
Selamat Membaca
🌿🌿🌿🌿🌿
" Aduh sakit, sakit tuan. " Naya tak mampu menahan tubuhnya karena tarikan keras dari Arland.
" Aww... " dan tubuh mungil Naya jadi tersungkur ke lantai kala Arland melepaskan tarikannya.
Brakk...
Dengan keras Arland menutup pintu kamarnya lalu menguncinya.
Kini, di ruangan yang lebih kecil ini Arland dan Naya berada.
Sepasang manusia yang pernah menjadi sepasang kekasih ini harus berada pada keadaan yang sebenarnya tak tahu persis akan masalah yang terjadi diantara mereka.
Dan kali ini yang sangat merasakan takut adalah Naya.
Naya sangat takut karena hanya berdua dengan Arland, Naya takut jika Arland sampai melakukan hal yang tidak-tidak padanya. Apa yang ingin Arland lakukan, mengapa pintu kamarnya sampai dikunci.
Tak ingin jika dirinya sampai diperlakukan tak senonoh oleh Arland membuat Naya terburu-buru untuk bangkit. Tidak, jangan, jangan biarkan Arland melakukan hal itu padanya.
Arland memperhatikan Naya, sangat terlihat jelas bagaimana Naya nampak takut, bahkan dari begitu takutnya sampai membuat kedua tangannya meremas bajunya.
Melihat Naya seperti ini membuat Arland jadi menarik kedua sudut bibirnya. Inilah yang Arland inginkan, yaitu melihat Naya yang merasa takut padanya.
" Kenapa kamu begitu?, apa kamu merasa takut padaku?. " sangat terlihat dengan jelas senyuman Nakal Arland.
Naya mulai melangkah mundur, Arland mulai mendekat padanya, pasti Arland akan berulah lagi.
Arland terus melangkah mendekati Naya, dan Naya terus melangkah mundur menghindari Arland, Arland sangat suka ini, apalagi ketakutan dari kedua bola mata Naya semakin bertambah saja.
Deg...
Kali ini keterkejutan benar menghantui hati Naya, langkahnya sudah terhenti karena tepat berada pada batas dinding dapur.
Bagaimana ini, mengapa jadi seperti ini, bagaimana jika Arland sampai melakukan sesuatu yang buruk padanya.
" Kamu takut padaku?, iya kamu memang harus takut padaku. " dan Arland menggunakan kedua tangan kekarnya untuk mengapit sisi kanan dan kiri tubuh Naya.
Dug dug... dug dug... dug dug...
__ADS_1
Jantung Naya berdetak dengan begitu kencang, ini bukan berdetak kencang karena jatuh cinta melainkan karena begitu sangat takut.
Arland mencoba mendekatkan wajahnya pada wajah Naya, memiliki tubuh yang tinggi tak membuat Arland kehabisan cara untuk mengerjai sang mantan istri.
" Kenapa kamu takut?, bukankah kamu suka jika ada pria yang memperlakukanmu seperti ini?. " Arland mengatakannya karena itulah yang ia tahu tentang Naya.
Mendengar hal ini membuat Naya jadi mengernyit bingung, apa maksud ucapan Arland.
" Wah... rupanya kamu jago berakting ya? hahahaha... " dan Arland menarik kembali kedua tangan kekarnya itu.
Pok... pok... pok...
Tepuk tangan ria sengaja Arland lakukan, tepuk tangan ini bukanlah tepuk tangan pujian akan prestasi, melainkan tepuk tangan ini adalah tepuk tangan pujian akan sindiran.
Sungguh Naya menjadi semakin bingung, apa maksud ucapan Arland yang absurd itu.
" Aku heran, kamu lebih memilih pria lain daripada aku, dan sekarang coba lihat dirimu, menjadi seorang pembantu. " Arland sangat suka menghina seperti ini.
" Maaf, apa maksud tuan?, demi pria lain?, pria lain siapa tuan?. " sahut Naya pada akhirnya setelah sekian lama wanita itu diam.
Arland langsung menatap tajam pada Naya, inilah yang sangat membuat Arland geram, mengapa sangat sulit bagi Naya untuk mengakui yang sebenarnya.
" Tapi aku benar-benar tidak mengerti maksud kamu mas. " dan Naya menyebut kata mas lagi pada Arland.
Apa lagi ini, mendadak pikiran Arland jadi terasa penuh, sudah jelas-jelas Naya berselingkuh dan lebih memilih meninggalkannya demi selingkuhannya itu, tapi mengapa tatapan Naya tak menunjukkan hal demikian.
" Mas, katakan, apa maksudmu bicara seperti itu?, pria apa yang kamu maksud?. " Naya ingin tahu maksud yang sebenarnya, apakah ini alasan yang membuat Arland sampai bersikap kasar padanya, Arland merasa cemburu pada pria lain.
" Jadi kamu masih tidak mau mengakuinya?. " tanya Arland.
" Apa yang harus aku akui?. " sahut Naya.
Baiklah, Arland merasa jika Naya masih tak mau mengakuinya.
" Kamu masih berbohong padaku Nay, oke tidak masalah, tidak masalah jika kamu masih mau berpura-pura polos seperti ini, tapi aku tidak akan tertipu lagi karenamu Nay. " lagi-lagi Arland tersenyum nakal saat mengucapkan kalimatnya.
Biarlah Naya tetap terus pada kepura-puraannya dan Arland juga akan tetap pada rencananya.
Arland mendekati kasur ranjangnya, di atas sana sudah ada sebuah surat kesepakatan yang telah dirinya buat sendiri, Arland benar-benar ingin mengikat Naya dalam sebuah perjanjian, karena hanya dengan cara itulah Naya akan tetap berada pada jangkauannya.
" Sekarang cepat tanda tangani surat perjanjian ini, dan kamu wajib melakukannya. " Arland menyodorkan sebuah surat pada Naya lengkap dengan penanya.
__ADS_1
" Ini surat perjanjian apa mas?. " tanya Naya.
" Jangan panggil aku mas lagi, tapi panggil aku tuan, sekarang cepatlah tanda tangani surat ini, cepat. " Arland tak mau jika Naya harus berlama-lama menandatangani surat yang sudah susah-susah telah dirinya buat ini.
Mau tak mau Naya terpaksa menerima surat yang entah apa isinya.
Naya mulai membaca isi suratnya, mau dibaca atau tidak sekalipun sepertinya tetap akan memberatkannya.
Deg...
Apa ini, baru di peraturan nomer tiga yang telah dirinya baca sudah berisi peraturan yang kurang mengenakkan.
" Apa ini?, kenapa harus ada kesepakatan jika aku boleh bekerja dan pulang sesuai ketentuan anda tuan?. " Jujur Naya sangat keberatan dengan aturan semacam ini.
" Iya, aturannya seperti itu, aku adalah majikan dan kamu adalah pembantu, sebagai seorang pembantu kamu harus patuh pada perintah majikan. " Arland mempertegas ucapannya agar Naya sadar akan statusnya.
Menjadi terpojoklah Naya, jika sudah seperti ini Naya jadi tak bisa berkutik, memang benar jika dirinya adalah seorang pembantu, dan sebagai seorang pembantu haruslah melakukan apa yang disuruh oleh majikannya, tetapi bagaimana jika apa yang disuruh Arland adalah hal yang tak baik, sangat tak mungkin jika dirinya sampai melakukan hal yang tak baik itu.
Bagaimana ini, Naya mengalami sebuah dilema, jika dirinya menolak menandatangani surat perjanjian ini dan memutuskan untuk berhenti bekerja sudah pasti akan disuruh ganti rugi, tetapi jika sepakat sekalipun tetap saja dirinyalah yang akan dirugikan, ketentuan dalam surat kontrak ini hanyalah menguntungkan sepihak, dan di sini pihak yang diuntungkan adalah Arland.
Mengapa harus seperti ini, jujur di dalam lubuk hatinya yang paling dalam Naya merasa sangat sedih, sepertinya memang tak ada sedikitpun adanya sisa rasa cinta Arland padanya, dan itu sudah sangat jelas, jika tidak, tak mungkin Arland sampai begitu tega menyakitinya secara fisik.
" Kenapa kamu diam hah?, aku menyuruhmu untuk tanda tangani surat itu bukannya diam, cepat tanda tangan. " Arland malah kembali menyentak pada Naya.
" Baiklah tuan, baiklah jika itu memang maumu, aku akan tanda tangani surat ini. " bahkan kali ini kedua bola mata Naya jadi berkaca-kaca.
Tanpa bertanya apapun lagi, Naya mulai mendekati ranjang kasur sebelum akhirnya meletakkan surat itu dan menandatanganinya.
Jika memang akan hancur karena Arland biarlah semuanya benar hancur, tetapi satu yang Naya harapkan, semoga apapun yang dilakukannya mulai saat ini dan seterusnya tak sampai memberikan dampak yang buruk pada putra dan juga ibunya.
" Ini tuan, aku sudah menandatanganinya sesuai perintah tuan. " Naya menyodorkan kembali surat itu pada Arland.
" Bagus, harusnya memang sudah tadi kamu melakukannya. " dengan penuh rasa senang Arland mengambil kembali surat itu.
Akhirnya apa yang diinginkannya berhasil dirinya dapatkan, kali ini Naya benar-benar berada dalam genggamannya.
" Bersiaplah menuju hari yang lebih menyengsarakan Naya. "
Bersambung..........
❤❤❤❤❤
__ADS_1