
Selamat Membaca
🌿🌿🌿🌿🌿
Tubuhnya masih terasa begitu lemas dan kurang tenaga, namun karena rasa bahagianya membuatnya tetap mampu melangkah dengan penuh semangat.
Nampak di depan sana sudah ada sang ibu yang sedang menyapu, Naya sudah tak sabar ingin segera sampai di rumahnya.
Bu Aini menyapu teras rumahnya, seperti kebiasaannya ketika menjelang sore selalu menyapu teras rumah karena sudah mulai berdebu.
" Nenek. " seru Arta yang baru keluar.
Aini melihat cucunya, sepertinya cucunya akan membantunya.
" Bial Alta bantu nyapu ya nenek?, mana sapunya. " dengan ramah Arta si bocah tampan itu ingin mengambil sapu ijuknya.
" Ya ampun cucu nenek yang paling tampan, baik sekali yang mau bantu nenek, memangnya Arta tidak lelah apa nak yang mau bantu-bantu terus?. " sahut bu Aini meski sebenarnya ia tahu alasan mengapa cucunya ingin membantu.
" Kan kata bunda Alta halus bisa bantu nek?, mana?, ke sinikan sapunya. " pintanya agar neneknya segera memberikan sapu itu.
Rasanya seperti ada orang yang datang mendekat, menyadari hal itu membuat Aini dan Arta reflek langsung menoleh.
Dari jarak yang begitu dekat senyumannya terlihat dengan sangat jelas, Naya tersenyum pada sang ibu dan juga putra tercintanya.
" Bunda... " gumam Arta.
Kedua bola mata birunya jadi berbinar-binar, Arta melihat bundanya yang datang, itu artinya bundanya sudah pulang.
" Bunda... " seru Arta lantang lalu bocah itu langsung bergegas menghampiri bundanya.
" Sayang. "
" Bunda. "
Dengan sedikit membungkuk, Naya memeluk erat Arta.
" Bunda, bunda sudah pulang?, Alta senang sekali bunda sudah pulang. " Arta memeluk bundanya erat, betapa senangnya hatinya karena bundanya sudah pulang.
" Nay, ini masih belum pukul lima sore, kamu pulang awal nak?. " Aini langsung bertanya karena Naya sudah membawa tasnya.
Naya tak langsung menyahut, Naya hanya melihat ibunya.
" Sayang, Arta, lepaskan dulu pelukannya ya nak, nanti di dalam rumah lagi kita pelukannya. " Naya ingin putranya ini mengalah dulu.
Arta benar melepaskan pelukannya, namun disaat itu pula Arta merasa ada sesuatu pada bundanya, badan bundanya terasa hangat, seperti orang yang sakit.
" Bunda, badan bunda kok hangat?, sepelti olang sakit, bunda sakit?. " tanya Arta bahkan menatap bundanya dengan tajam.
" Apa?, kamu sakit nak?. " Aini reflek langsung khawatir karena mendengar pengakuan cucunya.
Aini mendekati Naya, dan tangan kanannya pun langsung memegang keningnya.
" Ibu, apa sih bu?. " Naya memundurkan kepalanya.
" Ya ampun nak kening kamu panas, kamu sakit nak. " betapa terkejutnya Aini mengetahui suhu tubuh putrinya yang ternyata sangat panas.
" Tuh kan, benalkan, bunda sakit, badannya demam, ini tangan bunda juga panas. " Arta memegang kedua tangan bundanya.
Naya jadi mulai khawatir, tidak, ini tidak boleh, jangan sampai keluarganya tahu jika dirinya bisa sakit seperti ini karena disiksa oleh majikannya.
__ADS_1
" Ya sudah nak kalau begitu ayo cepat masuk, biar ibu urut badan kamu, pasti kamu kelelahan karena di sana banyak bekerja. "
" Tidak bu, tidak perlu, tidak perlu diurut, Naya hanya mau istirahat, itu saja sudah cukup. " Naya menolak keinginan ibunya.
" Ya ampun nak, kamu sudah sakit begini tapi tidak mau diurut, kapan sembuhnya Nay?, ayo cepat masuk, ibu akan urut badan kamu. " Aini hendak menarik tangan Naya.
" Sudahlah bu, jangan berlebihan, Naya hanya demam biasa, istirahat yang cukup dan minum obat bisa cepat sembuh juga. "
" Ayo nak kita masuk, Arta rindu bunda kan?. " putus Naya dengan membawa-bawa putranya.
Tidak, jangan sekarang, ibunya tak boleh tahu jika di tubuhnya terdapat banyak memar penganiayaan.
Naya melangkah dengan sedikit terburu-buru dengan membawa masuk putranya Arta.
Apa yang Naya tunjukkan membuat Aini sang ibu jadi menghela napas, Aini merasa akhir-akhir ini agak berbeda dari Naya semenjak bekerja menjadi asisten rumah tangga, Aini merasa putrinya yang satu itu seperti orang yang menutupi sesuatu, Naya seperti orang yang terus mengelak dan menghindar.
" Sepertinya kamu bekerja pada orang yang salah nak. " jika perasaannya tak salah mengatakan, Aini merasa jika Naya diperlakukan tak baik oleh majikannya.
*****
" Astagaaa... jadi kamu memberi alamat rumahku pada Sandra Daniel?, kan sudah aku katakan jangan beri tahu alamatnya pada siapapun. " menjadi mendidihlah darah Arland.
" Maafkan saya tuan, saya terpaksa melakukannya, Sandra datang ke kantor perusahaan dan mengemis-ngemis meminta alamat rumah baru tuan. "
" Di kantor sudah banyak karyawan yang tahu, dan saya tidak mau masalahnya menjadi semakin besar tuan. "
Mendengar jawaban Daniel membuat Arland jadi memejamkan kedua matanya, memang benar si Sandra tukang drama, sukanya senang berulah.
" Tuan, tuan Arland. "
" Dasar tidak becus kamu Daniel. "
Arland malah mematikan panggilannya.
" Dasar tidak berguna semuanya. " teriak Arland dengan menghempaskan handphone pintarnya itu pada ranjang kasurnya.
Arland begitu sangat kesal, semua orang yang ada di sekitarnya hanya membuatnya menjadi pusing.
" Kamu sudah pulang Nay. " gumamnya yang malah teringat dengan Naya.
Tak ada Naya rasanya begitu sepi, jika saja Sandra tak datang ke rumahnya, pasti Naya masih di sini dan akan baru pulang ketika diizinkan.
Jika sudah seperti ini Arland benar-benar sangat menyesal, bisa-bisanya dulu dirinya mau bertunangan dengan Sandra hanya karena merasa marah pada Naya.
" Apa mungkin aku jadi bimbang seperti ini karena kamu hadirnya kamu Nay?. "
Arland seperti mengalami dilema, antara melanjutkan hubungannya dengan Sandra atau tidak.
Entah mengapa saat ini Arland ingin melihat Naya lagi, padahal masih belum satu jam lamanya Naya pergi.
" Haruskah aku datang ke rumahmu Naya?. "
*****
Melihat ke sana kemari dengan menyelinap masuk seperti maling yang hendak mencuri mungkin seperti itulah gambaran Sandra saat ini.
Setelah lebih dari setengah jam lamanya tak kunjung dibukakan pintu oleh Arland membuat Sandra nekad keluar kamar.
Sandra sama sekali tak takut jika Arland sampai marah ataupun mengusirnya, jika Arland melakukannya maka dirinya akan berulah dengan membuat drama lagi, bukankah Arland tak menyukai drama wanita.
__ADS_1
" Iya, kenapa juga aku harus takut?. " gumamnya.
Sandra yang awalnya mengendap-endap menjadi tegap, apa lagi saat ini ada di ruang dapur, sudah pasti di ruangan ini terdapat banyak makanan.
" Kamu tega sekali sama aku sayang, seharusnya kamu menyediakan aku makanan kalau mau mengurungku di kamar. " Sandra baru menyadari jika Arland tak memberinya makanan ataupun minuman.
Tepat di depan matanya ada dua kulkas yang berukuran cukup besar, pasti di sana terdapat banyak makanan dan minuman.
Kruek... kruek... kruek...
Perutnya sudah keroncongan dan terasa lapar.
Cepat-cepat Sandra mendekati kulkas itu sebelum akhirnya membukanya.
Seketika itu pandangannya benar dibuat tergoda oleh isi kulkas, sungguh isi kulkas Arland terlihat lebih menggoda jika dibandingkan isi kulkas di rumahnya.
Banyak makanan, snack dan minuman yang menyegarkan tertata dengan rapi.
" Wah... aku ambil satu. " serunya lantas Sandra mengambil salah satu minuman rasa jeruk yang terlihat menyegarkan.
Botol minumannya tak bermerk, mungkinkah Arland membuat minumannya sendiri.
" Masa bodo dengan merknya. " karena sudah haus, Sandra benar membuka tutup botolnya.
" Ya ampun, tutup botolnya tidak bersegel, berarti sayangku memang buat sendiri minumannya, bisa juga ya dia buat minuman. " dan Sandra benar meminum minumannya.
Usai memuji sang tunangan, Sandra langsung meminum minuman rasa jeruk itu bahkan tanpa berdoa lebih dulu.
" Glug... glug... glug... glug... ahh... "
" Sangat segar minuman ini, sayangku pintar juga membuatnya ya. " puji Sandra.
Sandra tak tahu jika semua minuman di dalam botol tanpa merk itu adalah minuman buatan asisten tangga Arland yaitu Naya, yang tak lain adalah mantan istri Arland, mana mungkin Arland membuat minuman seenak itu.
Sandra ingin mengambil satu botol minuman lagi, sangat disayangkan jika minuman seenak ini tak ada yang meminumnya.
" Tidak apa-apalah ambil satu botol lagi kan minumannya... " Sandra tak melanjutkan kalimatnya.
Tiba-tiba pikirannya teringat akan sesuatu, Sandra teringat dengan obat perangsang yang ada di dalam tasnya.
Obat perangsang itu memang sengaja Sandra bawa karena ingin mendapatkan Arland seutuhnya.
Sandra melihat botol minuman yang dipegangnya dan juga minuman yang lainnya.
" Iya benar, kenapa tidak aku masukkan saja obat itu ke semua minuman Arland?, itu akan lebih baik. " gumamnya dengan tersenyum licik.
Dari awal Sandra datang ke rumah di mana Arland tinggal memang untuk menjebak Arland.
Sandra ingin agar Arland mau menidurinya, dengan begitu dirinya akan meminta pertanggung jawaban dari Arland atas apa yang sudah terjadi.
" Jangan salahkan aku kalau aku nekad sayang, habisnya kamu lama sekali tidak menikahiku juga. " kali ini Sandra tak akan melewatkannya.
Tak peduli apakah yang dilakukannya salah, Sandra sudah bertekad untuk menjebak Arland.
Ini adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan Arland seutuhnya, jika tidak, bukan tak mungkin jika suatu hari nanti Arland akan berubah pikiran dan mengakhiri hubungannya.
" Terima kasih minuman, kamu bisa membantu memuluskan rencanaku. "
Bersambung..........
__ADS_1
❤❤❤❤❤