
Selamat Membaca
🌿🌿🌿🌿🌿
Kicauan burung-burung sudah terdengar bersahutan, apa lagi di atas pepohonan sana terdengar begitu banyak suara kicauan burungnya, burung-burung itu berkicau seolah menyambut hari baru, hari yang akan selalu ditempuh demi hidup yang lebih baik.
Malam yang panjang memang begitu cepat berlalu, padahal baru semalam hendak meraih mimpi yang indah, tapi kini telah berganti saja menjadi menjelang pagi.
Hatinya saat ini menjadi sedih kembali, rasanya masih belum sepenuhnya rasa rindunya ini terbayarkan, tapi kini harus kembali berpisah, memang benar hanya berpisah sementara setelah itu kembali bertemu, tetapi berpisah seperti ini harus dilakoninya dalam setiap hari.
dari ufuk timur sana sang mentari masih belum terbit, namun keluarga kecil bu Aini sudah berada di teras rumah demi menggiring kepergian Naya.
Si kecil Arta masih belum melepaskan genggamannya dari sang bunda tercintanya, rasanya begitu berat bagi Arta jika setiap hari harus merelakan bundanya untuk pergi bekerja, memang benar jika bundanya Naya akan tetap kembali ke rumahnya, hanya saja dirinya merasa khawatir jika bundanya kembali pulang hingga larut malam lagi.
" Ibu, bu Lek, Naya harus berangkat bekerja. " seru Naya lalu wanita itu berjongkok di depan putranya.
" Iya, bekerjalah nak, bekerja dengan baik. " sahut Aini.
" Nay, kalau kamu lapar kamu makan saja di rumah tuan Ar, tuan Ar itu orangnya baik kok, kalau soal makanan tuan Ar tidak pernah hitung-hitungan orangnya. " terang Sima karena menurutnya Naya masih sungkan jika harus makan makanan di rumah majikannya.
Naya hanya sedikit tersenyum yang mendengarnya, mungkin Arland memang bukan orang yang perhitungan soal makanan, tetapi beda lagi jika dirinya yang bekerja di sana, jangankan untuk memakan makanan yang telah tersaji, ditawari untuk makan saja tak pernah Arland suruh. Tapi ya sudahlah, hal seperti itu tak perlu diberitahu, bu leknya mana mengerti dengan apa yang dialaminya, lebih baik dirinya memang harus rutin membawa bekal sendiri agar ketika bekerja nanti tak merasa lapar.
Dan sekarang Naya harus berpamitan pada putra kecilnya, lagi-lagi harus seperti ini, harus kembali meninggalkan Arta.
Dengan lembut Naya merengkuh kedua bahu Arta, kasihan sekali putranya ini karena harus kembali dirinya tinggalkan.
" Sayang, bunda mau berangkat kerja dulu, Arta jangan nakal ya di rumah, harus nurut sama nenek. " seru Naya yang tak pernah bosan mengingatkan putranya.
" Bunda pulang sole kan?. " sahut Arta yang malah menanyakan kapan waktunya bagi bundanya akan pulang.
Naya tak langsung menyahut, lidahnya seolah tak mampu bergerak untuk mengeluarkan untaian kata sebagai jawabannya. Apakah dirinya akan pulang nanti sore sama sekali tak bisa dipastikan, di dalam surat perjanjian itu tertera dengan jelas jika dirinya selaku asisten rumah tangga baru boleh pulang jika sang majikan mengizinkannya untuk pulang.
" Bunda. " seru Arta.
" Iya sayang?. " reflek Naya.
" Bunda akan pulang nanti sole kan?. " Arta ingin memastikannya sekarang.
" Maafkan bunda nak, bunda tidak bisa janji, mungkin bunda baru akan pulang jika pekerjaan bunda sudah selesai. " dengan berat hati Naya harus mengatakan hal ini.
Dan benar saja, seketika itu Arta jadi tertunduk lesu. Mengapa harus jawaban seperti ini yang harus dirinya dengar, jika bundanya baru selesai bekerja malam hari bagaimana, itu terlalu lama.
" Sayang, anak bunda, maafkan bunda ya nak, Arta jangan sedih ya. " Naya kembali memeluk putranya.
Mengapa harus sesulit ini, niatnya untuk berpindah profesi dari seorang pedagang kue menjadi asisten rumah tangga adalah demi mencapai kehidupan yang lebih sejahtera, akan tetapi apa yang terjadi, dirinya malah jarang ada waktu untuk anaknya.
__ADS_1
Aini yang menyaksikan keadaan putrinya dan cucunya merasa begitu sangat miris, semakin ke sini keadaan seolah semakin tak baik, haruskah Naya berhenti saja bekerja sebagai pembantu, jika tidak, maka hal seperti ini akan terus terjadi.
" Yang sabar ya nak, bunda janji kalau bunda sudah gajian nanti kita akan beli handphonenya Arta, jadi kalau kamu rindu sama bunda kamu bisa telpon bunda nak. " Naya mengatakannya sebelum akhirnya melepaskan pelukannya.
" Benalkah itu bunda?, jadi Alta mau dibelikan handphone?. " kedua bola mata Arta mulai nampak berseri.
" Iya sayang bunda janji, bunda akan belikan handphone khusus untuk Arta, jadi kalau Arta sedang rindu sama bunda Arta bisa menelpon bunda. " sahut Naya dengan jelas lagi.
" Asiiik... Alta mau dibelikan handphone, telima kasih bunda. " sungguh Arta sangat senang dengan kabar ini.
" Waah... kamu bisa juga sesenang ini ya Arta?, nenek kira kamu akan selalu cuek. " jujur Sima sangat tercengang dengan sikap Arta kali ini.
Mungkin Arta memang terlihat berbeda dari anak-anak kebanyakan, namun seberbeda apapun Arta tetap saja ia adalah seorang anak yang bisa merasa senang ketika mendapatkan sesuatu, dan kali ini Arta menunjukkan sikap senangnya itu.
Melihat putra kecilnya tersenyum seperti ini membuat hati Naya begitu sangat bahagia, akhirnya dirinya bisa melihat senyuman lebar dari putra semata wayangnya lagi.
Meski yang akan diberikan adalah sebuah hadiah sederhana namun sudah membuat putranya ini begitu sangat senang. Jika sudah seperti ini Naya jadi semangat bekerja, semangat bekerja karena berbekal senyuman dari putranya.
*****
Pintu pagar besi yang memiliki tinggi seukuran dadanya mulai Naya buka.
Kali ini Naya nampak terburu-buru, tak lama lagi matahari sudah akan terbit dan dirinya masih belum menyiapkan masakan untuk majikannya.
" Akhirnya kamu datang juga. "
Deg...
Betapa terkejutnya Naya kala suara Arland muncul secara tiba-tiba.
" Tu-tuan. "
Bagaimana ini, mengapa Arland sudah berada di teras saja.
" Tu-tuan, sudah di luar?. " tanya Naya.
" Seperti yang kamu lihat. " sahut Arland dengan singkat.
Ini benar-benar gawat, Arland sudah mengetahui jika dirinya datang terlambat, pasti setelah ini Arland akan kembali menyiksanya.
" Kenapa kamu masih diam?, apa kamu tidak ingin melakukan tugasmu?. " Arland berseru dengan nadanya yang datar.
" Iya tuan aku akan segera masak. " sahut Naya.
" Sudah terlambat, aku sudah makan bubur, apanya yang perlu masak?. "
__ADS_1
Deg...
Semakin tertegunlah Naya dibuatnya, jadi majikannya Arland sudah sarapan, dan itu artinya dirinya sudah terlambat untuk memasak. Tapi mana mungkin seperti itu, bukankah ini masih belum pukul enam pagi. Sebenarnya siapa yang terlambat, dirinya yang terlambat memasak atau Arland yang terlalu pagi memulai sarapannya.
" Kenapa kamu hanya diam?, kamu mau bekerja atau tidak?. " tanya Arland.
" I-ya tuan, aku mau bekerja. " sahut Naya.
" Ikut aku. " dua kata itulah yang Arland ucapkan untuk mengajak Naya.
Semakin ketar-ketirlah hati Naya, sekarang apa lagi yang ingin Arland lakukan, siksaan apa lagi yang akan pria itu berikan demi kepuasannya.
*****
Naya mengikuti apa yang Arland suruh, dan kini keduanya telah berada di kamar mandi pribadi milik Arland.
" Tu-tuan, aku diajak ke kamar mandi, apa aku disuruh membersihkan kamar mandimu tuan?. " seru Naya.
Naya memperhatikan bathtub besar yang telah terisi oleh Air mandi.
" Sekarang buka bajumu. " suruh Arland.
" A-apa tuan?. " apakah dirinya salah mendengar.
" Apa suaraku masih belum jelas?, aku menyuruhmu untuk membuka bajumu. "
Deg...
" A-apa tuan buka baju?. " betapa tersentaknya Naya yang mendengarnya.
Apa ini, mengapa Arland malah memerintah hal yang tak senonoh.
" Kenapa kamu masih diam Nay?, aku menyuruhmu untuk membuka bajumu, sekarang buka bajumu. " perintah Arland lagi dan kali nadanya mulai meninggi.
" Tuan itu tidak mungkin, aku tidak bisa melakukannya tuan. " Naya tak bisa jika melakukan apa yang Arland suruh.
" Kamu berani menentang petintahku Nay?. "
Deg...
Bagaimana ini, sungguh Naya begitu sangat takut, Naya merasa sudah habis dibuatnya. Tidak, jangan, tidak mungkin dirinya membuka baju di depan Arland.
" Ya Tuhan bagaimana ini?, tidak mungkin aku membuka bajuku di depan mas Arland. "
Bersambung.........
__ADS_1
❤❤❤❤❤