Menjadi Pembantu Ayah Dari Anakku

Menjadi Pembantu Ayah Dari Anakku
Menjadi Asisten Rumah Tangga


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Malam telah dengan sempurna menutupi, semua pintu-pintu rumah telah tertutup dengan rapi yang menandakan jika semua penghuni rumah telah tidur dengan nyenyak.


Semuanya memang sudah harus tidur, karena esok hari harus menyambut hari yang baru lagi.


*****


Langit yang awalnya gelap kini sudah hampir terang, mentari masih belum terbit dalam kata lain waktu sekarang masih sisa waktu subuh, namun penghuni rumahnya sudah bersiap-siap seolah seperti akan mengantar seseorang yang hendak melakukan tugas penting.


Dadanya menjadi begitu sangat berdebar-debar, khawatir bagaimana jika bertemu dengan majikannya nanti.


Mereka menggiring Naya untuk keluar rumah, hari ini sebelum matahari terbit Naya sudah harus berada di rumah majikannya.


" Ada apa kamu nak?, ibu perhatikan kamu seperti memikirkan sesuatu. " jika tak salah menilai itulah yang Aini lihat dari Naya.


" Naya hanya merasa gugup bu. " Naya berusaha untuk tetap tenang.


" Tenanglah Nay, kamu jangan merasa gugup, tuan Ar orangnya memang dingin dan acuh, tapi dia tidak jahat. " bu Sima tahunya seperti itu tentang majikannya.


Dingin, jadi majikannya adalah sosok yang dingin, biasanya orang yang dingin cenderung sensitif, jika seperti itu bukan tak mungkin jika majikannya itu akan mudah marah ketika dirinya melakukan kesalahan.


" Sudah, tenang nak, kendalikan diri kamu, merasa gugup di awal adalah hal yang wajar, tapi jangan sampai rasa gugupmu itu jadi membuatmu tidak terkendali. " dengan mengusap bahu putrinya dengan lembut Aini mencoba menenangkannya.


Ucapan ibunya terdengar begitu sejuk, dalam seketika pikirannya menjadi tersadar, benar dengan yang dikatakan oleh ibunya, jangan sampai dirinya menjadi tak terkendali karena rasa gugup.


Naya jadi memandang putranya, putranya ini dari tadi tak melepas genggaman tangan mungilnya.


Iya, Arta, bukankah dirinya rela bekerja hingga ke tempat ini adalah demi Arta putra semata wayangnya yang sangat dirinya cintai.


" Bunda. " begitulah suara yang terdengar menggemaskan itu berseru.


Naya menundukkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan tubuh Arta, namun tubuhnya menjadi berjongkok agar bisa melihat wajah putranya dengan jelas.


" Bunda. " Arta memeluk bundanya.


Sepasang ibu dengan putranya menjadi saling berpelukan.


" Bunda harus bekerja nak, Arta jangan nakal ya, harus nurut sama nenek. "


" Iya bunda. " hanya dua kata itulah yang bisa Arta ucapkan.

__ADS_1


Sebenarnya masih ada hal yang ingin Arta ungkapkan, tetapi rasanya itu tak mungkin karena bisa membuat bundanya jadi sedih.


Dengan perlahan Naya mulai melepaskan rengkuhannya, sebentar lagi waktu subuh sudah akan segera habis, dan dirinya sudah harus tiba di rumah majikannya sebelum matahari terbit.


" Naya berangkat dulu. " pamit Naya.


" Iya, berangkatlah nak. " sahut bu Aini.


Dengan menggunakan tas slempang miliknya, Naya melangkah keluar dari teras rumahnya.


Rumah tuan Ar memang berada di belakang rumah ini, tetapi untuk bisa tiba di sana haruslah melewati gang kecil terlebih dahulu.


Aini melihat putrinya yang terus melangkah, semakin banyak melangkah punggung putrinya semakin terlihat jauh.


" Kasihan sekali kamu nak, hidupmu begitu kurang mendapatkan kebahagiaan. " Aini hanya bisa meratapi di dalam hatinya.


Entah kapan Naya akan bisa mendapatkan kebahagiaan yang layak, dari kecil hingga sedewasa seperti sekarang ini putrinya yang penyabar itu kurang beruntung dalam menjalani hidupnya.


*****


Dari depan penampakan rumah besar yang memiliki dua lantai ini terlihat dengan jelas, ternyata seperti ini penampakan rumahnya, tak ada pagar kayu yang tinggi sebagai pagar penutup halamannya melainkan pagar besi berukuran tak terlalu tinggi.


Naya mendekati pintu pagarnya, bu lek Simanya telah memberinya dua kunci, pertama kunci pagar, dan yang kedua kunci pintu rumah.


" Heran, kenapa orang yang bernama tuan Ar itu pasrah sekali memberikan kunci rumahnya pada orang lain?. " Naya hanya berpikir jika apa yang dilakukan oleh majikannya itu termasuk hal yang ceroboh.


" Ya Tuhan aku sampai lupa. " cepat-cepat Naya mulai membuka tas slempangnya.


Karena terlalu larut dengan pikirannya sendiri membuat Naya hampir lupa dengan apa yang harus dikerjakannya hari ini.


Naya mulai membuka pintu pagar itu dengan kunci yang telah disediakannya.


*****


Ceklek...


Dengan perlahan Naya mulai membuka pintunya, hingga pintu itu dibukanya dengan lebar.


Hal pertama yang Naya lihat dari rumah besar ini adalah ruangannya. Ruangan rumah ini lumayan luas dan suasananya juga sejuk.


Naya tak percaya jika bu leknya bekerja di rumah seperti ini, dan sekarang dirinyalah yang menggantikan bu leknya menjadi asisten rumah tangga.


Ruangan tamunya saja terlihat sangat bersih, jika sudah bersih seperti ini apa yang harus dirinya bersihkan.

__ADS_1


" Ya ampun, lagi-lagi aku jadi berpikir. " Naya sampai menepuk jidatnya sendiri karena kembali larut dalam pikirannya.


Mau itu rumahnya sudah bersih atau tidak seharusnya dirinya melakukan saja apa yang menjadi tugasnya.


Naya baru sadar jika di luar sana matahari sudah mulai terbit. Khawatir jika sampai kesiangan cepat-cepat Naya menutup pintunya kembali.


" Dapur, iya dapur. " Naya akan menuju ke dapur.


Sesuai saran dari bu leknya jika hal pertama yang harus dirinya kerjakan di rumah ini adalah memasak.


Memasak?, apakah itu perlu?, Naya tak tahu jika hari ini majikannya sedang tak di rumah, yang Naya tahu dirinya harus menyiapkan makanan untuk tuannya bisa sarapan.


Naya sudah tahu di mana arah dapur, bu lek Simanya mengatakan jika dapurnya berada di lantai dasar menuju ke arah kiri, dan Naya benar melangkah menuju ke arah sana.


Aroma parfum yang begitu sangat segar dan mewah terdengar begitu menyeruak.


Naya yang awalnya melangkah untuk menuju dapur tiba-tiba saja jadi menghentikan langkahnya.


Aroma parfum ini mengapa seperti tak asing baginya, aroma parfumnya sangat khas seperti sangat dirinya kenal.


" Parfum ini, kenapa sangat tak asing. " Naya merasa sangat mengenali aroma parfum ini.


Naya mencoba berpikir di manakah dirinya mengenali parfum ini.


Deg...


Dalam seketika hati Naya langsung tertegun, Naya sangat terkejut kala menyadari akan milik aroma dari parfum ini.


Tidak, ini tidak mungkin, tidak mungkin aroma parfum ini milik mantan suaminya.


Namun Naya juga ingat jika Arland pernah mengatakan jika di dunia ini hanya ada satu aroma parfum seperti ini, yaitu aroma parfum miliknya.


" Tidak, tidak mungkin. " Naya sudah mulai gugup.


Apakah ini hanya sebuah kebetulan, mungkinkah di dunia ini ada orang lain lagi yang memiliki parfum yang sama seperti parfum milik Arland.


Naya jadi mengedarkan pandangannya pada dinding rumah ini. Bahkan di rumah ini tak ada satupun foto Arland yang terpajang.


Apakah ini hanya kecemasannya saja, rasanya sangat tak mungkin jika Arland berada di daerah ini apalagi sampai memiliki rumah di sini, itu sangat tak mungkin.


Daerah ini termasuk daerah pelosok, setahunya Arland yang terbiasa hidup di daerah perkotaan sulit beradaptasi dengan lingkungan seperti ini.


" Jangan mimpi kamu Nay, mana mungkin mas Arland berada di tempat seperti ini?. " batin Naya jadi tersenyum.

__ADS_1


Bersambung..........


❤❤❤❤❤


__ADS_2