
Selamat Membaca
🌿🌿🌿🌿🌿
Suasana taman terasa begitu sejuk, siapapun yang duduk dan berdiam diri seperti ini di taman ini pasti akan merasa nyaman.
Lingkungannya yang hijau serta banyaknya tanaman bunga menjadikan taman ini terlihat begitu cantik.
Tak jauh di sana riuhan suara anak-anak terdengar cukup nyaring, nampaknya mereka sangat gembira bisa menikmati waktu dengan bermain di taman ini.
Di jalanan kecil Arta sedang mengayunkan sepedanya, bocah laki-laki itu merasa sangat senang karena akhirnya bisa bermain ke taman setelah cukup lama tinggal di daerah ini.
Naya hanya duduk tersenyum dengan sambil memperhatikan sang putra yang bermain sepeda seorang diri. Tak perlu banyak orang yang berada di dekat putranya untuk membuatnya senang, cukup bermain sendiri dengan hal yang digemarinya telah membuat putra semata wayangnya itu merasa senang.
Arta mengayunkan sepedanya melewati jalanan berkelok dan berputar di taman ini, betapa sangat menyenangkan jika bermain sepeda di jalan semacam ini.
" Arta pelan-pelan nak yang mengayunkan sepedanya. " Naya mengingatkan sang putra dengan nada yang sedikit meninggi.
Namun sepertinya Arta kurang begitu menanggapi peringatan bundanya, bocah laki-laki itu terlalu asik bermain sampai lupa dengan keadaan di sekitarnya.
Sepertinya Arta lupa jika mengayun sepeda dengan cepat di jalan yang berkelok seperti ini akan besar kemungkinan membuatnya terjatuh.
Bukannya waspada dengan hal itu, Arta malah semakin kencang mengayun sepedanya, jika sudah seperti ini bukan hanya Arta yang akan celaka, orang lain yang ada di depannya pun juga bisa tertabrak olehnya.
" Hah... om... "
Bruk...
Brakkk...
Dan benar saja, Arta menabrak seorang pria yang tengah berdiri bersama pasangannya, Arta terjatuh ambruk bersama sepeda kesayangannya.
" Artaaa... " Naya pun jadi berteriak kala melihat putranya terjatuh.
Ternyata benar, akibat dari ulahnya sendiri Arta benar terjatuh.
" Aduuuh... sakit. " Arta kesakitan dengan memegangi lutut dan tangannya.
" Ya ampun, dasar anak kecil, apa kamu buta tidak melihat orang berdiri?. " Sandra kekasih dari Arland jadi marah pada Arta.
Ya, pria yang telah si kecil Arta tabrak itu adalah Arland. Arta tak sengaja menabrak Arland karena kecerobohannya, tetapi Arland sosok yang ditabraknya sama sekali tak jatuh, pria bertubuh tinggi itu tetap berdiri dengan kokoh, yang ada Arta lah yang jatuh bersama sepedanya.
" Aduh, lututku. " dengan menahan rasa sakitnya, Arta berusaha untuk bangkit.
Arta sadar jika sudah melakukan kesalahan dengan menabrak seseorang, maka dirinya harus segera meminta maaf pada orang yang telah ditabraknya.
__ADS_1
" Om, Alta minta maaf, Alta tidak... " disaat itulah Arta jadi menghentikan kalimatnya.
Kedua bola mata itu dibuat sangat terkesan dengan sosok pria dewasa yang ada di hadapannya.
Apa lagi Arland, Arland begitu dibuat tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana mungkin ada seorang anak kecil yang begitu sangat mirip dengannya.
Jika orang lain menilai pasti mereka akan berpikir jika anak kecil ini adalah putranya, iya itu sudah pasti karena anak kecil ini memiliki kemiripan yang bisa dikatakan bagaikan pinang dibelah dua dengannya.
Si kecil Arta tiada hentinya menatap pria yang juga menatapnya, wajah pria ini begitu sangat mirip dengannya, pasti pria ini adalah ayahnya.
" Kamu... siapa kamu nak?. " seru Arland yang pada akhirnya mulai bersuara.
" Ayah, ini ayahnya Alta kan?, ini Alta ayah. " sahut Arta yang merasa yakin jika pria yang berdiri di depannya ini adalah ayahnya.
" Alta?... " Arland merasa bingung karena tiba-tiba anak kecil ini memanggilnya ayah.
" Aku Alta ayah bukan Alta. " Arta berusaha mengatakan jika namanya adalah Arta, bukan Alta.
" Arta?... " tanya Arland.
" Iya ayah Alta. " sahut Arta dengan mengangguk yakin.
" Arta putraku. " Arland tak percaya ini, akhirnya dirinya bertemu dengan putranya.
" Ayah. "
Karena sudah bertemu dengan putranya, Arland pun mulai menggendong tubuh mungil itu.
Akhirnya dirinya bisa memeluk putranya, Arland bersyukur karena bertemu dengan putranya.
" Ayah, Alta sayang ayah. " dengan memeluk erat sang ayah, Arta ingin ayahnya tahu betapa dirinya sangat menyayangi ayahnya.
" Ayah juga sangat menyayangimu nak. " tak bisa digambarkan lagi bagaimana rasa bahagia yang Arland rasakan saat ini.
Arland bahagia karena ternyata dirinya memiliki seorang putra dan sekarang dirinya menggendong dan memeluk putranya.
Mengapa Naya tak pernah mengatakan jika jika ia telah melahirkan putranya, tidakkah Naya sadar betapa bahagianya dirinya karena memiliki seorang anak.
" Lepaskan putraku... " teriak Naya.
Naya bergerak ingin mengambil sang putra Arta dari rengkuhan Arland, tak akan dirinya membiarkan Arland mengambil putranya.
Namun masih belum sepenuhnya Naya meraih tubuh mungil itu, Arland telah berhasil menjauhkannya darinya.
" Apa yang kamu lakukan mas?, lepaskan putraku. " seru Naya agar Arland tak melakukannya.
__ADS_1
Mendengar hal ini membuat Arland jadi mengerutkan keningnya, apa dirinya tak salah mendengar.
" Apa katamu?, kamu menanyakan aku melakukan apa?, tentu aku menggendong putraku, seharusnya aku yang bertanya kenapa selama ini kamu berbohong jika memiliki anak dariku?, apa kamu ingin menjauhkan aku dari putraku?. " inilah yang ingin Arland tanyakan, kali ini dirinya tak akan melepaskan putranya.
Dan benar saja, seketika itu Naya menjadi terdiam, Naya tak tahu harus menjawabnya dari mana.
" Bunda, Alta sudah beltemu sama ayah, Alta bahagia bisa melihat ayah, Alta mau tinggal sama ayah bunda. " seru Arta yang mengungkapkan betapa ia ingin tinggal bersama ayahnya.
Rasa takut kehilangan yang teramat sangat seketika itu langsung menyerang hati Naya, apa ini, mengapa Arta mengatakan hal seperti ini, apakah putranya ini ingin meninggalkannya dan lebih memilih tinggal bersama ayahnya.
Tidak, ini tidak boleh terjadi, Naya tak ingin kehilangan putranya, Naya tak sanggup jika harus kehilangan putra satu-satunya.
" Ayo putra ayah ikut ayah, kita pergi sekarang, kita tinggal bersama di rumah ayah. " seru Arland pada Arta yang mengajaknya pulang ke rumah aslinya.
" Iya ayah, Alta mau ikut ayah. " sahut Arta dengan yakin.
Tak ada hal lain lagi yang harus Arland urus, putra kandungnya telah kembali padanya, maka putranya harus tinggal bersamanya.
" Mas, jangan bawa Arta pergi mas, aku tidak bisa jauh dari anakku. " Naya berusaha menghampiri Arland yang sudah membawa putranya.
" Mas, aku mohon jangan bawa anakku pergi, aku ibu yang melahirkannya jangan ambil anakku dariku mas. " Naya berhasil menahan Arland.
" Hei wanita gila, apa yang kamu lakukan?, lepaskan tunanganku. " tak terima Naya menyentuh sang kekasih Arland, membuat Sandra menarik tangan Naya dan menghempaskannya.
" Mas, jangan bawa putraku mas jangan, biarkan Arta bersamaku. " bahkan air matanya sampai terjatuh agar putranya tak dibawa pergi oleh sang mantan suami.
" Apa yang kamu lakukan Nay?, Arta adalah putraku, jadi jangan menghalangi aku untuk membawanya pergi. " Arland tak peduli jika Naya harus jauh dari Arta.
Arta adalah putranya, penerusnya yang akan mewarisi semua kekayaannya.
" Mas aku mohon jangan bawa anakku pergi hiks hiks... jangan bawa Arta pergi maaas... " Naya sampai berteriak dalam seruannya.
Namun Arland tetaplah Arland, yang tak peduli dengan siapapun yang mengganggu apa yang ingin diinginkannya.
" Mas Arland jangan bawa anakku pergi maaas... hiks... hiks... "
" Jangan bawa anakku pergi mas jangaaan... "
Namun Arland terus pergi dengan membawa putranya.
Sepasang ayah dan putranya itu serta kekasihnya Sandra juga terus pergi dan meninggalkan Naya.
" Mas Arland jangan bawa anakku pergi mas, mas Arlaaand... "
Dan apalah daya, Naya hanya bisa terus berteriak agar putra kecilnya itu tak dibawa pergi sementara ia pun telah pergi dengan dibawa ayahnya.
__ADS_1
Bersambung...........
❤❤❤❤❤