Menjadi Pembantu Ayah Dari Anakku

Menjadi Pembantu Ayah Dari Anakku
Kedatangan Sandra


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Jam dinding penunjuk waktu terus berputar menunjuk setiap susunan satuan detiknya.


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, jika saja majikannya mengizinkan untuk pulang hari ini, maka seharusnya dirinya sudah bisa pulang pukul lima sore.


Naya yang masih demam hanya bisa berbaring, berbaring tanpa bisa melakukan apapun karena sedang diawasi oleh sang tuan yang dominan.


Naya melihat Arland yang sedang duduk, sudah semenjak tadi Arland duduk tapi sama sekali tak terlihat lelah.


" Kenapa kamu melihatku?. " seru Arland.


Sontak Naya langsung beralih melihat yang lainnya.


Benar-benar tak disangka, bagaimana bisa Arland mengetahui jika ia sedang dilihat, bukankah Arland sedang fokus pada berkas-berkasnya.


" Kenapa?, apa karena aku terlalu tampan sampai kamu curi-curi pandang begitu?. " lanjutnya lalu Arland mulai melihat ke arah Naya.


Naya yang ditanya seperti itu tak bisa menjawabnya, Naya jadi merutuki apa yang telah terjadi, mengapa pula dirinya harus melihat Arland, apa lagi cara melihatnya seperti orang yang curi-curi pandang.


Arland berjalan mendekati Naya, pria bertubuh tinggi itu seperti akan melakukan sesuatu.


Menyadari sang mantan suami seperti mendekatinya membuat Naya reflek jadi melihatnya lagi.


Naya jadi kembali khawatir, sekarang apa lagi yang ingin Arland lakukan, apa sekarang Arland ingin kembali menyiksanya.


Naya jadi semakin khawatir, sepertinya Arland ingin melakukan sesuatu lagi padanya.


" Tuan, tuan ingin apa?. " seru Naya.


" Ingin apa?... seenaknya kamu bertanya aku ingin apa, iya, aku ingin sesuatu, ingin memakanmu. " ucap Arland yang ingin menakuti Naya.


Naya mulai ketakutan, jawaban Arland seperti menyiratkan jika akan melakukan hal yang buruk lagi padanya, mungkinkah Arland akan bertindak tak senonoh lagi padanya.


Senyum nakal mulai terlihat di wajah tampannya, inilah yang Arland suka dari Naya, Arland suka karena melihat Naya yang ketakutan.


Ting tong... ting tong... ting tong...


Tiba-tiba terdengar suara bel pintu.


" Sial, siapa yang datang?. " gumam Arland yang merasa tak suka.


Setahunya yang tahu alamat rumahnya hanya bi Sima, Naya dan juga Daniel asisten pribadinya, tetapi kali ini siapa yang datang.


Ting tong... ting tong... ting tong...


" Astaga... dasar tamu tidak tahu diri, datang ke rumah orang seperti tukang penagih hutang. " karena begitu kesalnya, Arland pun lanjut lagi melangkah.


Gagal sudah niatnya yang ingin lanjut mengerjai Naya.


Arland berjalan melewati pintu kamarnya yang memang semenjak tadi sedikit terbuka.


Merasa lega, itulah yang Naya rasakan saat ini, setidaknya dirinya tak lagi diperlakukan buruk oleh Arland, meski ini hanya sementara namun Naya merasa sangat tertolong.


*****


Ting tong... ting tong... ting tong...


" Astagaaa... tunggu sebentar, benar-benar ya. " bahkan Arland sampai berteriak karena tamu yang satu ini.


Arland sedikit berlari untuk tiba di depan pintu rumahnya, dan akhirnya tiba juga.


Ceklek...

__ADS_1


Dibukanya pintu itu lebar-lebar.


" Sayang... aku datang. " seru seorang wanita yang datang dan memberikan senyumannya pada Arland.


" Sayang. " dan ia pun menghampiri Arland sebelum akhirnya memeluknya.


" Sayang, aku merindukanmu. " begitulah serunya dengan memeluk tubuh Arland erat-erat.


Arland terdiam, tubuhnya seolah tak bisa bergerak kala tunangannya datang dan memeluknya seperti ini.


Mengapa Sandra bisa datang ke rumah ini, apakah Daniel yang menyuruhnya.


" Sayang, aku merindukanmu, kenapa kamu lama sekali pulang?. " seru Sandra karena memang sangat merindukan Arland.


" Apa yang kamu lakukan Sandra?, lepaskan. " Arland menarik tubuh Sandra agar tak memeluknya.


" Apa yang kamu lakukan di sini?, dari mana kamu tahu alamat rumahku?. " tanya Arland.


" Ya ampun sayang, kok kamu begitu sih?, aku datang ke sini karena aku rindu sama kamu sayang. " inilah yang Sandra tak suka dari Arland, selalu saja Arland bersikap seperti orang yang tak menginginkannya.


Arland jadi menghela napasnya, Sandra datang ke rumahnya dan saat ini di kamarnya sedang ada Naya.


Ini gawat, jangan sampai Sandra mengetahui keberadaan Naya di dalam sana.


Sandra mulai membawa koper kecilnya.


" Sayang aku masuk ya. " ucap Sandra lalu wanita itu melenggang masuk begitu saja.


" Sandra jangan masuk. " Arland bergerak menghampiri Sandra.


" Sayang aku mau menginap di sini, hanya beberapa hari saja sayo, jangan halangi aku. " Sandra mendorong tangan Arland yang mencoba menghalaunya.


Ini sungguh mengkhawatirkan, jangan sampai Sandra melihat Naya di kamarnya.


" Jangan ke sana, kamu di kamar sana saja. " cepat-cepat Arland menunjuk kamar atas yang ada di pojok kiri sana.


" Di sana kamar kamu?. " tanya Sandra.


" Sudahlah jangan banyak bertanya, kamu masuk ke sana saja. " suruh Arland dan pria merampas koper kecil milik Sandra.


" Terima kasih sayang, begitu dong, dari tadi kamu langsung menyuruhku masuk kan enak?. " betapa senangnya Sandra yang akhirnya diberi tempat untuk menginap di rumah tunangannya.


Sandra merasa tak sia-sia juga yang sampai mengemis-ngemis pada Daniel agar diberi alamat rumah baru Arland, akhirnya dirinya bisa menginap juga di rumah ini, meski rumahnya tak sebesar rumah utama Arland, tapi rumah ini tetap terlihat mewah.


" Kamu tidur di kamar ini, ingat, jangan pernah keluar kamar kalau aku tidak menyuruhmu keluar. " jelas Arland.


" Loh kenapa?, kenapa aku tidak boleh keluar kamar?, kan bosan sayang. " Sandra tak suka hal seperti ini.


" Turuti saja apa yang aku suruh kalau kamu mau tinggal di sini. " tegas Arland.


" Ya ampun sayang, kamu tega sekali sama aku, kalau aku sampai seharian di kamar bagaimana?, aku bisa bosan sayang, atau mungkin aku akan mati. " sahut Sandra yang mungkin terdengar drama.


Mendengar sahutan Sandra membuat Arland jadi menatap jengah, benar-benar si Sandra ini memang tukang drama.


" Sudahlah Sandra jangan banyak drama, cepat masuk. " kali ini suara Arland jadi sedikit meninggi.


Dan Arland sedikit mendorong tubuh Sandra hingga tubuh wanita itu melewati pintu kamar.


" Tapi aku tidak sampai seharian kan di kamar sayang?. " tanya Sandra.


" Tidak, jangan cerewet Sandra. " semakin lama Arland semakin kesal saja pada Sandra.


Sandra merengut, haruskah dirinya berada di dalam kamar, jika sampai seharian di dalam kamar bagaimana, baru saja dirinya tiba di rumah ini mengapa sudah seperti tahanan saja.


" Tetaplah di kamar ini, selama setengah jam aku akan ke sini lagi. " seru Arland dan hendak menutup pintu.

__ADS_1


" Benarkah itu sayang, terima kasih sayang. "


Ceklek...


Namun Arland kembali menutup pintu kamarnya tanpa mempedulikan reaksi Sandra.


" Dasar wanita memang tukang drama. " nyaris Arland hampir kehabisan kesabarannya.


Niatnya yang ingin mengerjai Naya harus berakhir seperti ini, Naya saat ini sedang sakit, tidak mungkin dalam keadaannya yang seperti itu sampai diketahui Sandra.


Sepertinya saat ini Arland akan direpotkan oleh dua wanita yang sepertinya akan terjadi drama.


*****


Di dalam kamarnya Naya masih terus memperhatikan sang pintu, kapan Arland akan kembali masuk, itu masih belum diketahui.


Sebenarnya siapa tamu yang datang, hebat juga tamu itu karena bisa membuat Arland jadi tertahan.


Naya mulai menoleh ke arah di mana tasnya diletakkan, Naya jadi teringat dengan segepok uang yang sempat Arland berikan.


" Uangku. " serunya lalu Naya berusaha untuk bangkit.


Naya belum memeriksa apakah segepok uang yang Arland berikan itu benar berjumlah sepuluh juta atau tidak, siapa tahu Arland berbohong, bukankah Arland suka mengerjainya.


Ceklek...


Deg...


Sontak Naya langsung terkejut dan menghentikan aksinya.


" Kamu mau apa?. " tanya Arland dengan terburu-buru menghampiri Naya.


" Tuan, aku hanya ingin mengambil tasku. " sahut Naya.


" Mengambil tas atau mengambil uang?. " tanya Arland.


Naya terdiam, niatnya mengambil tasnya memang untuk mengambil uangnya.


" Heh... sudah, jangan sok polos, ini tasmu, pakai tasnya dan bawa pulang uangnya. " Arland menyerahkan tas Naya pada tangannya.


Naya tak mampu menyahut, tapi ya sudahlah, tak ada salahnya kan jika dirinya mengambil uangnya sendiri.


Arland mulai menyentuh Naya, pria bertubuh gagah itu ingin menggendong sang mantan istri.


" Ya ampun tuan apa yang tuan lakukan?. " reflek Naya karena Arland ingin menggendong tubuhnya.


" Sudah jangan tanya-tanya, bukankah kamu senang jika pulang cepat?. " sahut Arland dengan menggendong tubuh Naya.


" Tuan, aku mau dibawa ke mana?. " Naya jadi takut.


" Sekarang kamu boleh pulang, kamu bisa istirahat di rumahmu sendiri, dan kamu boleh kembali bekerja setelah kamu sembuh. " tutur Arland dengan terus menggendong Naya.


Naya terdiam, lisannya tak mampu menyahut apa lagi bertanya, apakah dirinya tak salah mendengar, Arland memberinya kebebasan.


Apa yang sudah terjadi, apakah majikannya mendapatkan ilham sampai bisa berbuat baik seperti ini.


Naya tak mau menyahut apa lagi bertanya, biarlah saat ini seperti ini, kapan lagi dirinya akan bebas jika bukan sekarang.


Ini seperti sebuah keberuntungan bagi Naya, bisa pulang dengan cepat tanpa melakukan pekerjaan rumah.


Jujur sebenarnya Arland sendiri masih ingin bersama Naya, entahlah, yang pasti Arland suka jika Naya bersamanya, namun karena kedatangan Sandra membuat semuanya jadi terhalangi.


Bersambung...........


❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2