
Selamat Membaca
🌿🌿🌿🌿🌿
Arland melangkah dengan tergesa-gesa, Arland sangat yakin jika Naya hari ini sedang bekerja dan berada di lantai bawah.
Namun entah mengapa disaat hampir mendekati tangga rumahnya terasa seperti adanya sesuatu, Arland merasa ada sesuatu di lantai bawah sana sehingga sontak membuat langkahnya pun menjadi terhenti.
Arland mulai mendekati pagar besi pembatas lantai atas rumahnya, entah mengapa di bawah sana seperti ada sesuatu yang sangat disayangkan jika tak dirinya lihat. Dan kini Arland benar melihat ke arah bawah sana.
Dengan penuh telaten benda panjang yang mirip dengan sapu ijuk namun bagian bawahnya berbalut kain khusus itu terus ia gosokkan pada lantai.
Dengan penuh telaten Naya mengepel lantai rumah tuannya, seolah sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti ini membuat Naya terlihat begitu lihai dalam bekerja.
Hari ini adalah hari kedua dirinya bekerja di rumah tuan Ar nya, seorang majikan yang hingga detik ini masih belum dirinya tahu bagaimana orangnya.
Tubuhnya seolah menjadi membeku, setelah mengetahui apa yang telah dilihatnya membuat Arland seolah menjadi tak berdaya.
Tanpa tahu apa sebabnya, rasa amarah yang begitu memuncak di dalam dirinya seolah luruh begitu saja.
Awalnya tubuhnya memang seolah membeku, tetapi kini seolah menjadi luruh mengikuti desiran hatinya yang melunak.
Apa ini, jadi Naya lah yang sedang ada di bawah sana, dan saat ini ia sedang mengepel lantai rumahnya.
Arland benar dibuat tercengang dengan apa yang dilihatnya.
" Naya, ini benar kamu?. " gumamnya.
Rasa rindu dan tak percaya telah bercampur aduk menjadi satu.
Entah ke mana rasa amarahnya, seolah lenyap begitu saja, apakah mungkin karena melihat hadirnya Naya.
Arland melihatnya dengan jelas, Arland melihat sosok wanita yang memiliki tubuh cukup mungil yang dulu sering dirinya peluk.
Rindu, itulah yang saat ini mulai menyerang hati Arland, Arland sangat merindukan Naya.
Iya benar, inilah yang terjadi, semua rasa marah Arland pada Naya telah menjadi hilang, hilang karena kembali melihat Naya.
" Naya, aku merindukanmu sayang. " itulah yang hati Arland katakan.
Rasa marah telah berubah menjadi rasa rindu, dan kini Arland ingin mendekati Naya, wanita yang sudah enam tahun lebih lamanya tak pernah dirinya lihat, dan kini Arland tak akan menghilangkan kesempatan ini.
Dengan terburu-buru satu persatu langkahnya mulai menuruni susunan anak tangganya.
__ADS_1
" Disaat kamu sedang kritis dan koma, istrimu itu si Naya malah asik-asik sama selingkuhannya. "
Deg...
" Kalau kamu masih tidak percaya sama mama Arland, silakan tanyakan pada bi Ijah. "
Dan langkahnya kini menjadi berhenti, Arland berhenti menuruni anak tangganya setelah kembali teringat akan ucapan mamanya.
" Sial, apa yang kamu lakukan Arland?. " kesal Arland.
Arland kembali menyadarinya, Arland sadar jika dirinya hampir melakukan kesalahan.
" Dasar bodoh kamu Arland, setelah dia mengkhianatimu dan kamu masih merindukannya?, bodoh dasar bodoh kamu Arland. "
Rasa amarah telah lenyap karena menjadi rindu, dan kini rasa rindunya telah kembali lenyap menjadi amarah.
Arland kembali melanjutkan langkahnya untuk turun, kali ini Arland benar akan menghampiri Naya, entah apa yang akan dilakukannya.
Dan kali ini Arland benar ke arah di mana posisi Naya sempat mengepel.
Tunggu dulu, di mana Naya. Naya tak ada di sini, bahkan alat mengepelnya pun juga tak ada.
" Sial, rupanya kamu bisa juga ya mengecohku. "
Tempat yang dituju oleh Naya sudah pasti dapur, dan kali ini Arland akan ke sana juga.
" Sial, seperti bermain petak umpet saja. " gumamnya karena merasa telah tertipu.
*****
Senyum senang nampak terlihat jelas di wajah kedua nenek yang cantik ini, mereka senang lantaran cucu kecil mereka sudah selesai mendaftar sekolah SD.
Bukan hanya hal itu, bahkan pihak sekolah yang melihat hasil nilai raport akhir milik cucunya begitu sangat bangga, katanya cucunya ini adalah peserta didik yang menuai banyak prestasi.
" Akhirnya cucuku sebentar lagi mau masuk sekolah, bagaimana kamu senang kan Arta?. " rasa senang Aini benar-benar tiada tara.
" Iya, Alta senang nenek. " sahut Arta dengan raut wajahnya yang nampak datar.
" Loh, katanya senang?, kalau senang harusnya tersenyum. " Sima melihat sangat jelas raut wajah Arta yang nampak biasa saja.
Aini memperhatikan cucunya lagi, bahkan cucunya sudah seperti ini semenjak sebelum keluar dari rumah, ada apa dengan cucunya.
" Arta ada apa?, pagi ini kamu nampak murung nak, kenapa?, cucu nenek tidak suka jika daftar sekolah di sekolah itu?. " ujar Aini.
__ADS_1
" Tidak nenek tidak, Alta senang kok. " lalu Arta tersenyum pada neneknya.
" Ya ampun Aini, seperti kamu tidak kenal Arta saja, Arta kan wajahnya memang selalu terlihat datar. " timpal Sima karena memang seperti itulah Arta adanya.
Benar juga dengan yang dikatakan oleh saudara sepupunya Sima, cucu kecilnya ini memang cenderung dingin dan sangat jarang tersenyum.
" Mumpung masih belum pulang ke rumah kita mampir dulu ke warung bakso yuk, aku ingin makan bakso. " seru Sima.
" Ya ampun Sim, uang kamu kan sudah berkurang karena membayar biaya pendaftaran sekolahnya Arta, sekarang kamu mau beli bakso?. " Aini hanya khawatir jika uang saudaranya ini sampai habis di tengah jalan.
" Tenang saja, tidak sampai seratus ribu kok. " Sahut Sima dengan tersenyum.
" Kamu saja yang beli aku tidak. " Aini menolaknya.
" Sudah jangan khawatir Aini, aku akan teraktir kalian berdua, ayo cucu nenek kita beli bakso sekarang. " Sima mulai meraih tangan Arta.
Arta yang digandeng seperti ini hanya bisa ikut saja.
Pagi ini Arta tak bisa merasa senang, mau senang dari mana jika untuk mendaftar sekolah saja harus merepotkan banyak orang.
*****
Tang - ting...
Satu persatu piring yang telah dicucinya itu Naya bilas di bawah kucuran air kran yang mengalir.
Naya mencuci piring dan beberapa wadah makanan dari bekas makanan kemarin.
Naya hanya merasa heran, sebenarnya ke mana majikannya, dibuatkan makanan untuk sarapan tetapi malah tak dimakan.
Dan sebenarnya sosok yang Naya bingungkan saat ini sedang berada di dekat pintu.
Tuan Ar yang sering kali Naya tanyakan di dalam hatinya itu sedang berdiri tak jauh darinya dan memperhatikannya.
Dengan menyilangkan kedua tangannya di dada, Arland terus memperhatikan mantan istrinya ini yang sedari tadi tak menyadari akan kehadirannya.
Melihat Naya bekerja menjadi pembantu seperti ini jujur saja membuat hati Arland merasa sangat tak tega, namun Arland menepis rasa tak teganya itu.
Naya menjadi seperti sekarang ini adalah karena ulahnya sendiri, jika saja Naya bisa menjaga kesetiaan dengan tetap menjadi istrinya, tentulah Naya akan menjadi seperti ratu, bukan babu seperti sekarang ini.
Bersambung..........
❤❤❤❤❤
__ADS_1