sapa mama Irma....
"(......)" si penelepon
Tanpa permisis mama Irma beranjak dan mengajak Agung dan Arya mengikuti nya...
Setibanya di sebuah Club sekaligus bar ternama di kota J. Mama Irma, Agung dan Arya masuk kedalam. Penjaga didepan pintu pun semua menundukkan badan mereka menyambut mama Irma dan kedua keponakannya itu...
"Dimana dia?" tanya mama Irma membuat Agung dan Arya bingung...
__ADS_1
"Nyonya, saya sudah mengatakan jangan membawanya ke kamar tapi dia tetap ngotot membawa tuan ke dalam kamar" jawab meneger Club itu gemetar....
"Wanita sialan, berani-beraninya dia. Cari mati dia" geram mama Irma berjalan menuju sebuah kamar pribadi yang tersedia bagi pemilik Club...
"Agung, Arya dobrak pintu itu" perintah mama Irma dan langsung di laksanakan oleh keduanya dan pintupun terbuka...
"Kau????? Perempuan ******, tidak tahu malu. Apa yang kau perbuat Hah!!!" kata mama Irma dengan suara yang menggelegar...
"Maksud mama, apa??? Aku hanya menjalankan tugas ku sebagai tunangannya Darlen" kata wanita itu dengan sikap sombong dan hanya handuk yang membungkusi tubuhnya... "Kalian sungguh mengganggu, padahal kita baru akan mulai" lanjut wanita itu...
"Angkat dan bawa keluar, masukkan dia ke mobil dan kita pulang" perintah mama Irma kepda Agung dan Arya.... "Dan kau perempuan ******, jangan pernah kau mendekati Darlen. Dia sudah menikah!!!" Suara mama Irma membuat wanita itu seketika terdiam dan kaku d depan cermin besar itu....
"Apa???? Menikah???? Darlen???? Tidak mungkin???? Dia tidak bisa!!!" suara hati wanita itu tidak percaya...
__ADS_1