
Selamat Membaca
🌿🌿🌿🌿🌿
Kain bertekstur lembut yang telah dilipat hingga ketebalan yang sangat terjangkau itu telah beberapa kali dilekatkan pada keningnya.
Dengan telaten Arland mengompres kening Naya, Arland mengompresnya dengan air biasa bukan dengan air hangat, meski tak menjamin jika apa yang dilakukannya akan membuat Naya bisa sembuh dari demamnya setidaknya dengan mengompres seperti ini akan mengurangi suhu panas Naya.
" Kapan kamu akan sadar Nay?, kamu lama juga ya tidurnya?. " seru Arland di sela-sela kegiatan mengompresnya.
jejeran obat yang telah dipesannya dari apotek satu pun masih belum ada yang dibuka, bahkan semangkuk bubur yang telah Arland siapkan sendiri sudah mulai berkurang suhu panasnya.
" Nay, Naya, ayo buka matamu, kalau kamu belum sadar juga akan sangat gawat Nay. " begitulah Arland yang mengatakannya bahkan Arland menggerakkan lengan Naya.
Arland sengaja menggoyangkan lengan Naya agar Naya merasa terusik dan akhirnya terbangun.
" Ayo Nay bangun-bangun. " seru Arland dengan terus menggoyangkan lengan Naya.
Arland akan terus melakukannya sampai Naya bisa sadar, terlihat tega memang, bukan Arland namanya jika tak tega, apa yang Arland lakukan sebenarnya adalah bentuk reflek dari rasa khawatirnya, karena khawatir jika Naya tak kunjung sadar, maka cara inilah yang Arland lakukan.
Karena tubuhnya terasa seperti terus mendapatkan guncangan tentulah membuat Naya menjadi terusik, tubuhnya masih begitu lemah, namun guncangan ini seperti tak memikirkan hal itu.
Dalam keadaan lemah Naya seperti akan membuka kedua kelopak matanya, harus bagaimana lagi, akibat adanya guncangan pada tubuhnya membuat Naya akan sadar juga.
" Nay, Naya, kamu sudah sadar Nay?. " Arland melihat kedua kelopak mata Naya yang mulai mengerjap.
Dalam keadaan lemah Naya mulai membuka kedua matanya, dan akhirnya Naya benar membuka matanya.
Kedua sudut bibir Arland menjadi tertarik setelah melihat keadaan Naya, akhirnya Naya sadar juga.
Naya memandang ke arah atas, hal pertama yang dirinya lihat yaitu langit-langit sebuah ruangan. Naya tak mengerti dirinya berada di ruangan apa.
" Kamu sudah sadar Nay?. " seru Arland dengan nada suaranya yang datar.
Naya merasa sangat tak asing dengan suara itu, dan suara itu seperti berasal dari arah samping tubuhnya.
Deg...
Sontak Naya jadi membulatkan kedua bola matanya, baru saja dirinya membuka mata sudah ada Arland yang duduk di sampingnya.
" Tu-tuan. " kaget Naya dan wanita itu hendak bangkit.
" Akh.. hah... "
" Naya... "
Reflek Arland langsung menyentuh Naya kala mendengar suara pekikannya.
" Badanku, kenapa sakit-sakit ssh...?. " seru Naya yang merasa jika tubuhnya seperti linu-linu.
" Apa yang kamu lakukan?, berbaringlah. " seru Arland lalu pria itu mendorong tubuh Naya dengan lembut agar kembali berbaring.
Naya melihat Arland dan juga melihat keadaannya, apa ini, mengapa dirinya memakai baju pria.
__ADS_1
" Tuan, apa yang terjadi?, kenapa aku menggunakan baju pria?, ini... kamar tuan kan?. " dalam keadaan bingung Naya sangat yakin jika dirinya sudah tidur di kamar Arland.
Mendengar pertanyaan Naya membuatnya terlihat lucu bagi Arland, mengapa Naya masih bertanya seperti itu, apakah Naya lupa dengan apa yang sudah terjadi.
Naya merasa jika tubuhnya begitu terasa hangat dan linu-linu, apa lagi di bagian punggungnya, masih tak kunjung selesai rasa sakitnya.
" Minumlah air ini lebih dulu. " ucap Arland dengan menyodorkan segelas air putih pada Naya.
Naya melihatnya dengan jelas, Arland menawarinya segelas air minum.
" Ayo minum airnya Nay, aku tidak mau berlama-lama memegang gelas ini. " tegas Arland.
Dan benar saja, Naya jadi kembali bangkit dari berbaringnya.
" Cepat minum ini, setelah itu makanlah buburnya, dan setelah itu minumlah obatmu, di sana sudah ada resepnya. " seru Arland dengan kalimatnya yang terdengar unik.
Mendengar ucapan Arland membuat Naya sedikit tak menyangka, baru kali ini dirinya mendengar Arland berbicara runtut seperti itu.
Arland mulai bangkit dari duduknya, nampaknya pria blasteran itu akan melakukan pekerjaan yang lain.
" Lakukan apa yang aku suruh, jika dalam lima belas menit kamu tak kunjung melakukannya, maka jangan salahkan aku jika memaksamu lagi. " peringat Arland dengan kalimatnya yang lagi-lagi mengandung ancaman.
Usai mengucapkan kalimatnya itu, Arland langsung berbalik badan, pria bertubuh tinggi itu mulai melangkah meninggalkan Naya, entah apa yang ingin dilakukannya.
Kini Naya hanya bisa memperhatikan Arland dengan masih memegang gelas yang berisi air minumnya.
Kali ini Arland terlihat berubah, tak ada lagi sikap bengisnya seperti saat di kamar mandi, padahal tadi hatinya sudah sangat khawatir jika Arland akan kembali menyiksanya, tetapi tidak, Arland malah mau merawatnya dan memberinya obat.
" Sebenarnya kamu kenapa sih mas?, kamu begitu sangat marah padaku. "
*****
Di luar sana sang mentari sudah lumayan condong ke ufuk barat, bahkan sinarnya telah menembus kaca jendela di sebelah barat juga.
Tanpa terasa waktu telah memasuki sore hari, berada di dalam kamar seorang diri seperti ini rasanya begitu sangat membosankan.
Waktu telah memasuki sore hari, dan tak lama lagi sudah seharusnya baginya untuk pulang, tetapi jika itu diizinkan oleh Arland.
Saat ini Naya merasa sangat bersyukur, setelah apa yang terjadi ternyata Arland tak lagi menyuruhnya untuk bekerja.
Demam di tubuhnya masih begitu terasa meski itu tak sekuat tadi. Naya kembali mencoba bangkit, wanita cantik itu ingin berniat menemui Arland, Naya ingin pulang sore ini, siapa tahu Arland mengizinkannya.
" Mau ke mana kamu Nay?. " seru Arland tiba-tiba.
Naya melihat Arland yang berada di ambang pintu.
" Apa yang kamu lakukan?, bukankah aku menyuruhmu untuk beristirahat?. " ucap Arland lagi lalu pria itu menghampiri Naya.
Naya yang sudah terlanjur duduk bisa melihat tubuh Arland dengan sangat jelas, dan apa itu, Arland seperti memegang segepok uang.
" Kamu mau ke mana Nay?, sakit-sakit tapi seperti mau melakukan sesuatu?. " tanya Arland ketika pria itu berdiri tepat di depan Naya.
Pandangan Naya kali ini tertuju pada tangan kanan Arland, ternyata memang benar, Arland memegang segepok uang ratusan ribu yang entah berapa jumlahnya.
__ADS_1
Naya mulai memandang wajah Arland yang ternyata Arland juga memandangnya, dan memang sudah semenjak awal Arland memandangnya seperti ini.
" Tuan, aku mau minta izin. " seru Naya pada akhirnya.
" Minta izin?, minta izin apa lagi?. " dan benar saja, Arland langsung menunjukkan raut tak sukanya.
Lagi-lagi ini sikap yang Arland tunjukkan, kapan dirinya meminta izin berkali-kali, bukankah sepertinya baru kali ini yang meminta izin, seingatnya seperti itu, mengapa begitu sangat miris bekerja pada Arland, seperti tahanan saja.
" Tuan, aku mau minta izin pulang sore ini, aku mau istirahat di rumahku saja tuan. " pinta Naya.
" Tidak boleh, enak saja kamu yang mau pulang. " Arland benar menolaknya.
" Tapi tuan, percuma juga aku di sini, aku sedang sakit dan tidak bisa melakukan pekerjaan apapun. " Naya berharap Arland mau mempertimbangkannya.
" Pokoknya tidak bisa, kamu baru bisa pulang jika aku yang mengizinkan untuk pulang, kamu baru bisa pulang setelah kamu sembuh. " tegas Arland.
Deg...
" Apa tuan?... setelah sembuh?... " betapa terkejutnya Naya yang mendengar keputusan Arland.
" Iya, setelah kamu sembuh, jika kamu masih belum sembuh maka kamu tidak bisa pulang. " jelas Arland.
" Tapi tuan bagaimana bisa seperti itu?, aku di rumah punya keluarga tuan, kalau aku sampai tidak bisa pulang bagaimana?, jangan jadikan aku sebagai tahanan tuan. " Naya sampai lesu yang mengatakannya.
Arland diam, untuk sejenak pria bertubuh tinggi itu memang merasa kasihan, tapi melepaskan Naya adalah hal yang tak mungkin.
" Itu mudah, keluargamu hanya bi Sima bukan?, jangan terlalu khawatir, aku yang akan menghubunginya, aku akan katakan kalau selama beberapa hari ini kamu tidak bisa pulang karena masih ada pekerjaan. " sahut Arland yang dengan begitu mudahnya ia mengatakannya.
Seolah luruhlah tubuh Naya, padahal dirinya begitu sangat berharap jika Arland mengizinkannya untuk pulang, tetapi mengapa malah jawaban seperti ini yang dirinya dengar.
Apakah Arland pikir keluarganya hanya bi Sima saja, di rumahnya masih ada ibunya dan juga seorang putra yang harus dirinya urus.
Andai saja Arland tahu jika apa yang dilakukannya membuat dirinya bersama putranya Arta menjadi terpisah, padahal putranya itu masih terlalu kecil jika harus jauh dari bundanya.
" Ini uang sepuluh juta, uang ini untukmu, silakan kamu bawa pulang uang ini setelah kamu sembuh dari sakitmu. " dengan mengucapkan kalimatnya, Arland meletakkan segepok uang yang ternyata berjumlah sepuluh juta di samping Naya.
Naya memperhatikan uangnya, apa maksud semua ini, jadi inikah alasan mengapa Arland melarangnya pulang karena menjaminnya dengan uang sebanyak sepuluh juta.
" Uang ini gajimu, aku sengaja menggajimu di awal, plus... aku menambah gajimu hingga sepuluh juta. " Arland mengatakan hal ini agar Naya jadi tak salah paham.
Apa, jadi ini adalah gajinya, memangnya berapa gajinya perbulan, tidak mungkin kan hanya tiga juta setiap bulannya.
Meski merasa seperti tahanan, setidaknya masih ada setitik jalan yang dapat membantu ekonomi keluarganya, sebentar lagi putranya Arta sudah akan masuk sekolah, dengan uang ini dirinya bisa membeli seragam, tas, sepatu dan juga sepeda untuk putranya itu.
Arland yang melihat perubahan pada raut Naya jadi tersenyum samar, ternyata sangat mudah untuk memperdaya Naya, hanya dengan uang yang sebenarnya berjumlah tak seberapa sudah membuat Naya nampak berubah, padahal sebelumnya Naya terlihat begitu sangat sedih, tapi sekarang kesedihannya seolah menghilang.
" Heh... hanya dengan uang segitu membuat kesedihanmu jadi berkurang, sebegitu murahnya kamu Naya. " seperti itulah Arland yang mengatai Naya.
Arland tak tahu jika betapa Naya membutuhkan uang, uang yang harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan putranya.
Mungkin bagi Arland uang sebanyak itu tidaklah berarti apa-apa, tapi bagi Naya uang sebanyak itu memiliki banyak manfaat ketika digunakan, terutama untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Bersambung..........
__ADS_1
❤❤❤❤❤