
Selamat Membaca
🌿🌿🌿🌿🌿
Separuh tubuhnya tertutupi oleh selimut hangatnya, semenjak isak usai, niatnya yang ingin tidur dengan nyenyak berjalan dengan baik, mungkin keadaan ini akan membantu tubuhnya menjadi lebih baik.
Bu Aini masuk ke kamar Naya, bahkan Naya sama sekali tak terusik dengan kedatangan ibunya.
" Kamu tidur nak?. " seru Aini lalu wanita yang sudah berumur itu mendekat ke arah putrinya yang berbaring.
Sangat jarang Naya tidur di waktu yang masih belum terlalu malam, dan biasanya Naya menemani Arta menonton tv.
Dengan perlahan Aini mulai duduk di samping tubuh Naya.
Melihat Naya yang nampak tidur nyenyak seperti ini membuat Aini merasa iba, iya merasa iba karena Naya terlihat kelelahan.
" Kasihan sekali kamu nak, haruskah kamu berhenti saja bekerja dari majikanmu itu?. " Aini berseru karena merasa tak tega dengan keadaan putrinya.
Setelah usai mengucapkan kalimatnya, Aini mulai menyentuh lengan Naya.
Aini merasa agak berbeda dari suhu tubuh putrinya kali ini, tubuh Naya sudah tak terlalu panas seperti tadi sore.
" Alhamdulillah syukurlah nak, akhirnya demam kamu lumayan turun juga. " betapa leganya Aini karena keadaan Naya sudah tak sepanas tadi.
Aini tak menyangka jika demam putrinya akan turun secepat ini, entah apakah daya tahan tubuh Naya yang memang baik sehingga demamnya tak berlangsung lama atau mungkin karena obat yang dikonsumsinya memang memiliki khasiat yang lebih.
Apapun itu Aini merasa bersyukur karena setidaknya keadaan putrinya ini sudah lumayan membaik.
Aini lebih sedikit mendekati tubuh Naya.
" Tidurlah yang nyenyak nak, semoga hari esok kamu sudah sembuh cupp... " doa dan kecupan hangat seorang ibu itu pun Aini berikan di kening Naya.
Usai mencium kening sang putri, Aini mulai sedikit menarik selimut yang Naya gunakan agar sedikit menutupi dadanya.
Aini mulai bangkit, hatinya saat ini benar-benar lega karena perkembangan putrinya.
Dan disaat bangkit dan berdiri, Aini melihat sebuah tas, tas yang tak berukuran terlalu besar yang sering dibawa putrinya ini pergi bekerja sebagai isi bekal.
" Sepertinya tas itu harus aku cuci. " gumamnya dan Aini langsung bergerak ingin mengambil tas itu.
Ibu dari Naya benar menyentuh dan mengambil tasnya.
" Kenapa ini?. " Aini merasa ada sesuatu di dalam tas Naya ketika baru menyentuhnya.
Tas milik putrinya ini sedikit agak berat, padahal wadah makanannya sudah Naya letakkan di dapur.
" Ada apanya ya?. " merasa sangat penasaran Aini jadi bergerak untuk membuka ritsleting tasnya.
Dan Aini benar membuka tasnya.
Nampak sangat jelas di dalam sana seperti adanya gepokan kertas yang terikat, karena sangat penasaran Aini pun langsung mengeluarkannya.
Deg...
Seketika itu kedua bola mata Aini langsung dibuat melotot.
__ADS_1
Aini melotot kaget karena dibuat sangat terkejut dengan segepok uang yang ada di tangannya.
" Ya Tuhan, ini uang apa?, kenapa ada uang sebanyak ini di tas Naya?. " Aini tak percaya dengan uang yang begitu banyak ini.
Uang dari mana ini, dari mana putrinya mendapatkan uang sebanyak ini.
Aini langsung menatap pada Naya, pikirannya saat ini begitu sangat tak karuan, bagaimana tidak, Aini benar dibuat terkejut karena uang, entah mengapa pikiran buruk langsung menyerang kepalanya.
" Tidak, tidak mungkin kamu melakukan pekerjaan yang tidak halal kan nak?. "
Aini berharap jika pikiran buruknya saat ini tidaklah benar, tapi bagaimana, Naya bekerja masih belum satu bulan, tetapi di tasnya sudah terdapat uang dalam jumlah banyak, jika bukan majikannya yang memberinya uang lalu Naya mendapatkan uang dari mana.
" Jangan katakan kalau kamu sedang menjual diri nak, ibu harap kamu tidak seperti itu. " serunya.
Aini benar-benar tak kuasa jika Naya memang benar melakukan pekerjaan yang tidak halal itu.
Rasanya ini sangat sulit dipercaya, jadi itulah mengapa akhir-akhir ini Naya sering pulang terlambat dalam keadaan lelah.
" Tidak, tidak mungkin kamu seperti itu nak. "
Dari mana Naya mendapatkan uang sebanyak ini, tidak mungkin kan jika majikannya memberinya secara cuma-cuma.
" Kamu harus menjelaskan semuanya nak. " gumamnya.
Aini tak bisa membiarkan semua ini, jika benar putrinya Naya melakukan pekerjaan terlarang itu, maka Naya harus segera menghentikannya, tak peduli meski Sima terikat kontrak, tapi Naya bukanlah penebus kontraknya.
*****
Cahaya lampu di beberapa ruangan sudah tak menyala, mungkin hanya ada sedikit pantulan cahaya yang dibiaskan dari ruangan lain sehingga menyebabkan sebagian ruangan yang lainnya lagi ada yang gelap berjejer dengan terang.
Di waktu yang sudah masuk tengah malam seperti ini tak membuat seorang Sandra merasa takut.
Malam ini, di tengah malam seperti ini Sandra menuju ke ruangan dapur, wanita yang begitu terobsesi pada Arland itu sedang berjuang melakukan aksinya.
Meski malam ini Arland sudah tidur, namun tetap saja Sandra tak ingin jika Arland sampai mengetahui akan apa yang dilakukannya.
Hingga setelah cukup lama melangkah, akhirnya Sandra masuk juga ke ruang dapur.
Sandra sudah tak sabar ingin melakukan aksinya, Sandra tak sabar ingin mencampurkan bubuk perangsang yang dibawanya ini pada minuman Arland.
Keadaan di dapur lumayan gelap, dan ini adalah kesempatan untuk mempercepat aksinya.
Satu hal yang Sandra tahu dari tunangannya itu, ternyata jika malam hari Arland lebih menyukai suasana yang lumayan gelap.
" Ayo cepat Sandra sebelum Arland melihatmu. " gumamnya dan Sandra mulai membuka salah satu kulkas yang banyak berisi minuman Arland.
Tak ingin memakan waktu yang lebih banyak lagi, Sandra pun segera mengeluarkan botol kecil itu dari dalam sakunya, botol yang berisi bubuk perangsang yang dapat membuat bera*hi seseorang menjadi meningkat sangat tinggi.
Dua botol minuman rasa jeruk dan strawberry telah berhasil Sandra keluarkan. Dengan gerakannya yang cepat Sandra pun membuka semua tutup botol itu, mau itu tutup botol obat perangsangnya dan juga dua tutup botol minumannya.
" Biarkan saja sayangku terangsang, kalau bukan seperti ini caranya kapan aku bisa memilikimu seutuhnya Arland?. " Sandra benar memasukkan serbuk perangsang itu pada minumannya, bahkan Sandra menuangkannya cukup banyak tanpa memikirkan dosisnya.
Dan lampu dapur pun menyala.
" Hah... "
__ADS_1
Duk... duk duk duk... duk...
Botol kecil yang berisi serbuk perangsang itu pun jadi terjatuh dan menggelinding.
" Apa yang kamu lakukan Sandra?. " seru Arland tiba-tiba setelah melihat keberadaan Sandra tengah malam seperti ini di dapur.
Sandra langsung melotot terkejut, apa ini, mengapa tiba-tiba Arland berada di dapur.
" Apa yang kamu lakukan Sandra?. " seru Arland lagi.
" Ti-tidak sayang, tidak ada. " sahut Sandra dan dengan gerakannya yang cepat dua botol berisi minuman yang sempat dikeluarkannya kembali dimasukkan ke dalam kulkas.
Sandra sangat terkejut dan ketakutan, jangan sampai Arland mengetahui apa yang baru saja dilakukannya.
" Tengah malam seperti ini kamu berada di dapur seperti maling, apa kamu mencuri sesuatu?. " dengan sambil bicara Arland mendekati Sandra.
Sandra menjadi sangat khawatir, bagaimana ini, bagaimana jika Arland tahu jika minumannya telah dicampur sesuatu, meski hanya satu botol minuman yang berhasil diberi obat tetap saja ini akan sangat mengkhawatirkan, apa lagi botol yang berisi obat perangsang sendiri telah jatuh entah ke mana.
" Tidak mungkin kamu tidak melakukan apapun di sini, buktinya kamu membuka kulkas ku, apa yang kamu cari?, jawab. " Arland ingin Sandra menjawabnya.
" Anu sayang, e... ini, iya minuman, aku haus, aku ingin minum. " sahut Sandra asal dengan mengambil salah satu minuman yang berasa itu.
" Tengah malam kamu haus, kamu haus ingin minum air atau ingin ini?. " tanya Arland karena merasa yakin jika Sandra sebenarnya ingin minum air.
" Oh iya, aku haus ingin minum air sayang, iya ya, berarti aku salah ambil minuman. " Sandra bertingkah dengan sok bodoh, apa lagi tujuannya jika bukan untuk mengelabuhi Arland.
Sandra meletakkan kembali minuman yang sempat diambilnya itu ke dalam kulkas.
" Dasar tidak jelas, kalau mau minum air carilah di kulkas yang satunya, bukan yang ini. " Arland jadi jengkel karena wanita yang menjadi tunangannya ini ternyata memanglah bodoh.
Sandra hanya tersenyum, dengan bertingkah sok polos itulah yang bisa dirinya lakukan saat ini.
Sandra jadi sedikit bergeser agar bisa berada di depan kulkas yang ada di sebelahnya, padahal tidaklah haus, tetapi ini harus dilakukan untuk menutupi kebohongannya.
" Cepat ambil air minumnya Sandra, kamu pikir aku hanya mau berdiri melihatmu seperti ini?, aku juga haus. " ujar Arland dengan nadanya yang sedikit meninggi.
" Iya sayang iya. " sahut Sandra lalu wanita itu pun segera membuka kulkasnya.
Sandra benar mengambil air minumnya yang tersedia dalam botol, bukan hanya satu botol air minum yang Sandra ambil, tetapi Sandra mengambil dua botol air minum.
" Ini sayang buat kamu. " seru Sandra dengan menyodorkan satu botol air minumnya pada Arland.
Arland langsung saja meraih air minum itu, karena dirinya yang memang benar haus membuat Arland tak menolak pemberian Sandra.
" Kenapa kamu masih berdiri?, cepat sana masuk kamar. " suruh Arland.
" Iya sayang aku akan masuk kamar. " dengan reflek Sandra pun benar melangkah.
Terpaksa Sandra harus melangkah meninggalkan ruangan dapur ini, padahal Sandra masih berniat ingin mencari obat perangsangnya yang jatuh itu.
Sementara Arland yang berada dalam situasi ini benar-benar sangat jengkel. Arland sangat muak jika harus menghadapi sesuatu yang menguras emosinya.
" Sepertinya aku memang harus mengakhiri hubungan ini. " begitulah Arland yang bergumam.
Bersambung..........
__ADS_1
❤❤❤❤❤