
Selamat Membaca
🌿🌿🌿🌿🌿
Sepasang kaki jenjang dan kokohnya melangkah dengan lumayan cepat, di luar ruangan rumahnya sudah ada sang dokter panggilan yang datang.
Ting tong... ting tong...
" Iya sebentar. " sahut Arland.
Bel pintu rumahnya kembali berbunyi, rupanya dokter yang datang itu terbilang kurang cukup sabar sehingga membuat Arland pun jadi melangkah dengan lebih cepat.
Ting tong... ting tong...
" Ya ampun astaga, benar-benar dokter itu. " geram Arland lalu ia pun memegang pegangan pintunya.
Ceklek...
Arland membuka pintu rumahnya dengan lebar-lebar.
Dan benar saja, sosok pria berbaju putih lengkap dengan tas dinas yang ditentengnya telah berdiri dengan tegap.
" Selamat pagi tuan, saya dokter Malik, saya mendapat panggilan dari tuan Ar untuk datang memeriksa di sini. " seru dokter itu dengan ramah yang ternyata bernama dokter Malik.
" Aku yang menyuruhmu datang ke sini, sekarang masuklah, cepat periksa, dia sedang sakit. " begitulah Arland yang menyahutnya dengan nadanya yang datar.
Melihat respon tuan Ar yang nampak dingin membuat dokter Malik jadi sedikit tertegun, dokter Malik merasa aneh dengan sosok pria yang ternyata tuan Ar, ternyata benar dengan yang dikatakan oleh asistennya di rumah sakit jika orang yang menghubunginya seperti orang yang beku.
" Dokter, aku menyuruhmu datang ke sini untuk memeriksa seseorang, bukan untuk diam berdiri dengan menatapku. " ujar Arland pada akhirnya.
" Maaf tuan, baiklah tuan. " dengan reflek dokter Malik pun jadi mulai masuk. Gara-gara dibuat tertegun oleh tuan Ar membuat sang dokter Malik jadi beku juga.
*****
Arland melangkah masuk ke kamarnya dengan lumayan cepat, dokter Malik pun mengikutinya.
" Sekarang periksalah, dari tadi dia belum membuka matanya juga. " Arland memperlihatkan keadaan Naya pada dokter Malik.
" Baik tuan, saya akan memeriksa nona. " sahut dokter Malik tetapi di hatinya jadi sedikit bingung.
Dokter Malik mendekati sosok wanita yang akan diperiksanya, siapa wanita ini, mengapa tuan Ar menyebutnya dengan dia, jika wanita ini adalah istrinya mengapa tak langsung katakan saja, namun ya sudahlah itu adalah urusan tuan Ar.
Seperti kebiasaannya, dokter Malik mulai memasang stetoskopnya.
__ADS_1
" Maaf tuan. " tiba-tiba dokter Malik jadi berhenti.
" Kenapa?, kamu tidak mampu memeriksanya?. " tanya Arland.
" Tidak tuan bukan begitu, saya hanya ingin bertanya siapa nama nona ini?, ya bukan apa-apa tuan, mengetahui nama pasien akan membuat saya lebih mudah menyebutnya. " terang dokter Malik yang sebenarnya ingin adanya kerja sama.
" Naya. " sahut Arland.
Dokter Malik pun mengangguk, namanya terdengar indah, sangat cantik jika nama Naya disematkan pada seorang perempuan.
Dokter Malik mulai melakukan tugasnya, dokter pria yang sudah hampir lima belas tahun berprofesi sebagai seorang dokter itu mulai memeriksa tubuh Naya.
Nona Naya memakai baju pria, mungkin baju ini milik tuan Ar, mungkin nona Naya adalah istrinya tuan Ar.
Dengan sangat hati-hati dokter Malik memeriksa Naya.
Jujur dokter Malik merasakan adanya sesuatu yang seharusnya tak terjadi pada tubuh pasiennya.
Dokter Malik dibuat geleng-geleng dari hasil pemeriksaannya.
" Ada apa?, apa terjadi sesuatu padanya?. " tanya Arland.
Dokter Malik mulai membuka stetoskopnya, apa yang dialami oleh nona Naya adalah masalah yang serius.
" Tuan, sebelum saya menjawab pertanyaan anda bolehkan saya meminta izin pada anda lebih dulu tuan?. " seru dokter Malik.
Arland menduga jika dokter yang dipanggilnya ini tak mengerti juga dengan apa yang diperiksanya.
" Maafkan saya tuan, sebagai seorang dokter saya tidak ingin bersikap lancang. " sahut dokter Malik.
" Kamu ini dokter atau bukan?, kalau kamu memang tidak bisa mengobatinya ya sudah kalau begitu pergi saja. " Arland jadi mulai kesal pada dokter Malik.
Dan kali ini dokter Malik menjadi sangat terkejut, ternyata seperti ini sikap tuan Ar, begitu bengis.
" Kamu tidak bisa mengobatinya bukan?, ya sudah kalau begitu pergi sana. " suruh Arland.
" Bukan seperti itu maksud saya tuan Ar, saya ingin meminta izin lebih dulu karena saya tidak ingin bertindak senonoh, saya ingin memastikan lebih dulu apakah nona Naya ini istri tuan Ar atau bukan, karena saya berniat ingin memeriksa bagian tubuh nona Naya yang lain. " jelas dokter Malik.
" Apa katamu?, kamu mau melecehkan Naya, iya begitu?. " Arland jadi marah.
Arland mendekati dokter Malik dan menarik bajunya.
" Beraninya kamu ya?, apa kamu ingin hidupmu hancur hah?... "
__ADS_1
" Tuan, ya Tuhan, anda salah paham tuan. " dokter Malik mencoba melepaskan kedua tangan Arland.
" Salah paham apanya?, jelas-jelas kamu ingin melecehkan Naya. " emosi Arland sudah tak bisa dibendung, seharusnya Arland mendengarkan penjelasan dokter Malik lebih dulu.
" Tuan, saya meminta izin pada tuan untuk lebih lanjut memeriksa nona Naya karena saya menduga jika nona Naya mengalami kekerasan, dan saya harus memeriksa bagian tubuhnya yang lain untuk memastikannya tuan. " dokter Malik berusaha menjelaskan dengan sekuat tenaganya.
Dan benar saja, seketika itu Arland langsung terdiam.
Menyadari jika tuan Ar tak lanjut berulah membuat dokter Malik melepaskan cengkraman tuan Ar.
" Seharusnya anda jangan emosi tuan, saya bersedia datang ke sini karena niat yang baik. " dokter Malik masih berusaha untuk tetap baik.
" Jika tuan memang tidak mengizinkan saya memeriksa nona Naya lebih lanjut baik, saya tidak akan lanjut tuan. " ada-ada saja, baru kali ini dokter Malik datang memeriksa tetapi malah diserang.
Arland tak mampu bersuara, pria bertubuh tinggi itu seolah mati kutu. Rasa malu, merasa bodoh telah bercampur aduk menjadi satu. Karena sentimennya yang tinggi membuatnya sekali lagi menjadi kalap, tak seharusnya dirinya seperti ini.
Dokter Malik sedang menulis sesuatu pada selembar kertas.
" Ini tuan, ini adalah resep obat yang dapat menurunkan demam nona Naya, tuan bisa membeli obatnya di apotek. " terang dokter Malik lalu meletakkan kertas yang bertuliskan itu di atas kasur.
Usai meletakkan kertasnya dokter Malik mulai kembali memasukkan alat-alat pemeriksaannya pada tas dinasnya, nampaknya dokter Malik telah marah.
" Jika begitu saya permisi dulu tuan. " usai mengucapkan kalimatnya yang berpamitan, dokter Malik mulai melangkah pergi.
Merasa sangat jengkel itulah yang menyelimuti hati dokter Malik, niatnya datang ke tempat ini adalah untuk menunaikan tanggung jawabnya yang mulia, tetapi yang didapatkan adalah perlakuan yang tak pantas.
Tak ada lagi untaian kata yang keluar dari kedua belah bibir Arland, semuanya sudah kacau.
Arland tak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya, disaat mengetahui jika Naya akan diperlakukan tak senonoh oleh pria lain entah mengapa membuatnya begitu sangat marah, sampai-sampai dokter yang berniat untuk mengobati Naya pun menjadi sasarannya.
" Tidak, tidak mungkin aku merasa cemburu, untuk apa juga aku merasa cemburu?. "
Hati terluar Arland memang mengatakan seperti itu, tetapi di lubuk hatinya yang paling dalam seolah menyangkalnya.
Semuanya sudah kacau, Naya yang masih demam dan belum sadarkan diri, dokter Malik yang nyaris dihajar oleh Arland, semua itu terjadi adalah karena ulah Arland sendiri.
Sepertinya Arland memang berubah menjadi sosok yang sangat tempramental.
Arland memperhatikan Naya, bahkan Naya masih terpejam setelah keberisikan yang terjadi.
Naya demam, dan bisa dipastikan jika Naya tak boleh pulang ke rumahnya, jika Naya kembali pulang, maka besar kemungkinan jika orang rumahnya akan mengetahui dengan apa yang dialaminya.
Lagi-lagi Arland jadi merasa menyesal, dirinya mengira jika menyiksa Naya secara fisik tak akan membuatnya sakit, tetapi Naya benar sakit dan sepertinya harus menjalani perawatan.
__ADS_1
Bersambung..........
❤❤❤❤❤