Menjadi Pembantu Ayah Dari Anakku

Menjadi Pembantu Ayah Dari Anakku
Jadi Bersikap Baik


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


" Ayo ke bawah lagi dan sabuni dengan benar Nay. " suruh Arland.


" Ta-tapi tuan... "


" Tapi kenapa?, kamu ingin melanggar perintahku?. " Arland jadi kembali kesal.


" I-iya tuan, baik tuan. " sahut Naya.


Naya sudah pasrah, mau menolak pun juga akan percuma.


Dengan terpaksa Naya kembali menyabuni perut bagian bawah Arland, Naya begitu sangat hati-hati melakukannya karena tak ingin jika sampai menyentuh yang ada di bawah sana.


" Kurang ke bawah lagi. " pinta Arland.


Deg...


" Iya ke bawah lagi. " lanjutnya.


Dan tangan Naya benar bergerak ke bawah sana.


Deg...


" Hah... " reflek Naya langsung menarik tangannya.


" Apa yang kamu lakukan Nay?. " sentak Arland lalu pria itu langsung berbalik badan menghadap pada Naya.


Naya menggeleng, bukan niatnya yang sampai dengan sengaja menyentuh bagian sensitif milik Arland, dirinya tak sengaja melakukan hal itu.


" Kamu, kamu sengaja ya ingin melecehkan aku hah?... " Arland mulai marah.


" Tidak tuan, aku tidak sengaja melakukannya, sungguh, aku tidak sengaja tuan. " sahut Naya.


" Tidak sengaja katamu?, kamu sudah menyentuhnya Nay, berani sekali kamu ya, memang dasar wanita murahan kamu. " sungguh Arland sudah teramat geram pada Naya.


" Wanita sepertimu memang harus diberi pelajaran. " dengan keras Arland langsung menarik tubuh Naya.


" Rasakan ini, ini kan yang kamu mau?. " dengan keras Arland langsung membasahi kepala Naya dengan air di bathtubnya.


" Hah tuan... hah.. " tentulah Naya jadi kesulitan bernapas karena kepalanya telah diguyur dengan Air yang begitu banyak oleh Arland.


Byur... byur... byur...


" Aku menyuruhmu menyabuni di bawah perut bukan memegang kemaluanku dasar memang wanita murahan kamu Nay... "


Byur... byur... byur...


" Tu-tuan hah... ampun tuanh... " Naya jadi kesulitan bernapas, air dari bathtub yang Arland siramkan pada wajahnya begitu sangat keras dan bertubi-tubi.


Naya tak bisa menghindari siraman air mandi yang terus Arland hempaskan pada wajahnya karena kedua tangannya telah Arland genggam dengan sangat erat hingga dirinya tak bisa melindungi diri, Arland yang seorang laki-laki yang berotot kuat tentulah sangat tak sulit jika harus mendominasi.


Byur... byur... byur...

__ADS_1


" Tu-tuan am-pun... " bahkan suara Naya sudah terdengar kecil.


" Ampun katamu?, jangan harap aku akan memberimu ampun, kamu sudah kurang ajar padaku, dan sekarang rasakan hukumannya. " seperti orang yang telah tertutup hati nuraninya, mungkin itulah yang menggambarkan Arland saat ini.


Entah apa yang terjadi pada Arland, tidakkah Arland menyadari jika apa yang dilakukannya sangatlah membahayakan Naya, bahkan bisa menghilangkan nyawa Naya.


Arland benar-benar ditutupi oleh api amarahnya, mungkin memang sudah semenjak tadi Arland berniat ingin menyiksa Naya tetapi dengan cara yang seolah Naya lah yang bersalah sehingga pantas dihukum seperti ini.


" Ayo, apa yang bisa kamu lakukan kalau seperti ini hah?... "


" Tu-tuan... " mungkin seruan Naya sudah tak terdengar.


" Ini masih belum seberapa, sekarang rasakan ini. " dengan sangat keras Arland menarik rambut Naya dan menenggelamkan kepalanya ke dalam bathtubnya.


" Syukur kalau kamu sesak dan tidak bisa bernapas, sama seperti hatiku yang telah kamu buat sesak. " begitulah Arland yang berbicara pada wanita yang telah ia tenggelamkan dalam bathtubnya.


Namun setelah itu Arland melihat punggung Naya.


Deg...


Seketika itu kedua bola mata Arland langsung terbelalak. Arland sangat dikejutkan dengan keadaan punggung Naya yang terdapat memar kemerahan yang hampir memenuhi seluruh bagian punggungnya.


" Na-Naya... "


" Astaga ya Tuhan... " dengan reflek Arland langsung menarik Naya yang sempat dirinya tenggelamkan.


" Uhuk... uhuk... uhuk... "


" Naya... "


" Naya." dengan reflek Arland jadi memeluk Naya.


" Uhuk... uhuk... uhuk... " dalam keadaan tubuhnya yang sudah lemas, Naya hanya terus terbatuk.


" Naya. " Arland langsung merengkuh Naya.


" Uhuk... uhuk... uhuk... " Naya terus terbatuk dan terbatuk, akibat kepalanya ditenggelamkan oleh Arland membuat Naya jadi kesulitan bernapas, dan sekarang ia pun berusaha menghirup udara yang ada di sekitarnya.


Arland hanya bisa memejamkan kedua bola matanya dengan terus memeluk Naya dengan erat.


Memar kemerahan yang ada di punggung Naya itu adalah karena ulahnya, Arland ingat jika kemarin dirinya telah mendorong tubuh Naya dengan begitu sangat keras ke dinding dapur, dan sekarang karena perbuatannya itu memberikan bekas yang tak main-main pada punggung Naya.


Arland sangat menyesali apa yang telah dilakukannya, sungguh sangat menyesalinya.


" Naya, maafkan aku. " begitulah Arland yang meminta maaf, tetapi sayangnya Arland mengucapkan permohonan maafnya itu hanya di dalam hati, Arland masih begitu sangat enggan mengakuinya secara langsung pada Naya.


Bahkan setelah apa yang terjadi, Naya masih memutuskan untuk bekerja meski tubuhnya dalam keadaan tak baik.


" Uhuk... uhuk... hah... hah... " Naya masih berusaha menghirup udara yang ada di sekitarnya dengan sebanyak-banyaknya.


Tak ada satu katapun yang keluar dari kedua belah bibir Naya, tenaganya sudah nyaris tak tersisa, dan tubuhnya juga sudah teramat lemas.


" Naya. " Arland sangat khawatir, diusapnya helaian rambut itu yang menutupi wajah Naya.


Seolah seperti pria yang tak ingin jika wanitanya sampai terluka, itulah sikap yang ditunjukkan oleh Arland.

__ADS_1


Aneh tapi nyata, Arland yang sudah dengan sengaja menyakiti Naya hingga membuatnya sampai nyaris kehilangan napas, tetapi Arland sendirilah yang kini berusaha bersikap seolah tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Naya.


" Astaga, iya, dokter, aku harus segera menghubungi dokter. " Arland baru teringat akan dokter, karena rasa tak tega dan bersalahnya pada Naya membuat Arland sampai terlupa jika harus menyelamatkan Naya.


Dalam keadaan tubuhnya dan juga tubuh Naya yang masih telanjang polos, Arland mulai menggendong tubuh Naya yang sudah tak berdaya itu.


" Bertahanlah Nay. " Arland mulai meletakkan tubuh Naya di lantai kamar mandinya.


Dengan terburu-buru Arland menggunakan handuk setengah badan untuk ia gunakan, Arland begitu cepat menggunakannya karena setelah itu ia juga harus menutupi tubuh Naya dengan handuk juga.


" Nay, Naya, kamu mendengarku kan Nay?. " dengan menyelimuti tubuh Naya dengan handuk, Arland mencoba mengajak Naya berbicara.


Tapi Naya tak ada respon, dan ini membuat Arland menjadi sangat khawatir.


Jujur Arland begitu sangat menyesali perbuatannya, tak seharusnya dirinya menenggelamkan kepala Naya hingga membuatnya pingsan seperti ini.


Karena rasa kesal dan marah, sekali lagi telah membuat Arland melakukan kesalahan yang fatal.


*****


Kedua kelopak mata indahnya masih terpejam semenjak dari dalam kamar mandi, bahkan hingga detik ini tak ada tanda-tanda jika ia akan sadar.


Tubuh Naya menjadi terlihat lebih mungil karena pakaiannya.


Karena tak ada pakaian wanita dengan terpaksa Arland memakaikan baju miliknya agar bisa Naya kenakan, tak ada rok yang bisa dipakaikan pada Naya, pakaian Naya sendiri telah habis tak tersisa karena sudah robek.


Dengan lembut Arland mengusapkan jemarinya pada kening Naya, mumpung Naya masih belum membuka matanya, Arland ingin bersikap baik padanya.


Sudah sekitar sepuluh menit Arland duduk di tepi ranjang kasurnya untuk menemani Naya, sang dokter yang dipanggilnya masih belum tiba, tentu saja hal ini membuat Arland menjadi lebih khawatir.


" Bukalah matamu Nay, jangan membuatku khawatir begini. " begitulah Arland yang berseru yang baru mengucapkan rasa khawatirnya.


Jika tak merasa menyesal mungkin Arland tak akan mau mengakui jika dirinya begitu sangat khawatir, rasa kesal, kecewa, serta egonya yang masih tinggi itulah yang membuat Arland merasa enggan untuk mengakuinya.


Namun tetap saja, sekeras apapun Arland mengelaknya, ujung-ujungnya Arland tak bisa membendung keangkuhannya sendiri, ujung-ujungnya Arland menyesali perbuatannya.


Arland masih terus memandang Naya, jika diperhatikan wajah Naya sudah tak sepucat tadi, tetapi Arland merasa aneh. Arland merasa ada yang sedikit berbeda dari Naya.


" Ada apa ini?... mungkinkah?... "


Karena sangat khawatir, membuat tangan Arland reflek menyentuh kening Naya kembali.


Deg...


" Astaga ya Tuhan, Naya demam. "


Menjadi semakin khawatirlah Arland, Naya mengalami demam, padahal beberapa menit yang lalu suhu tubuh Naya masih cukup normal, dan sekarang suhu tubuhnya berubah meninggi.


Dokter masih belum datang juga, haruskah Naya dibawa saja ke rumah sakit.


" Maafkan aku Naya, mungkin kamu tidak akan sakit seperti ini jika bukan karena aku. "


Bersambung...........


❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2