
Selamat Membaca
🌿🌿🌿🌿🌿
Hampir semua sudut di setiap sisi di tempat yang berlantai susun ini banyak didatangi pengunjung.
Semua barang yang terpanjang benar-benar memanjakan sang indra penglihatan.
Ini adalah pertama kalinya baginya bisa datang ke tempat yang bernama mall, ternyata seperti inilah suasana mall, siapapun yang datang ke tempat ini serasa seperti dimanjakan, pantas saja ada orang yang mengatakan ketika datang ke tempat perbelanjaan rasanya tak ingin cepat pulang.
Dengan melangkah berjajar seri si kecil Arta dengan didampingi oleh sang bunda dan juga kedua neneknya benar mengunjungi mall.
Jujur dari semenjak awal Arta menginjakkan sepasang kaki mungilnya di tempat ini pandangannya sudah dibuat terkagum.
Maklum jika Arta merasa kagum, karena ini adalah kali pertamanya baginya datang ke tempat perbelanjaan yang begitu luas dan mewah seperti ini, ternyata seperti inilah isi di dalam mall, kondisinya begitu sangat jauh berbeda dengan pasar tradisional yang sering dirinya datangi.
Namun siapa sangka dibalik kekagumannya sebenarnya Arta merasa kurang nyaman, Arta merasa kurang nyaman lantaran tak sedikit orang yang memperhatikannya. Sebenarnya ada apa dengan mereka, mengapa mereka memperhatikannya seperti melihat orang dalam masa pencarian, apakah dirinya dicari oleh banyak orang.
" Arta mau beli apa lagi nak?, selain seragam, tas, sepatu, handphone dan juga sepeda, Arta ingin beli apa lagi?. " tanya Naya yang kembali bersuara karena putranya hanya diam saja.
Si kecil Arta sedikit mendongakkan wajahnya, namun setelah itu ia kembali menunduk dengan melanjutkan langkahnya.
" Arta, ada apa?, kok tidak menyahut?, itu bundamu bertanya kamu ingin beli apa lagi?, ayo katakan saja mumpung di mall, kan sayang kalau dilewatkan. " begitulah Sima yang berbicara agar Arta bisa menikmati kesempatan ini dengan sepuasnya.
" Alta hanya mau beli yang disebutkan bunda balusan. " sahut Arta dengan nadanya yang terdengar datar.
" Hanya itu nak?, itu artinya setelah ini kita akan membeli handphone dan sepedamu saja, tapi handphonenya beli yang biasa saja ya nak, tidak perlu beli yang smartphone, kan hanya untuk menelpon bunda saja. " ucap Naya agar tak perlu membeli barang yang mewah agar tak menjadi kebiasaan.
" Iya bunda telselah bunda saja. " sahut Arta.
Mendengar sahutan sang putra sebenarnya membuat hati Naya sedikit tertampar. Tak ada hal istimewa apapun yang bisa Naya berikan sebagai seorang ibu kepada anaknya, dan Naya juga sangat bersyukur karena dianugerahi seorang putra yang tak banyak menuntut bahkan hampir tak menuntut apapun seperti Arta.
" Di mana tempat menjual handphone?, ibu lihat-lihat kok tidak ketemu ya?. " seru Aini yang ternyata sedang sibuk mencari lokasi toko handphone.
" Ya ampun, pantas saja dari tadi kamu diam saja Aini, ternyata sibuk cari toko handphone, itu apa di sana?, bukankah itu toko handphone?. " Sima menunjuk kumpulan handphone yang terpajang lengkap dengan para karyawannya.
Aini langsung mengarahkan pandangannya ke arah di mana sang saudara sepupu menunjuk, dan ternyata benar, di sana terdapat jejeran handphone mulai dari etalasenya sampai dinding tokonya.
" Bunda, itu di sana handphonenya. " seru Arta dengan menunjuk toko handphone itu.
" Ya sudah ayo kita semua ke sana. " putus Naya.
Naya tak sabar ingin membelikan putranya handphone, dengan begitu dirinya bisa bekerja dengan sambil lalu mendengarkan suara Arta dari balik handphone.
Deg...
Dan Naya malah berhenti melangkah.
__ADS_1
" Ada apa nak?. " tanya Aini.
" Iya, ada apa nak, kok tiba-tiba berhenti?. " tanya Sima.
Tiba-tiba Naya berhenti melangkah, entahlah, Naya sendiri tak mengerti, tiada angin tiada hujan tiba-tiba hatinya merasa terkejut seolah seperti akan terjadi sesuatu. Naya merasakan adanya firasat buruk, tetapi firasat apa itu, Naya sendiri tak mengerti.
" Bunda, kita tidak jadi beli handphone?. " seru Arta karena bundanya tiba-tiba diam.
" Jadi nak, jadi, kita beli handphonenya Arta sekarang. " sahut Naya.
" Ya sudah ayo. " ajak Sima.
Naya kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, biarlah dengan apa yang dirasakannya, lagi pula apa yang dirasakannya sama sekali tak bisa dimengerti.
Mungkin seperti itulah sikap yang bisa Naya lakukan, meski sebenarnya hatinya masih bertanya-tanya dengan firasatnya yang entah apa, namun memilih untuk membiarkannya mungkin akan jauh lebih baik.
Dan sebenarnya ada lagi hal lain selain perasaannya yang tiba-tiba tak enak, sebenarnya sudah semenjak awal Naya sendiri sudah kurang begitu nyaman dengan situasi mall, pasalnya tak sedikit orang yang memperhatikan putranya, dan pandangan mereka terlihat sangat tak biasa. Mungkinkah ini bersangkutan dengan wajah Arta yang begitu mirip dengan Arland.
" Sepertinya aku harus memakaikan Arta masker dan kaca mata, dengan begitu orang lain tidak akan mengenalinya.
*****
Layaknya sepasang pangeran dengan seorang putri, itulah yang nampak pada Arland dengan kekasihnya Sandra.
Hampir setiap pasang mata memperhatikan dua sejoli yang begitu tampan dan cantik itu.
Sesuai keinginannya, Arland datang mengunjungi mall secara diam-diam tanpa memberi tahu pihak yang bertanggung jawab atas mall ini. Ia datang dengan didampingi oleh sang asisten pribadi dan juga supir pribadinya.
Arland tak suka karena harus pergi ke mall dengan diikuti oleh Sandra, bahkan dari semenjak tadi tunangannya yang sama sekali tak dirinya inginkan ini begitu sangat lengket padanya.
Sandra sengaja ikut dengan Arland, wanita yang sudah terlanjur jatuh cinta pada tunangannya ini sengaja ikut karena tak ingin kehilangan sang tunangan, apa lagi setelah mengetahui jika Arland akan datang ke mall membuat Sandra semakin khawatir.
Dan kekhawatirannya benar terjadi, banyak pasang mata wanita yang memperhatikan tunangannya ini, apa lagi bagi mereka yang tahu latar belakang Arland pasti akan tahu jika Arland adalah seorang bos besar.
" Sayang, dari tadi kita hanya jalan-jalan di mall, apa kamu berniat membelikanku sesuatu sayang?. " seru Sandra karena sebenarnya dirinya berharap dibelikan sesuatu oleh sang tunangan.
" Aku kan sudah mengatakan, jangan ikut aku ke mall, aku datang ke sini bukan untuk beli-beli. " begitulah Arland yang malah menyahutnya dengan kalimat yang terdengar sarkas.
" Sayang jangan begitu, aku kan hanya bertanya, ya siapa tahu kamu ingin membelikan aku sesuatu sayang. " Sandra menyahutnya masih dengan bergelayut manja.
Sikap Sandra yang selalu seperti ini membuat Arland merasa malas. Sandra adalah wanita manja, dan dirinya sangat tak menyukai hal itu.
Apa yang terjadi diantara keduanya tentulah menjadi tontonan banyak orang tak terkecuali Daniel dengan pak Rahmat. Apa lagi Daniel, pria yang berusia dua tahun lebih muda dari Arland itu merasa kasihan pada Sandra.
Dari semenjak awal Sandra seperti wanita yang tak diinginkan oleh tunangannya sendiri, namun Sandra masih berusaha bersikap manis.
" Kasihan sekali kamu nona Sandra, sudah tahu tuan Arland tidak menginginkanmu tapi kamunya masih berusaha ingin didekatnya. " batin Daniel hanya bisa berbicara karena merasa iba pada nona Sandra.
__ADS_1
Terkadang Daniel berpikir, jika tuannya memang tak menginginkan Sandra, lantas mengapa hubungannya masih dilanjutkan, jika seperti ini maka yang sangat memprihatinkan adalah Sandra.
Bukan hanya Daniel yang merasa seperti itu, begitupun dengan pak Rahmat.
Hubungan Arland dengan Sandra seperti hubungan yang hanya berjalan sepihak, meski keduanya kerap bersama namun nyatanya tak pernah sejalan.
Mungkin bisa dibilang keberadaan Sandra di dekat Arland tidaklah berarti apa-apa, dan itu memang benar adanya.
Arland terus melakukan apa yang diinginkannya, memperhatikan suasana setiap toko dan juga para pengunjung yang berdatangan. Tak peduli meski di sampingnya ada Sandra yang sedari tadi seperti orang yang begitu lengket padanya.
Mall ini benar-benar sangat ramai pengunjung, dan mereka pun membeli banyak barang di sini, dan itu artinya penghasilan dari mall ini terbilang besar.
" Bagaimana tuan?, apa ada sesuatu yang tuan perlukan?. " tanya Daniel.
Arland tak menyahut namun ia mendengar apa yang ditanyakan Daniel. Kedua bola mata birunya masih terus memperhatikan mall ini, mall besar yang memiliki tiga lantai.
Dan ternyata di bagian ujung sana barulah terlihat toko sepeda, toko itu menjual banyak sepeda ayun dengan berbagai model. Dan mungkin ini adalah kesempatannya bisa melihat toko itu dalam keadaan ramai.
Belum sampai lima menit Arland memperhatikan toko itu, terlihat keberadaan Naya di sana.
" Apa ini?, kenapa dia malah di sini?. " gumam Arland yang melihat Naya berada di toko sepeda itu.
" Sayang, siapa yang ada di sini?. " tanya Sandra lalu wanita itu mencoba mengarahkan pandangannya ke mana Arland melihat.
Siapa yang Arland maksud, mungkinkah ada orang lain yang kekasihnya ini lihat.
Arland melihat Naya di toko sepeda itu, bahkan di sana ada mantan ibu mertuanya bu Aini dan juga bi Sima.
" Sial, bisa-bisanya Naya ada di sini, bukankah dia sakit?. "
" Memang dasar wanita pembohong, awalnya memang sakit, tapi bisa cepat sembuh karena uang sepuluh juta. "
Antara percaya dan tidak, itulah penilaian Arland terhadap Naya saat ini. Masih bisa diingat jika kemarin Naya begitu demam tinggi. Jika demam seperti itu rasanya sangat sulit akan cepat sembuh dalam waktu belum sampai dua hari, dan saat ini Naya berada di mall bersama keluarganya.
Keluarga, di sana ada sosok anak kecil yang sepertinya sedang Naya ajak bicara, apakah anak kecil itu keluarganya juga.
" Siapa anak kecil itu?. " gumam Arland.
" Sayang, kamu dari tadi bicara apa sih?, siapa yang kamu lihat?. " Sandra sangat penasaran akan siapa yang sedari tadi Arland gumamkan.
Namun Arland tak menyahut, pria itu masih memperhatikan Naya dengan keluarganya. Mereka ada di toko sepeda, kemungkinan besar mereka ingin membelikan sepeda untuk anak kecil itu. Tapi siapa anak kecil itu, sepertinya dia diperlakukan sangat istimewa.
Mengapa pula anak kecil itu harus menggunakan topi dan masker, jika seperti itu maka tak terlihat dengan jelas bagaimana wajahnya.
" Aku tidak mau tahu, pokoknya besok kamu harus masuk kerja Nay. "
Arland merasa sudah ditipu oleh Naya, Naya harus mempertanggungjawabkan semuanya. Naya masih terikat kontrak padanya, maka Naya harus tetap bekerja apapun alasannya.
__ADS_1
Bersambung..........
❤❤❤❤❤