
Selamat Membaca
🌿🌿🌿🌿🌿
Krik... krik... krik...
Suara jangkrik terdengar begitu jelas mengiringi seolah memberitahu jika sang waktu telah memasuki malam hari.
Mereka melangkah beriringan menuju ke rumah di mana mereka tinggali.
Akibat dari sibuk belanja dan melakukan pijatan, membuat keluarga kecil ini tiba di rumahnya cukup malam.
" Alhamdulillah, akhirnya tiba juga di rumah. " puji syukur bu Aini lantaran semuanya sudah sampai di rumahnya.
" Iya alhamdulillah, tidak terasa waktu sudah malam saja, untung kita sudah salat isak di luar, jadi tidak perlu salat lagi di rumah. " sahut Sima yang membenarkannya karena setelah ini wanita yang berumur itu akan segera beristirahat.
Mereka membawa barang belanjaan untuk kebutuhan sekolah Arta, mungkin hanya ada beberapa makanan saja yang dibeli untuk kebutuhan makan mereka selama seminggu.
Sudah akan masuk ke rumah namun tak ada suara apapun dari si kecil Arta, bocah laki-laki itu diam saja dengan memegang sebuah paperbag kecil yang dipeluknya dengan erat, bahkan meski sudah memiliki sepeda baru namun tetap saja barang baru yang seolah paling berharga adalah barang baru yang ada di dalam paperbagnya itu.
Meski tak terlalu nampak, namun senyuman manis tetap terpancar di wajah putra Naya, bahkan senyumannya itu sudah terlihat ketika akan keluar dari dalam mall.
" Sayang, ada apa sih nak?, kok bunda perhatikan kamu terus tersenyum dengan memeluk paperbagnya?. " tanya Naya karena jujur Naya tak mengerti dengan apa yang terjadi pada putranya.
Kemudian Arta mendongakkan wajahnya dan melihat sang bunda.
Dan kali ini senyuman itu semakin jelas terlihat.
" Alta senang kalna sudah punya handphone balu, dengan begitu Alta bisa telpon bunda kalau bunda lagi kelja. " dengan begitu polosnya Arta yang menyahut mengapa dirinya begitu senang karena barang barunya itu.
Mendengar jawaban sang putra membuat hati Naya begitu terhenyak. Sebegitu senangnya kah putranya karena sudah memiliki handphone baru, seolah ketika tak menelpon tak akan bisa menghubungi bundanya.
Mungkin itu memang benar, karena pada kenyataannya semenjak dirinya bekerja pada Arland seringkali pulang hingga larut malam sampai-sampai tak ada waktu untuk bercanda ria dengan putranya.
Arta sudah mengerti apa yang akan terjadi ketika bundanya kembali bekerja, pasti karena adanya jarak yang terjadi, sehingga ia pun menjadi antusias kala ada penghubung yang bisa menghubungi bundanya.
" Ya sudah ayo kita masuk, ini sudah mau pukul sembilan malam, ayo kita semua istirahat. " seru Aini yang akhirnya bersuara lagi.
Karena waktu sekarang sudah cukup larut malam, maka mereka harus masuk untuk beristirahat, mereka harus masuk ke rumah dengan sedikit direpotkan oleh barang-barang yang mereka bawa.
Mungkin keluarga Naya tak akan sampai di rumahnya di waktu yang selarut ini jika mereka tak melakukan pijatan untuk menghilangkan kepenatan di tubuh mereka.
Naya dan keluarganya sengaja rileksasi karena adanya rezeki tambahan yang Naya dapatkan, jika tidak, mungkin mereka tak akan melakukannya karena tak memiliki uang yang cukup.
*****
__ADS_1
Anak kecil itu melihat sepeda yang Naya tunjukkan padanya.
Terlihat beberapa kali Naya mengajaknya berbicara seolah ia sedang menunggu persetujuan dari sang bocah laki-laki itu.
Itulah kejadian yang sangat jelas Arland lihat ketika di mall kala melihat Naya bersama keluarganya.
" Sebenarnya siapa anak kecil itu?, penampilannya sangat misterius. " Arland hanya bisa berbicara di dalam hatinya.
Tak bisa dipungkiri jika sosok bocah laki-laki yang bersama Naya telah berhasil menarik perhatian Arland dan membuatnya jadi memikirkannya.
Jika memang benar anak itu adalah bocah biasa tak seharusnya penampilannya begitu sangat tertutup seperti itu, atau mungkin...
" Apa mungkin anak itu sakit?. " gumam Arland.
" Siapa yang sakit sayang?, anak kecil siapa?. " seru Sandra tiba-tiba.
Sontak Arland langsung menoleh dengan terkaget.
" Apa yang kamu lakukan Sandra?, kenapa kamu masuk ke sini?. " sentak Arland dan ia pun langsung berdiri.
" Ya ampun sayang, jangan ngegas dong, apa salahnya sih kalau aku ke sini, aku hanya ingin tahu apa yang kamu kerjakan di ruangan ini. " Sandra langsung menyahut karena respon yang Arland tunjukkan sangatlah tak baik.
Namun bukan itu yang menjadi persoalannya, Arland sangat terkejut lantaran Sandra tiba-tiba bersuara dan berada di dekatnya, bahkan ia datang ke ruangan kerjanya ini tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
" Dari awal kedatanganmu ke rumah ini memang tidak ada gunanya. " ucap Arland.
Bukannya pergi karena sindiran Arland, Sandra malah ingin diberikan tugas agar berguna.
Benar-benar wanita yang satu ini, Arland merasa sudah kehilangan kesabaran pada Sandra, namun marah pun akan percuma karena Sandra tak akan berkutik hanya karena dimarahi.
Ingin diberi tugas, memangnya apa yang bisa wanita ini kerjakan, bukankah pekerjaannya hanya menjadi tukang drama.
Dan tiba-tiba bayangan akan Naya malah muncul di kepalanya.
" Kurang ajar, kenapa juga kamu harus ingat sama si Naya Arland?, memangnya tidak ada... " Arland jadi berhenti yang membatin.
Mendadak pikirannya telah menemukan cara karena tawaran dari Sandra, bukankah Sandra ingin diberikan tugas, sepertinya ini bisa menjadi kesempatan untuk memanasi Naya.
Iya benar, selama ini Naya lebih cenderung disiksa secara fisik, sepertinya disiksa secara batin akan jauh lebih baik. Iya benar, mengapa dirinya tidak memikirkan hal ini semenjak awal, seharusnya ketika Sandra datang untuk pertama kalinya ke rumah ini tak perlu Naya disuruh untuk pulang.
Saat ini Arland merasa senang, sepertinya cara yang sangat jitu untuk membuat Naya merasa hancur adalah dengan membuatnya merasa iri dan muak, hingga sampai pada akhirnya Naya sendirilah yang ingin menyerah tetapi ia tak bisa pergi, bukankah itu sangat menyenangkan.
*****
Tok... tok... tok...
__ADS_1
" Nay, kamu belum tidur kan nak?, ini bu lek. " seru Sima dari balik pintu.
Tok... tok... tok...
Karena adanya suara ketukan pintu membuat Naya jadi membuka kelopak matanya kembali. Naya masih baru memejamkan kedua matanya, namun dibalik pintu kamarnya malah ada bu leknya yang datang membangunkan.
Tok... tok... tok...
" Nay ini bu lek, kamu masih belum tidur kan?. " panggilnya lagi.
" Iya bu lek sebentar. " sahut Naya.
Lalu Naya mulai turun dari ranjang kasurnya, pasti bu leknya ingin membicarakan hal yang sangat penting, jika tidak maka tak mungkin bu leknya mendesak membangunkannya disaat waktunya tidur seperti ini.
Ceklek...
Naya benar membuka pintu kamarnya, padahal kamarnya tak dikunci, seharusnya bu leknya bisa langsung masuk saja.
" Sukurlah kalau kamu masih belum tidur Nay. " ucap Sima dengan rautnya yang nampak serius.
" Iya bu lek ada apa?. " tanya Naya.
" Nak, sepertinya kamu sudah tidak demam lagi. " sahut Sima yang masih belum mengutarakan maksudnya secara langsung.
Naya tak langsung menyahut, memang benar jika demam di tubuhnya sudah turun, tetapi tubuhnya masih belum benar-benar nyaman.
" Ada apa bu lek?. " tanya Naya.
" Begini nak, barusan tuan Ar menghubungi bu lek, katanya kamu besok harus segera masuk kerja lagi, apapun alasannya besok kamu harus kembali bekerja. " adu Sima karena memang seperti itulah yang majikannya suruh.
Apa ini, baru saja dirinya beristirahat sudah disuruh untuk bekerja lagi. Apakah Arland tak sadar jika dirinya ini masih belum benar-benar pulih.
" Tapi bu lek sempat mengatakan pada tuan Ar kalau kamu masih belum benar-benar pulih, tapi katanya tuan Ar tidak mempersoalkan hal itu, kamu tetap harus masuk bekerja meski di sana tidak melakukan pekerjaan apapun. " lanjut Sima lagi.
Dan ini harus kembali terjadi, dirinya disuruh kembali bekerja, bahkan meski tidak melakukan pekerjaan apapun dirinya harus tetap masuk bekerja. Apakah Arland berniat ingin menjadikannya sebagai tahanan lagi.
" Ya Tuhan, mengapa harus seperti ini?, aku masih belum lama menghabiskan waktu bersama putraku, dan sekarang aku malah disuruh kembali bekerja. " Naya seperti sudah kehilangan semangat.
Bagaimana bisa seperti ini, padahal sebelumnya Arland menyuruhnya untuk beristirahat di rumahnya sendiri sampai tubuhnya ini kembali sehat dan setelah itu barulah kembali bekerja.
Meski di sana juga tak akan melakukan pekerjaan apapun namun tetap saja tak akan ada gunanya di sana, lebih baik dirinya istirahat di rumahnya sendiri sampai sembuh.
Entah apa lagi yang kali ini ingin Arland lakukan, sepertinya Arland berniat ingin mengerjainya lagi seperti kejadian yang sudah-sudah.
Jika sudah seperti ini, kapan akan ada waktu agar dirinya bisa hidup tenang, jujur Naya sudah begitu sangat muak dengan semua perlakuan Arland, dan parahnya dirinya harus kembali bertemu dengan mantan suaminya itu, mantan suami yang senangnya menyiksa mantan istrinya.
__ADS_1
Bersambung...........
❤❤❤❤❤