
Selamat Membaca
🌿🌿🌿🌿🌿
Air yang terus mengalir masih terus mengguyur tubuhnya.
Semua bagian tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki telah sangat basah kuyup.
Dengan mandi mungkin adalah salah satu cara untuk membuatnya jadi sedikit lebih damai, setidaknya air ini bisa menjadi penyejuk hatinya yang masih panas.
" Tidak, aku tidak akan menyesalinya, dia sudah mengkhianatiku maka dia harus mendapatkan balasannya. "
Arland masih ingat bagaimana ia menghantamkan tubuh Naya pada dinding di dapurnya.
Terbesit rasa penyesalan di hati Arland namun pikirannya menepis rasa penyesalannya itu.
Ini masih belum seberapa, Naya telah mengkhianati cintanya dan juga pernikahannya, rasanya terlalu sangat mudah jika Naya tak diberi balasan yang setimpal.
Arland mulai mematikan airnya, pria bertubuh tinggi itu cepat-cepat mengambil handuknya yang panjangnya hanya bisa dilingkarkan dari pinggang hingga pahanya itu.
Arland jadi teringat dengan surat perjanjian yang bisa dibuat sesuai dengan keinginannya.
Arland benar-benar sangat berniat jika tak akan melepaskan Naya.
*****
Sang mentari masih tak terlalu terik, suasana pagi menjelang siang memang sudah mulai terasa, namun tanaman-tanaman itu masih disiramnya.
Naya sangat pelan-pelan menyirami tanaman milik Arland, ternyata Arland menyukai tanaman seperti ini, padahal seingatnya mantan suaminya itu tak terlalu suka adanya banyak tanaman meski sebenarnya di rumah utamanya terdapat dua taman yang cukup lebar yang menghiasi halaman luas rumah besarnya.
Tubuhnya masih terasa sakit-sakit, apalagi di bagian punggungnya masih sangat terasa sakitnya.
" Aku tidak bisa bekerja di sini lagi, aku akan berhenti bekerja pada mas Arland. " Naya hanya bermonolog pada dirinya sendiri.
Ternyata tuan Ar itu adalah Arland mantan suaminya, jujur jika saja tahu semenjak awal tak akan mau Naya bekerja di rumah ini.
Semuanya masih begitu sangat membingungkan bagi Naya, disaat Arland amnesia dialah yang meminta untuk bercerai, tapi dia sendiri yang mengatakan jika dirinya ini adalah wanita murahan seolah jika dirinya yang meminta untuk bercerai dan meninggalkannya saat di masa sulit.
" Sebenarnya yang muarahan di sini siapa?, aku atau kamu sih mas?. " Naya baru berbicara di hatinya ketika baru menyadari adanya kejanggalan.
Setelah apa yang terjadi Naya tak ingin berlama-lama bekerja di rumah ini, hari ini mungkin adalah hari terakhir dirinya bekerja di rumah ini, dan setelah itu Naya tak akan kembali bekerja lagi.
*****
Panas matahari sudah tak terlalu terik, dan sebentar lagi sudah akan memasuki sore hari.
__ADS_1
Kini di teras rumahnya Arta beberapa kali mondar - mandir, bocah laki-laki itu memperhatikan gang kecil berpagar di depan sana untuk yang kesekian kalinya, siapa tahu bundanya sudah akan pulang.
Entahlah, tanpa tahu apa sebabnya Arta merasa sangat khawatir pada bundanya, Arta khawatir jika sampai terjadi hal yang tak diinginkan pada bundanya, itulah mengapa di waktu yang masih belum benar-benar sore ini bocah itu sudah mulai menunggu kedatangan bundanya.
" Iya ya, mana mungkin bunda datang di jam segini?, mungkin masih tinggal dua jam lagi bunda pulangnya. " layaknya anak-anak pada umumnya yang sering kali jadi tak sabar menunggu kedatangan orang tuanya pulang dari kerja itulah yang nampak pada si kecil Arta hari ini.
Hari kemarin Arta merasa rindu pada bundanya yang baru satu hari kerja, dan sekarang Arta merasa khawatir pada bundanya seolah akan terjadi sesuatu yang tak baik pada bundanya itu.
" Ya Tuhan lindungi bunda, amin. " dalam diamnya yang berbalut rasa khawatir, Arta mendoakan bundanya.
Arta hanya berharap semoga kekhawatiran ini hanyalah perasaannya saja yang tak akan menjadi nyata.
Mungkin memang dengan yang dikatakan oleh orang jika seorang anak juga bisa ikut merasakan apa yang dialami oleh orang tuanya.
*****
Semakin ke sini rasanya menjadi semakin takut, tapi dirinya harus sedikit memberanikan diri agar tak lagi terbelenggu akan sesuatu yang mungkin saja akan membuat dirinya menjadi semakin sakit.
Dengan perlahan langkah Naya sudah hampir tiba di depan kamar Arland, Naya masih sangat takut dengan mantan suaminya itu setelah apa yang tadi terjadi.
Hinga selangkah, dua langkah, tiga langkah dan akhirnya sepasang kakinya itu benar berhenti tepat di depan pintu kamar Arland.
" Huft... tenang Naya. " Naya mencoba untuk menurunkan rasa gugupnya.
Ada sebuah guci bening yang tak terlalu jauh dari posisi Naya berdiri saat ini, dari guci itu terlihat sangat jelas bagaimana kedua matanya yang nampak masih sembab, tapi ya sudahlah, biarkan saja seperti ini, biarkan saja mantan suaminya itu tahu jika dirinya terlalu lama menangis sehingga membuat kedua kelopak matanya menjadi sembab seperti ini.
Tok...
Tok...
Tok... tok...
Dengan perlahan Naya mengetuk pintu itu, mungkin karena ada rasa takut sehingga menghasilkan suara ketukan pintu yang terdengar unik.
Tok... tok... tok...
" Tuan, ini saya Naya. " seru Naya pada akhirnya.
Ceklek...
Tak menunggu waktu lama, pintu kamar Arland pun telah dibukanya.
" Kamu, kenapa kamu di sini?, menggangguku saja. " sahut Arland dengan ketus meski hatinya tak demikian.
" Tuan saya ingin bicara sesuatu. " akui Naya.
__ADS_1
" Apa tuan?... baguslah kalau kamu sadar, iya kamu memang harus memanggilku tuan karena aku ini adalah majikanmu. " Arland merasa perlu mengatakan hal ini agar Naya tahu di mana posisinya.
Dengan masih berdiri Naya masih agak bingung harus bagaimana cara memulainya.
" Apa?, kamu mau bicara apa?. " tanya Arland.
Bagaimana ini, bagaimana cara mengutarakannya.
" Kamu diam?, katanya mau bicara, ya sudah ayo katakan mau bicara apa?. " tanya Arland namun jadi sedikit menggertak.
" Ya sudah kalau kamu tidak mau menjawab, aku masih ada urusan, lebih baik kamu lanjut bekerja... "
" Tuan, saya ingin berhenti bekerja, saya mau mengundurkan diri tuan. " sahut Naya pada akhirnya.
Deg...
Seketika itu Arland jadi sangat tersentak mendengar pengakuan Naya.
" Apa katamu?, mau mengundurkan diri?, kamu pikir ini lelucon?, ingat Nay kamu ini sudah terikat kontrak jadi kamu tidak bisa main berhenti begitu saja. " menjadi tersulutlah emosi Arland.
" Tapi tuan saya benar-benar mau berhenti bekerja... "
" Tidak bisa, kamu tidak bisa berhenti bekerja karena bi Sima sudah menandatangani surat kontrak kerjanya, jadi jika kamu sampai berhenti bekerja maka kamu akan dikenakan ganti rugi. "
Deg...
" Jadi jangan coba-coba kamu berkeinginan untuk berhenti bekerja padaku sementara kamu masih terikat kontrak, bukankah kamu bekerja di sini karena menggantikan bi Sima?. " Arland jadi khawatir mengetahui Naya yang berniat untuk berhenti bekerja, tetapi dirinya tak akan membiarkan hal itu.
Sungguh sangat menyedihkan, Naya merasa jika ini sudah mulai sangat merugikan dirinya, mengapa harus ada kontrak kerja seperti ini, padahal seingatnya bu lek Simanya tak menerima uang apapun dalam kesepakatan kerjanya.
Kontrak kerja ini hanyalah kontrak kerja seorang asisten rumah tangga, bukanlah hal yang terlalu besar bukan jika seorang pembantu ingin berhenti bekerja, karena jika berhenti bekerja sekalipun pihak majikan tak akan dirugikan.
" Kenapa?, apa kamu ingin berhenti karena pria lain?. "
Deg...
" Kamu khawatir jika kamu tidak lagi bisa bersenang-senang dengan dia karena kamu terikat kontrak kerja padaku. " dengan tatapannya yang tajam Arland ingin melihat bagaimana pandangan Naya tentang pria selingkuhannya itu.
Apa ini, pria lain siapa yang Arland maksud, Naya tak mengerti dengan maksud pembicaraan Arland.
" Kamu tidak bisa pergi saja dariku jika bukan aku yang memutuskan kamu untuk pergi. " lantas Arland langsung meraih tangan Naya dan menariknya.
" Ah tuan apa yang anda lakukan?... " Naya sangat tersentak kala Arland tiba-tiba saja menarik paksa tangannya.
Arland tak menyahut, pria bertubuh tinggi itu terus menarik tubuh mantan istrinya untuk ia bawa ke dalam kamarnya, entah apa yang ingin dilakukannya saat ini, namun yang pasti apapun yang akan dilakukan Arland akan merugikan Naya.
__ADS_1
Bersambung.........
❤❤❤❤❤