
Selamat Membaca
🌿🌿🌿🌿🌿
Dengan bergantian semua menu makanan yang telah dimasak mulai dibawa ke meja makan, menu makanannya terbilang sederhana, hanya ada sayur kuah bening, tahu dan tempe goreng, serta sambal terasi dan juga kerupuk.
Meski semua menu makanan yang dibuat itu tak semewah makanan di restoran, namun mereka sudah sangat bersyukur, mereka bersyukur karena hari ini masih bisa memasak dan akan segera memakan hasil masakan mereka.
Seperti pesan bundanya, Arta sedari pagi membantu kedua neneknya memasak, meski kinerjanya tak seberapa setidaknya Arta bisa belajar cara memasak dari nenek Aini dan juga nenek Simanya.
Dan kini tinggal langkah terakhir, yaitu membawa air minum untuk diletakkan di meja makannya, Arta membawa dua botol yang berisi air minum.
" Arta memang anak hebat, suka sekali membantu. " puji bu Sima yang merasa bangga dengan kemampuan Arta.
" Arta memang seperti ini anaknya Sim suka membantu orang tuanya. " Aini mengatakan seperti ini karena mengira jika Sima masih belum tahu kebiasaan Arta.
" Hebat sekali, masih sekolah TK tapi sudah bisa diandalkan. " puji Sima.
" Sudah lulus nenek, Alta sudah lulus sekolah TKnya. " akui Arta.
Deg...
" Haaa... sudah lulus?, kamu sudah lulus sekolah TK Arta?. " Sima yang hendak akan duduk jadi terhenti.
Arta diam saja, biarkan nenek Simanya mengerti sendiri.
Sima tak percaya ini, jadi Arta sudah lulus sekolah TK, itu artinya sebentar lagi Arta akan masuk SD, Sima mengira jika Arta akan pindah sekolah TK ke daerah ini, tapi ternyata Arta sudah lulus.
" Kamu kaget ya Sim?. " tanya Aini.
" Iya, aku sangat kaget. " sahut Sima.
" Sudah jangan terlalu kaget, ayo kamu lanjut lagi kalau mau duduk, kita sarapan sekarang. " Aini jadi merasa lucu setelah tahu bagaimana raut kaget Sima.
" Iya-iya, kamu benar Aini, ayo kita sarapan sekarang. " dan Sima benar duduk di kursinya.
Seharusnya Sima lah yang menawarkan keluarganya untuk sarapan, tetapi karena rasa kagetnya akibat Arta membuat Sima jadi lupa.
" Arta nasinya mau ambil sendiri atau nenek Sima yang ambilkan?. " Sima mencoba menawarkan bantuannya pada Arta.
" Alta ambil sendili nek, sudah, nenek salapan saja, jangan tellalu hawatil sama Alta... "
Tok... tok... tok...
Pagi-pagi sudah terdengar adanya ketukan pintu.
Tok... tok... tok...
" Assalamualaikum. "
" Siapa ya pagi-pagi begini ketuk pintu?. " gumam Sima.
__ADS_1
Tok... tok... tok...
" Assalamualaikum. "
" Apa pintunya mau aku buka Sim?. " tanya Aini.
" Tidak perlu Aini, sepertinya aku kenal suaranya, kalian berdua sarapan saja biar aku yang membuka pintunya. " centong nasi yang sempat dipegangnya telah Sima lepas kembali.
Tertunda sudah kegiatan untuk sarapan, Sima harus membuka pintu rumahnya.
Tok... tok... tok...
" Assalamualaikum bu Sima. "
" Iya tunggu sebentar, ini mau saya buka pintunya. " sahut Sima lalu wanita itupun mulai memegang gagang pintunya.
Ceklek...
" Assalamualaikum bu. "
Masih belum pintu itu benar-benar dibukanya, tamunya lagi-lagi mengucap salam.
" Waalaikumsalam... oh... nak Arya. " ternyata yang datang Arya.
" Pagi bu Sima. " sahut pemuda itu yang ternyata Arya.
" Pantas saja ibu merasa seperti mengenali suaranya, ternyata kamu yang datang, kamu mau ketemu sama ibu kan?. "
" Iya bu, ini, Arya bawa buah-buahan. " Arya langsung menyodorkan plastik putih yang berisi buah itu.
Dengan tersenyum ramah Arya mengangguk, Arya tersenyum, dan senyumannya memanglah manis.
" Ayo nak masuk, sekalian kita sarapan bersama. " ajak Sima.
" Terima kasih bu. " sahut Arya.
Sima membawa buah sekaligus membawa orang yang memberinya buah itu. Terakhir kali Arya datang ke rumahnya sekitar dua bulan yang lalu, dan itupun membawa oleh-oleh juga.
" Ayo kita semua sarapan. "
Arta dan bu Aini sudah melihat siapa tamunya, tamu ini bukankah tamu yang sewaktu hari raya tahun kemarin datang ke rumah ini.
Arta masih tak lupa dengan sosok pria yang saat ini duduk berhadapan dengannya, bukankah pria ini bernama Arya, pria yang sewaktu hari raya tahun kemarin suka mencuri-curi pandang pada bundanya.
" Pasti om Alya sudah dengal kabal kalau bunda tinggal di sini, jika tidak, tidak mungkin pagi-pagi sepelti ini dia datang. " Arta tetap bersikap tenang meski sudah tahu dengan apa maksud kedatangan tamunya nenek Sima.
*****
Dengan perlahan sepasang kakinya itu ia langkahkan menaiki setiap susunan anak tangga.
Sebenarnya hatinya merasa ragu karena telah membiarkan dirinya menuju ke lantai atas, entahlah tak mengerti apa sebabnya.
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, tapi hingga sekarang sosok yang menjadi majikannya itu tak menunjukkan batang hidungnya, bahkan semua masakan yang telah dirinya buat masih utuh.
" Tuan Ar di mana?, kenapa dari tadi pagi aku tidak melihatnya?. "
Sebenarnya dirinya bekerja pada siapa, memiliki majikan tetapi majikannya tak terlihat oleh mata.
*****
Jarum jam penunjuk waktu terus berputar dan mengarah pada setiap angka yang dilaluinya.
Berkas-berkas penting dari tiga proyek pembangunan cabang perusahaannya masih harus diperiksanya, sampai-sampai membuat kedua bola matanya kini menjadi jengah dan malas untuk melihat lagi.
" Tuan, biar saya yang memeriksa semua berkas itu. " seru Daniel.
" Ya sudah, kamu saja yang periksa, aku lelah. " usai mengucapkan kalimatnya Arland langsung beranjak dari kursi kebesarannya.
Arland langsung menuju ke sofa panjangnya, pria blasteran itu ingin segera merebahkan tubuhnya.
" Jangan biarkan orang lain masuk ke ruanganku Daniel. " peringat Arland.
" Sudah tuan, saya sudah mengatakan pada semuanya agar dalam satu hari ini untuk tidak datang ke ruangan tuan. " terang Daniel.
Sebagai asisten pribadi yang dapat dipercaya tentulah Daniel selalu berada di garis terdepan sebelum tuannya memberi peringatan.
Dengan berbaring di atas sofanya, Arland merogoh handphonenya dari saku bajunya, tapi tunggu dulu, mengapa saku bajunya terasa datar.
" Daniel. " panggil Arland.
" Iya tuan. " sahut Daniel.
" Handphoneku aku lupa. " Arland meminta handphonenya.
Dengan gerakannya yang cepat Daniel pun meraih handphone pintar milik tuannya itu dari atas meja.
" Ini tuan. " Daniel menyerahkan handphonenya pada tuannya.
Saat ini Arland ingin mengetahui kondisi rumahnya yang ada di daerah sana, bi Sima ARTnya sudah mengatakan jika akan ada ART baru sebagai penggantinya, jika benar seperti itu dirinya ingin tahu siapakah orangnya.
Beruntung sekitar tiga hari yang lalu dirinya telah memasang beberapa cctv di rumah barunya itu, sehingga dirinya bisa tahu akan kondisi rumahnya.
Dan kini Arland mulai melihat rekaman cctv yang terhubung ke handphonenya, Arland ingin melihat kondisi awal rumahnya sewaktu masih pagi tadi.
" Wanita?... " dalam rekamannya Arland melihat seorang wanita yang membuka pagar rumahnya.
Arland mulai bangkit dari posisi berbaringnya.
Mengapa pula dirinya meletakkan cctv itu di bagian samping rumahnya, jika seperti ini bagaimana wajah orang yang terekam itu bisa terlihat dengan jelas.
" Apakah wanita ini penggantinya bi Sima?. "
Tapi tenang, di dalam rumahnya masih ada dua cctv lagi, pasti setelah ini wajah orang dari sosok pengganti ARTnya itu akan terlihat.
__ADS_1
Bersambung..........
❤❤❤❤❤