
Selamat Membaca
🌿🌿🌿🌿🌿
Air di bathtub ini telah menenggelamkan separuh tubuhnya dan juga separuh tubuh pria yang saat ini duduk di depannya.
Naya merasa bingung harus memulainya dari mana, haruskah dirinya menggosok tubuh Arland terlebih dahulu lalu setelah itu mengguyurnya dengan air, atau langsung diguyur saja dengan air.
" Ayo cepat mandikan aku Nay, apa yang kamu lakukan?. " seru Arland karena Naya masih belum melakukan pergerakan apapun.
" I-iya tuan, aku harus bagaimana tuan?, haruskah aku menyiram tubuh tuan lebih dulu atau menggosoknya lebih dulu?. " tanya Naya pada akhirnya.
" Astaga... terserah kamulah Nay, kalau kamu mandi biasanya bagaimana?. " sahut Arland, ada-ada saja Naya, bahkan untuk mandi saja masih bingung harus memulainya dari mana.
Jadi seperti itu jawaban Arland, jika seperti itu maka Naya akan mengambil kesimpulan sesuai kebiasaannya sendiri disaat mandi.
" Cepat Nay, aku sudah ingin mandi ini. " sentak Arland.
" Baik tuan. " lantas Naya langsung menyiramkan air di dalam bathtubnya pada tubuh Arland.
Dengan perlahan Naya menggunakan kedua tangannya untuk menyiramkan air pada punggung Arland, tak sampai di sana, kepala Arland pun juga mulai Naya siram.
Naya tak tahu apakah yang dilakukannya ini benar atau salah, seingatnya sewaktu dirinya dan Arland masih menjadi sepasang suami dan istri tak pernah sekalipun mandi di bathtub, bukan karena Arland tak memiliki bathtub hanya saja Naya sendirilah kurang begitu suka jika harus mandi di dalam bathtub.
" Kalau seperti ini cara kamu memandikan tubuhku bagaimana airnya bisa mengalir dengan baik?, kalau bodoh jangan dipelihara Naya. " ujar Arland yang kembali mengkritik kinerja Naya.
Sontak Naya yang sedang asik menyiram tubuh Arland mendadak langsung menghentikan aksinya, kesalahan apa lagi yang telah dirinya perbuat sampai-sampai Arland mengatainya bodoh.
" Bukankah di sampingmu ada shower?, kenapa kamu tidak nyalakan saja showernya dan menyiram tubuhku dengan air itu?. " suruh Arland karena ternyata Naya tak bisa berbuat apa-apa.
Naya jadi menoleh ke samping tubuhnya, iya benar, ada shower di sampingnya, mengapa dirinya tak menyalakan saja showernya dan menyiram tubuh Arland, daripada menaik turunkan air dengan kedua tangannya maka tak akan efektif.
__ADS_1
" Cepat nyalakan showernya Nay, kalau seperti ini caranya kapan aku akan selesai mandi?. " Arland sudah sangat jengah pada Naya.
" Baik tuan iya, akan segera aku nyalakan. " sahut Naya pada akhirnya.
Dengan gerakannya yang cepat Naya langsung meraih shower itu lalu menyalakannya. Gara-gara merasa bingung harus berbuat apa, sampai membuat shower yang ada di sampingnya pun jadi tak terlihat.
Naya mulai mengguyur tubuh Arland dengan air yang keluar dari shower mandi itu, karena posisi duduknya yang memang lebih pendek dari Arland membuat Naya reflek jadi sedikit berdiri. Naya ingin memastikan jika bagian kepala Arland hingga pundaknya benar telah mendapatkan siraman airnya.
Tapi sepertinya Naya tak sadar dengan apa yang dilakukannya, bahkan apa yang dilakukannya saat ini malah menjadi sebuah kesempatan bagi Arland untuk menonton tubuhnya yang telanjang polos itu.
Di depan Arland dengan jarak sekitar tiga meter ada sebuah cermin berbentuk persegi panjang yang ukurannya tak terlalu besar. Di cermin itu terlihat sangat jelas ada pantulan dirinya dan juga Naya, tetapi Naya tak menyadari akan adanya cermin itu.
Arland bisa melihat dengan jelas tubuh polos Naya dari cermin itu. Semuanya benar-benar terlihat sangat jelas di pandangan kedua bola matanya, dua gunung kembar yang pernah menjadi tempat untuk menghisap madu manis kesukaannya, bentuk tubuhnya yang begitu indah, termasuk bagian di bawah sana yang menjadi bagian terfavoritnya dari semua bagian tubuh Naya, bahkan semua itu sebenarnya masih begitu sangat Arland rindukan.
Dan kali ini Arland hanya tersenyum saja setelah merasa cukup melihat pantulan tubuh dari tubuh mantan istrinya.
" Bahkan kamu tidak menyadari jika tubuhmu terlihat di cermin itu Nay, apakah sebegitu murahannya kamu sampai tak menyadari dirimu sendiri?. " sungguh Arland merasa sangat miris.
Merasa sudah cukup mengguyur tubuh Arland membuat Naya kembali duduk. Kali ini Naya ingin menyabuni tubuh Arland, Naya ingin kegiatan memandikan majikannya ini bisa segera selesai.
Naya mulai menyabuni kedua pundak Arland, dengan lembut kedua tangan mungilnya itu ia gunakan untuk mengusapkan sabunnya agar busa dari si sabun jadi semakin bertambah.
Namun tunggu dulu, Naya jadi teringat akan sesuatu. Iya benar, seharusnya rambut Arland dulu yang harus dirinya keramasi.
" Tuan, aku lupa, harusnya aku mengeramasi rambut tuan dulu, tapi ini... "
" Sudah lanjutkan saja. " sahut Arland.
Mau itu keramas dulu atau disabuni lebih dulu itu sama saja bagi Arland.
" Jangan hanya bagian di sana terus yang disabuni, sabuni di sini juga. " lalu Arland menarik kedua tangan Naya ke sela kanan dan kiri tubuhnya, lebih tepatnya Arland telah membuat tubuh Naya menjadi mengapit tubuhnya dari arah belakang.
__ADS_1
" Tuan, apa yang kamu lakukan tuan?. " reflek Naya ingin menjauhkan tubuhnya dari tubuh Arland.
" Sudah tetaplah begini. " Arland menahan kedua tangan Naya.
" Tapi tuan, a-aku tidak mau memeluk tuan begini. " Naya tak menginginkan hal ini.
" Sudahlah Nay, sekarang lakukan tugasmu, cepat sabuni dada dan perutku cepat. " Arland malah menyuruh Naya lanjut menyabuninya.
Keadaan sudah tak bisa dielakkan, jika sudah seperti ini maka pihak yang lagi-lagi harus mengalami keterpaksaan adalah Naya. Bahkan saat ini keadaan Naya dengan Arland sudah seperti seorang istri yang sedang memeluk suaminya dari arah belakang. Mereka berdua berada di bathtub yang sama seperti sepasang suami istri yang sedang mandi bersama.
" Ayo Nay, cepat sabuni dada dan perutku cepat. " Arland kembali menyentak pada Naya.
" Baik tuan, aku akan melakukannya. " sahut Naya.
Naya sudah pasrah, menolak pun akan tetap percuma.
Dan sekarang Naya benar melakukan seperti yang Arland suruh, yaitu mulai menyabuni bagian dada Arland.
" Sabun yang banyak biar badanku jadi bersih. " peringat Arland.
Naya melakukan apa yang Arland suruh. Jujur saja Naya merasa jika dirinya seperti seorang istri yang sedang memandikan suaminya, jika saja dirinya memiliki uang yang cukup untuk mengatasi semua ini sudah pasti dirinya tak akan mau melakukan hal rendahan seperti ini.
" Terus ke perut. " lanjut Arland.
Dan Naya benar lanjut menyabuni perut Arland, padahal di area kulit perutnya sudah digenangi air, jadi percuma saja jika disabuni karena busa sabunnya ikut larut bersama air.
" Terus ke bawah lagi. " lanjut Arland lagi.
Yang benar saja ke bawah lagi, bukankah itu bisa menuju ke area sensitif. Tidak, ini sudah salah, Naya merasa jika sebenarnya Arland sedang mengerjainya, bahkan mungkin sudah semenjak awal Arland mengerjainya.
Bersambung..........
__ADS_1
❤❤❤❤❤