Menjadi Pembantu Ayah Dari Anakku

Menjadi Pembantu Ayah Dari Anakku
Merahasiakannya


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Sudah semenjak tadi sang mentari telah kembali ke tempat peraduannya, malam telah cukup lama menyambangi namun hingga semalam ini sosok yang ditunggu masih tak kunjung datang.


Di teras rumah mereka bertiga menunggu, dua wanita berumur dan satu anak laki-laki yang masih belum genap berusia enam tahun, ketiganya menunggu kedatangan Naya, sosok yang seharusnya kembali pulang semenjak sore tadi.


Arta yang duduk akhirnya memilih untuk bangkit, bocah laki-laki itu sudah terlalu lama menunggu kedatangan bundanya.


" Cucu nenek mau ke mana?, duduk saja nak di sini. " seru bu Aini.


" Arta tidak sabar ya menunggu bunda datang?, nenek juga heran sih, kenapa sudah selarut ini bundamu belum datang juga?, ini sudah lewat dari jam kerja, apa mungkin di rumah tuan Ar banyak sekali pekerjaannya?. " begitulah ujar Sima karena memang tak seharusnya Naya bekerja melebihi waktu yang ditentukan.


Namun Arta mengabaikan apa yang dikatakan oleh kedua neneknya, bukan karena tak peduli, hanya saja yang utama sekarang seharusnya bundanya sudah berada di rumah ini bersamanya.


" Arta, ayo duduk saja nak, kita tunggu bundamu di sini. " seru Aini lagi agar cucunya tak lagi berdiri.


" Tidak mau nenek, Alta mau nunggu bunda di depan sini. " sahut Arta bahkan tanpa menoleh pada neneknya.


Jika sikap Arta sudah seperti ini maka tak bisa lagi dicegah, Aini sangat mengenal cucunya yang satu ini.


Begitulah Arta, sosoknya yang begitu sangat menyayangi bundanya membuat bocah itu tak bisa diatur oleh siapapun jika apa yang diprioritaskannya menyangkut sang bunda.


" Aku benar-benar heran Aini, baru kali ini ART di rumah tuan Ar pulang hingga malam, seingatku selama aku bekerja di sana tidak pernah aku pulang hingga malam. " seru Sima karena memang seperti itulah selama dirinya bekerja di sana.


" Mungkin hari ini kebetulan memang banyak pekerjaan di rumah majikannya Naya, bukankah katamu tuan Ar itu adalah seorang bos besar?, pasti dia punya banyak tamu bukan?. " sahut Aini karena begitulah praduganya semenjak tadi.


Sima jadi terdiam, seingatnya tuan Ar tak suka membawa tamunya ke rumahnya, tuan Ar nya lebih suka melakukan pertemuan di luar rumahnya, jikalau ada orang lain yang datang, pasti yang datang adalah asisten pribadinya yaitu tuan Daniel. Tapi entahlah, mungkin saja jika tuan Ar memang membawa tamunya ke rumahnya.


" Kalau memang benar begitu, artinya Naya sedang kerepotan, kalau begitu aku mau susul Naya saja, kasihan anak itu kalau bekerja sendirian. " Sima berniat ingin datang ke rumah majikannya juga.


" Kamu yakin Sim?, kamu mau bantu Naya?, kalau asam uratmu kambuh lagi bagaimana?. " sahut Aini karena sepertinya tidak mungkin saudara sepupunya ini bisa membantu.


" Kalau soal kambuh atau tidak itu nanti saja sudah, kasihan kalau Naya kerja sendirian, kamu di sini dulu temani Arta, aku mau pakai jaket dulu setelah itu menyusul Naya ke rumahnya tuan Ar. " usai mengatakan kalimat panjangnya, Sima mulai bangkit.


Sima sangat kasihan jika keponakannya yang lembut itu sampai bekerja hingga larut malam.


Dari gang depan sana nampak seorang wanita sedang melangkah, ia melangkah lurus menuju ke halaman rumah ini.

__ADS_1


" Bunda, itu bunda. " Arta melihat kedatangan bundanya.


" Ya ampun itu benar Naya. " gagal sudah tindakan Sima untuk menyusul Naya.


Naya sudah kembali pulang, dan sekarang sedang berjalan menuju ke halaman rumah ini.


" Bunda, ahilnya bunda pulang juga. " betapa senangnya Arta karena bundanya telah kembali pulang.


" Ya ampun nak, akhirnya kamu pulang juga. " rasa khawatir yang sempat menggelayuti hati Aini kini telah reda.


Akhirnya sosok yang ditunggu-tunggu semenjak tadi sore tiba juga.


" Assalamualaikum. " seru salam Naya dengan nadanya yang datar.


" Bunda... "


" Waalaikumsalam. "


" Bunda... "


" Sayang. "


Menyadari putranya yang ingin segera memeluknya, membuat Naya memilih untuk bersimpuh agar sejajar dengan tubuh putra kecilnya ini.


" Bunda. " Arta langsung memeluk bundanya.


Bagaikan dilanda kerinduan yang teramat sangat, sepasang ibu dengan putranya itu berpelukan dengan sangat erat.


" Bunda, Alta lindu bunda, bunda lama sekali pulangnya. " keluh Arta tanpa melepas pelukannya.


" Maafkan bunda sayang. " hanya tiga kata itulah yang bisa Naya ucapkan.


Entah perasaan tak enak apa yang menyerang hati Arta, entah mengapa Arta merasa jika setelah ini dirinya akan jarang bertemu dengan bundanya.


" Mau sampai kapan kalian berpelukan?, ini sudah malam, sebaiknya kalian masuk. " seru Sima agar semuanya tak terpaku di teras rumahnya.


Dengan perlahan Naya mencoba melepaskan pelukan putranya, kasihan sekali putranya ini pasti putranya sangat khawatir padanya.


" Sayang, ayo kita masuk ke dalam, ini sudah malam nak. " ucap Naya.

__ADS_1


Arta hanya mengangguk saja, Arta juga ingin cepat masuk, memeluk bundanya di dalam rumah akan terasa lebih nyaman.


" Naya. " panggil Aini.


" Iya bu. " sahut Naya.


" Wajah kamu terlihat pucat, apa kamu sakit nak?. "


Deg...


Aini melihat wajah Naya yang nampak pucat pasi, meski hari sudah malam namun Aini tetap bisa melihatnya dengan jelas.


" Kamu sakit nak, pasti kamu kelelahan, ayo kita masuk sekarang, biar ibu urut badan kamu. "


" Ti-tdak bu, tidak perlu, Naya hanya mau istirahat saja, ayo kita masuk sekarang. " cepat-cepat Naya menyahutnya, dan Naya mulai menggiring tubuh Arta.


Tidak, jangan sekarang, jangan sampai ibunya tahu jika dirinya sampai sakit seperti ini karena telah disiksa oleh Arland, pasti ibunya akan sangat terkejut jika Arland adalah majikannya, belum saatnya orang di rumahnya tahu, saat ini Naya memilih untuk merahasiakannya, merahasiakan jika dirinya bekerja pada Arland.


Aini hanya bisa diam melihat Naya, Aini sangat ingin merawat putrinya yang baru pulang bekerja. Aini hanya merasa heran, sebanyak itukah pekerjaan yang harus dikerjakan oleh Naya sampai-sampai membuatnya menjadi setengah sakit seperti ini, sepertinya Naya harus melakukan pekerjaan yang lain, menjadi asisten rumah tangga adalah pekerjaan yang berat.


*****


Layar laptop yang menyala itu mendadak telah ditutup, padahal laptopnya menunjukkan rekaman cctv selama satu hari ini, akibatnya rekaman itupun otomatis jadi mati.


Arland jadi memejamkan kedua bola matanya setelah melihat semuanya. Sangat terlihat jelas dalam rekaman itu bagaimana tubuh Naya diseret dan dihantamnya dengan sangat keras pada dinding tembok.


Setelah melihat semuanya membuat hati Arland merasa sangat sakit. Arland menyesali perbuatannya, menyesal karena telah menyiksa Naya.


Arland tak mengerti mengapa hatinya menjadi sakit seperti ini, mungkinkah karena hingga detik ini sebenarnya dirinya masih begitu mencintai Naya.


" Kenapa kamu berselingkuh Nay?, coba saja jika kamu tidak mengkhianatiku pasti kita akan tetap menjadi sepasang suami dan istri hingga sekarang. " gumamnya.


Meski tadi Naya terlihat bingung dengan tuduhan absurdnya itu, tapi rasanya sangat tak mungkin, tak mungkin jika Naya tak mengerti maksud ucapannya yang ingin menunjukkan kesalahan Naya sendiri.


Bi Ijah orang yang dirinya percaya sangat jujur rasanya sangat tak mungkin berbohong, jelas-jelas bi Ijah membenarkan perselingkuhan Naya dengan pria lain, dan itu artinya Naya memang benar berselingkuh.


Jika seseorang telah berbohong mungkin Arland masih bisa memaafkannya, tetapi jika seseorang sampai berkhianat, rasanya sangat tak mungkin bagi Arland untuk memberinya ampun.


Bersambung..........

__ADS_1


❤❤❤❤❤


__ADS_2