
Selamat Membaca
🌿🌿🌿🌿🌿
" Mas Arland jangan bawa anakku pergi mas. "
" Jangan bawa anakku pergi. "
" Jangan bawa anakku pergi. "
" Hah... "
Naya pun membuka kedua matanya.
Dug dug... dug dug... dug dug...
Bahkan jantungnya berdetak dengan begitu kencang.
Naya terbangun dalam keadaan jantungnya yang berdetak hebat. Kejadian buruk yang terjadi di alam bawah sadarnya lah yang membuatnya terbangun dalam keadaan terkejut seperti ini.
Naya mulai bangkit dari berbaringnya, ternyata ini hanyalah mimpi.
" Ya Tuhan, kenapa mimpinya sangat menakutkan?. " gumamnya.
" Haaah... " dengan menghela napasnya, Naya mengusap wajahnya dengan tenang.
Naya tak menyangka jika akan bermimpi seperti itu.
Naya tak ingin sampai frustasi, jangan sampai mimpi buruk yang dialaminya menjadi hantu yang membuat hidupnya menjadi tak tenang.
Naya menoleh ke arah samping kiri tubuhnya, ternyata putranya Arta masih tidur dengan terlelap.
" Ternyata aku memang benar hanya bermimpi. " gumamnya dengan tersenyum.
Naya bersyukur karena putranya masih berada di sampingnya.
" Kamu tidurnya nyenyak sekali nak. " ucap Naya pada sang putra lalu ibu muda itu pun mulai membaringkan tubuhnya lagi.
Naya kembali berbaring di samping Arta, sebagai seorang ibu yang sangat menyayangi putranya membuat Naya benar-benar sangat takut jika harus kehilangan putranya.
Naya memeluk hangat tubuh kecil itu, tubuh kecil yang sudah menuju lebih besar karena pertumbuhannya.
" Semakin hari kamu semakin mirip dengan ayahmu nak. " gumamnya.
Naya melihat semuanya dengan jelas, Arta begitu sangat mirip dengan Arland, jika suatu hari nanti keduanya benar bertemu, maka tak akan sulit bagi Arland untuk mengenali Arta.
Jujur Naya sangat berharap jika Arland dan Arta bisa bertemu, tetapi keresahan di hatinya membuatnya menjadi ragu, apa lagi setelah mimpi buruk yang terjadi membuat Naya merasa enggan bahkan sama sekali tak ingin jika keduanya benar bertemu.
" Jangan pergi meninggalkan bunda nak, tetaplah kamu di sisi bunda. " begitulah Naya yang membisiki sang putra dengan harapan agar bisikannya ini menjadi doa yang siap mengantar hingga ke alam mimpinya.
Terasa begitu nyata namun ternyata itu hanyalah mimpi, Naya berharap semoga mimpi yang baru saja dialaminya tak menjadi kenyataan, karena jika benar itu semua terjadi, maka sangat besar kemungkinan jika dirinya akan benar kehilangan putranya.
*****
__ADS_1
Keindahan di pagi hari begitu sangat nyata terasa, menyapa setiap insan yang telah bangun dan mengiringi mereka dalam beraktivitas.
Jika di luar sana orang-orang sudah mulai disibukkan dengan aktivitas mereka, begitu pun dengan Naya, namun pagi ini Naya sangat sibuk di dalam rumah, sibuk karena mencari tasnya yang entah ke mana.
Naya menggeledah isi kamarnya, mulai dari bantal, selimut, kasur, lemari bahkan hingga ke celah jendela telah ibu muda itu telusuri untuk mencari tasnya.
" Di mana tasku ya?, aku sangat ingat kalau kemarin aku menggantung tasku, tapi ke mana tas itu sekarang?. " Naya sangat bingung.
Kemarin tas kerjanya digantung di tempat biasanya, dan sekarang tasnya tidak ada, bahkan hampir semua sudut kamarnya telah dirinya telusuri, namun tas itu tak ditemukan.
" Tasku ke mana ya?, tidak mungkin tasku ada di luar kamar. " Naya masih sangat ingat jika tasnya telah dirinya gantung di tempat itu.
Naya tak tahu harus bagaimana, di dalam tasnya terdapat uang sepuluh juta pemberian dari Arland, tetapi tas itu tak ada, dan uangnya pun juga ikut tak ada.
" Kamu sedang mencari ini Nay?. " seru Aini tiba-tiba.
Sontak Naya langsung menoleh ke arah pintu karena dari sanalah suara ibunya berasal.
" Ibu. "
Deg...
Dan Naya langsung melotot karena melihat yang dipegang oleh ibunya.
" Ibu. " seru Naya.
" Kamu mencari uang sepuluh juta ini?. " sahut Aini dengan memperlihatkan segepok uang di tangannya.
" Ibu... " begitulah Naya yang berseru dengan nadanya yang terdengar rendah.
" Ibu, apa itu uangku?, dari mana ibu dapat?. " tanya Naya dengan nadanya yang terdengar gemetar.
" Itulah yang harus kamu jelaskan pada ibu, dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak ini?. " sahut Aini balik.
Aini mulai duduk di tepi kasur milik Naya, Aini ingin mendengar pengakuan dari putrinya ini mengenai uang yang didapatkannya, dan kali ini Naya tak boleh menutupi apapun darinya.
" Duduklah di sini nak. " Aini menepuk kasur itu agar Naya mendudukinya.
Naya mendekat saja, Naya sudah menyangka pasti setelah ini ibunya akan menanyakan semuanya mengenai uang itu.
" Katakan pada ibu, dari mana kamu mendapatkan uang ini?, jangan katakan kalau kamu bisa dapat uang sebanyak ini dari hasil bekerja yang tidak halal?. " tutur Aini yang langsung menyinggung Naya.
Mendengar pertanyaan menohok dari sang ibu membuat Naya jadi menatap tajam, namun tak lama setelahnya Naya meredakan tatapannya, sepertinya ibunya salah paham dengan uang yang dirinya dapatkan.
" Ibu, apa menurut ibu Naya sangat mungkin melakukan pekerjaan yang tidak halal hanya demi mendapatkan uang?. " sahut Naya pada akhirnya yang malah bertanya balik.
Dengan masih menatap sang ibu, Naya ingin menjawab pertanyaan dari ibunya dengan bertanya balik padanya.
Aini tak langsung menyahut, wanita yang sudah berumur itu malah jadi berpikir tentang putrinya.
Dan sekarang Aini menjadi bertanya, mungkinkah putrinya Naya bisa melakukan hal serendah itu hanya untuk mendapatkan uang.
" Apa menurut ibu Naya bisa melakukan hal yang tidak baik hanya untuk mendapatkan uang?. " tanya Naya lagi.
__ADS_1
Dan benar saja, Aini malah jadi menunduk, mengapa dirinya berpikiran yang tak baik akan putrinya sementara saat ini masih menanyakannya.
Naya mulai menyentuh tangan ibunya, adalah hal yang wajar jika ibunya menanyakan pekerjaan anaknya, meski sebenarnya pertanyaan ibunya terkesan menuduh sang anak melakukan pekerjaan yang tak baik, namun Naya sebisa mungkin menekan hatinya agar tak tersinggung lebih jauh.
" Bu, uang sepuluh juta ini adalah pemberian dari majikan Naya, dia sengaja menggaji Naya di awal sekaligus memberikan bonus karena Naya sedang sakit, Naya mendapatkan uang ini dengan cara yang halal bu. " dengan nadanya yang terdengar lembut Naya mencoba menjelaskannya pada ibunya.
Aini mendengarkan penjelasan putrinya, dari kedua sorot mata Naya sama sekali tak terlihat adanya kebohongan.
Sungguh saat ini Aini jadi merasa bersalah, tak seharusnya dirinya berprasangka buruk apa lagi meragukan putrinya.
" Maafkan ibu nak. " sahut Aini dengan sedih.
" Sudah jangan meminta maaf bu, Naya bisa memakluminya kok. " Naya tersenyum pada ibunya.
" Ini uangnya Naya ambil ya?. " lalu Naya mulai meraih segepok uang itu dari ibunya.
" Uangnya jangan dihabiskan semuanya nak, ditabung lagi. " peringat Aini.
" Bu, Naya sudah mulai sehat, hari ini Naya ingin belanja untuk keperluan sekolah Arta. " sahut Naya karena inilah alasan mengapa pagi seperti ini dirinya sangat sibuk mencari uangnya.
" Di sini jauh dari pasar tradisional nak, memangnya kita mau belanja di mana?. " tanya Aini.
" Di mall, kita akan belanja di mall, kalaupun harganya beda-beda tipis ya tidak apa-apa bu, seminggu lagi Arta sudah mulai masuk sekolah, jadi kebutuhan sekolahnya harus dipenuhi sesegera mungkin. " terang Naya.
" Ya sudahlah nak, terserah padamu saja. " begitulah Aini yang menyahutnya.
*****
Tiga pria yang baru bertemu semenjak beberapa menit yang lalu nampaknya sedang berada di situasi yang cukup serius.
Ketiganya duduk bersama karena urusan pekerjaan, Arland, Daniel sang asisten dan juga pak Rahmat sang supir pribadi sengaja melakukan pertemuan ini karena perintah Arland sendiri.
Biasanya Arland akan melakukan pertemuan di luar rumahnya, tetapi karena yang disuruh datang adalah orang terdekatnya, maka tak perlu mengadakan pertemuan di luar.
" Bagaimana tuan?, apa tuan tetap berminat untuk membeli mall itu?. " seru Daniel yang ingin memastikan jawaban tuannya.
" Sepertinya iya, tapi aku ingin mengunjungi mallnya, sepertinya masih ada yang perlu dibenahi dari mall itu. " mungkin jawaban Arland terdengar mengambang.
" Baiklah tuan, kapan kita akan berkunjung?, haruskah saya menghubungi manager mallnya dulu tuan?. " tanya Daniel.
" Tidak perlu, aku mau datang ke sana tanpa sepengetahuan siapapun. " sahut Arland.
" Pak Rahmat, siapkan mobilnya sekarang, aku akan pergi sekarang. " lanjut Arland.
" Baik tuan, akan segera saya siapkan. " sahut sang supir pak Rahmat.
Tak banyak pertanyaan tak banyak waktu yang digunakan, Arland dengan secepat mungkin menyuruh orang-orang kepercayaannya melakukan apa yang dirinya suruh, sepertinya Arland memang sangat berminat untuk membeli mall itu.
Entahlah, semenjak pindah ke daerah ini, selain untuk membangun proyek barunya, sepertinya Arland akan menargetkan mall juga untuk mengembangkan usahanya. Memang dasar Arland, meski sudah menjadi pengusaha yang kaya raya, bahkan hartanya tak akan habis hingga tujuh turunan, tak membuat Arland merasa cukup.
" Sepertinya ada yang salah dengan tuan Arland, tidak biasanya tuan Arland bergerak cepat seperti ini tanpa mengetahui lebih untuk targetnya, tapi ya sudahlah. " Daniel hanya bisa bicara di dalam hatinya.
Bersambung...........
__ADS_1
❤❤❤❤❤