
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Sepasang bola mata birunya begitu sangat memperhatikan sosok wanita yang saat ini mulai masuk ke rumahnya.
Melihat punggung wanita ini dari arah samping membuat Arland merasa seperti tak asing. Entah mengapa Arland merasa seperti mengenali sosok wanita yang menjadi ART barunya ini.
Arland yang awalnya berbaring memilih untuk bangkit, Arland begitu sangat penasaran dengan sosok wanita ini, karena begitu penasaran cepat-cepat tangannya melihat rekaman cctvnya yang ada di ruangan tamu rumahnya.
" Ini dia. " gumamnya.
Sontak Daniel yang mendengar gumaman tuannya jadi langsung menoleh, ternyata tuannya memperhatikan handphonenya.
Arland memperhatikan sosok itu, pasti setelah ini wajah dari ARTnya ini akan terlihat dengan jelas.
" Wanita ini... "
Deg...
Seketika itu dada Arland jadi bergemuruh, kedua bola matanya bahkan dibuat melotot karena sosok yang telah dilihatnya, Arland menjadi sangat tertegun.
Apa ini, mengapa sosok wanita yang menjadi ARTnya begitu mirip dengan Naya.
Tidak, ini tidak mungkin, tidak mungkin jika wanita dalam rekaman cctvnya ini adalah mantan istrinya.
Masih begitu sangat penasaran, Arland mulai memperbesar rekamannya, dirinya harus benar-benar memastikan apakah wanita ini memang benar Naya atau hanya mirip saja.
Nampak di dalam rekamannya sosok wanita itu telah selesai menaiki anak tangga.
Deg...
Dan kali ini Arland sungguh begitu sangat terkejut, benarkah ini, jadi wanita di dalam rekaman cctv ini memang benar Naya.
" Naya, ternyata ini memang benar kamu. "
Darah Arland seolah mendidih dibuatnya, bahkan deru napasnya menjadi lebih cepat, apa yang dilihatnya telah kembali menghidupkan api kebencian di dalam hatinya.
Setelah sekian tahun lamanya sosok ini telah muncul kembali, sosok yang telah begitu berani meninggalkannya disaat dirinya sedang butuh demi pria lain.
" Kamu yang sudah pergi dan sekarang malah datang kembali, lihat saja kali ini aku tidak akan melepaskan kamu Nay, tidak akan. "
Kali ini Arland tidaklah main-main, kemarahan dan kebenciannya pada Naya membuatnya ingin membalas dendam, dan kali ini Arland benar akan melakukannya.
Entah ini adalah sebuah kebetulan atau alam memang berpihak padanya, Naya lah yang telah datang, dan dirinya tak akan membiarkannya begitu saja.
" Tuan. " seru Daniel.
Dengan keras Arland langsung bangkit, api amarahnya membuatnya tak ingin menunda untuk membalas pada Naya.
__ADS_1
" Tuan ada apa tuan?. " Daniel jadi menghentikan kegiatannya.
Arland tak menyahut, pria itu malah melangkah saja.
" Tuan, ada apa tuan?, ada yang harus saya lakukan tuan?. " Daniel terburu-buru mengikuti tuannya.
" Siapkan penerbangannya sekarang, aku mau pulang ke rumahku cepat. " perintah Arland.
Daniel jadi terburu-buru, sesegera mungkin dirinya harus menyiapkan penerbangan untuk tuannya, ada apa lagi dengan tuannya Arland, mungkinkah ada masalah di rumah barunya.
*****
Kruek... kruek...
Bunyi khas dari dalam perut yang sedang keroncongan begitu sangat terasa.
Hari telah larut sore, namun hingga sesore ini dirinya masih belum memakan sesuap nasi pun.
Dengan melangkah gontai Naya telah melewati gang kecil ini, gang kecil yang menjadi jalan penghubung dari rumah bu leknya menuju ke rumah majikannya.
Naya merasa sangat lapar, semenjak pertama bekerja tak ada satu makanan pun yang bisa dirinya makan, bukan karena Naya tak suka dengan masakannya sendiri, hanya saja Naya merasa tak nyaman jika harus makan di rumah majikannya, dan seingatnya bu leknya sama tak berpesan agar dirinya makan di rumah majikannya.
" Kalau saja aku tahu akan seperti ini, lebih baik aku bawa makanan sendiri dari rumah. " keluh Naya.
Kruek... kruek...
" Sabar ya perut, setelah ini pasti kamu akan makan. " seru Naya dengan sambil mengusap perutnya.
Tapi tunggu dulu, bukan hanya putra kecilnya yang berada di sana, tetapi ada sosok pria lain lagi yang menemani sosok mungil itu.
" Sayang. " seru Naya kala memasuki halaman rumahnya.
" Bunda. " Arta bergegas untuk menghampiri bundanya.
Seharian tak melihat sang bunda membuat Arta begitu sangat rindu.
" Sayang, ada apa?. "
" Bunda Alta lindu bunda. " Arta memeluk bundanya dengan sangat erat.
Hati Naya menjadi berdesir, putra kecilnya ini memeluknya seolah takut kehilangan dirinya, ada apa dengan putranya, tak biasanya Arta seperti ini.
" Tenanglah nak, bunda kan sudah pulang, ayo di dalam rumah saja kalau Arta mau rindu-rinduan sama bunda. " dengan mengelus lembut kepala Arta, Naya mencoba membujuk putranya.
Dan benar saja, si kecil Arta mulai meregangkan pelukannya dari bundanya.
" Bunda lapar, bunda mau makan, ayo temani bunda makan. " ajak Naya.
Tentu saja dengan senang hati Arta akan menemani bundanya.
__ADS_1
Naya ingin masuk ke rumah, tapi di teras rumahnya sudah ada sosok pria yang tersenyum padanya, pria inilah yang sempat menemani putranya, dan Naya tahu siapa dia.
" Sore Nay, kamu sudah pulang?. " sapa Arya dengan ramah.
" Sore kak Arya, iya, Naya sudah pulang. " sahut Naya dengan sedikit canggung.
Entah apakah ini hanya perasaannya saja, Naya merasa jika sikap Arya tidaklah biasa, hal itu sudah Naya lihat semenjak setahun yang lalu.
" Kak Arya baru tiba di sini?. " tanya Naya.
" Sudah tadi pagi bunda. " namun Arta yang menyahutnya.
Benarkah, jadi Arya sudah tadi pagi datang ke rumah ini, artinya Arya sudah sangat lama di sini.
" Ya sudah kak kalau begitu Naya dan Arta mau masuk dulu. " seru Naya.
" Iya, masuklah, kamu memang harus banyak beristirahat. " sahut Arya dengan tersenyum.
Naya tak ingin berlama-lama di luar, jujur Naya merasa sangat aneh pada Arya, entah mengapa Arya seperti orang yang seolah terus ingin menatapnya, sebenarnya Arya ingin menatapnya atau memang seperti itulah cara dia melihat orang.
*****
Kendaraan besi yang memiliki empat roda itu telah kembali memasuki area garasinya.
Waktu memang berjalan dengan sangat cepat, hanya memakan waktu satu setengah jam saja, sang tuan yang menjadi penghuni rumah dua lantai itu sudah tiba di kediamannya.
Arland terburu-buru keluar dari dalam mobilnya, ini sudah menjelang magrib, Arland berharap jika Naya masih belum kembali pulang.
" Ada apa dengan taun Arland?, kenapa jadi terburu-buru seperti itu?. " jujur saat ini Daniel tak mengerti dengan tuannya, bahkan sepanjang perjalanan tuannya itu tak bicara sama sekali.
β
Di dalam rumahnya Arland jadi menoleh hampir ke segala arah, Arland ingin melihat keberadaan Naya.
" Sial... dia sudah pergi. " marah Arland.
Gagal sudah waktu untuk bertemu dengan Naya.
" Huft... " namun tunggu dulu, tenang, jangan lagi termakan oleh emosi.
Arland telah menyadari jika dirinya jangan larut dalam amarahnya, enam tahun lamanya dirinya merasa telah ditipu oleh Naya, dan kali ini dirinya jangan sampai ditipu lagi.
" Baiklah, jika begitu aku akan menggunakan cara halus untuk membalasmu Naya, lihat saja, kamu akan benar-benar sangat menyesal dan memohon ampun padaku. " Arland tak main-main, dan akan ia pastikan hal itu.
Hati dan pikiran Arland benar-benar telah dibutakan oleh dendam, kemarahan dan kebenciannya itulah yang membuat Arland begitu sangat dendam pada Naya.
Entah apa yang akan terjadi setelah ini, sepertinya Naya dalam keadaan yang tak akan baik.
Bersambung..........
__ADS_1
β€β€β€β€β€