Merebut Tunangan Bibiku

Merebut Tunangan Bibiku
bab 12


__ADS_3

Hari sudah pukul 07.00 malam dan bunyi klakson mobil terdengar dari luar rumah. Dan Nuri yakin jika mobil tersebut adalah mobil Varo yang sudah datang untuk menjemput dirinya dan juga keponakannya itu. Nuri sudah siap sedari tadi dia terlihat nampak sangat cantik malam ini dengan rambut diikat satu dan dress putih tanpa lengan yang panjangnya semata kaki membuat kecantikannya begitu terlihat Nuri begitu dewasa malam ini dia tersenyum menyambut kedatangan Alvaro.


" Hai Al, unggu dulu ya Ara masih belum turun, duduk aja dulu," ucap Nuri dia tersenyum anggun kepada laki-laki yang berstatus tunangannya tersebut. 


Varu menganggukan kepalanya, dia masuk dan duduk sofa tepat di ruang. Nuri pamit kedapur sebentar untuk membuat minuman untuknya.


" Silahkan diminum dulu selagi menunggu anak itu, pasti bakalan makan waktu lama," ucapnya sambil terkekeh mengingat Ara yang selalu berdandan sangat lama.


Lagi-lagi Varo mengangguk saja, kemudian dia menatap penampilan Nuri yang sedikit berbeda malam ini, wanita 27 tahun itu nampak terlihat sangat dewasa dengan dandanan yang tidak terlalu glamor namun bibir yang begitu sangat merah, tetapi begitu cocok dengannya. 


" Kamu terlihat cantik malam ini," puji Varo. Sontak membuat Nuri tersenyum malu baru kali ini tunangannya itu memuji dirinya.


" Terima kasih kamu juga terlihat sangat tampan malam ini," balasnya.


Varo emang selalu tampan bahkan dilihat dari mana segimanapun, namun malam ini dia sangat terlihat begitu tampan hingga mata memandang tak bosan dan ingin terus selalu memandangnya. 


Ternyata percakapan mereka didengar oleh Ara dia terlihat sangat sedih dan hatinya begitu sakit. Tapi apalah daya mereka memang sepantasnya bicara seperti itu karena mereka adalah sepasang kekasih pikir Ara. 


Inilah mengapa dirinya tidak ingin ikut pergi malam ini. Hatinya pasti akan lebih terluka lagi jika sudah berada di kediaman Varo, namun karena tak ingin bibinya itu marah padanya sehingga dia pun mengalah dan biarlah hatinya yang terluka. Toh tidak ada yang mengetahui nya, hanya dirinya yang merasakan, yang penting bibinya itu bahagia. Lagi pula dia tidak tahu hubungannya dengan Varo itu seperti apa? Layaknya abu-abu, tidak jelas. Namun belakangan ini sikap laki-laki itu begitu berbeda kepadanya hingga membuat dirinya sedikit berharap terhadap laki-laki yang ia cinta itu. 

__ADS_1


" Wah kalian terlihat sangat serasi sekali yang satu cantik dan yang satunya lagi tampan," ucap Ara dia mencoba untuk tersenyum dan bersikap biasa saja. 


Nuri dan Varo menoleh ke arahnya, Nuri tersenyum kemudian mengulur tangan dan membawa keponakannya itu duduk di sampingnya. 


Sementara Varo menatapnya keheranan karena penampilan gadis itu terlihat biasa saja. Hanya mengenakan dress selutut dengan rambut terurai serta make up yang tipis ala kadarnya, tak ada istimewa sama sekali biasanya gadis itu jika hendak bepergian pasti akan berdandan sangat cantik. 


" Kamu udah siap?" Tanya Nuri dia pun tak kalah herannya menatap keponakannya itu. Ara mengganggu sangat yakin.


" Udah yuk berangkat mau nunggu apa lagi?" Katanya dia beranjak lebih dulu keluar rumah menuju mobil Varo.


Nuri dan Varo saling pandang mereka tak berkomentar apapun karena memang waktu sudah sangat mepet hingga tidak ada waktu lagi untuk meminta Ara berdandan lebih cantik lagi. 


" Ara kenapa kamu memakai baju itu, bukan kata di Bibi sudah membelikan baju untukmu?" Tanya Nuri seketika mereka bertiga sudah berada di dalam mobil.


" Bibi ini gimana sih, ini kan acara penting khusus untuk pertemuan Bibi dan calon mertua. Tentu saja Ara tidak ingin menyaingi kecantikan Bibi, secara pemeran utamanya adalah bibi malam ini," ujar Ara dia berucap santai.


" Tapi kan …" 


" Syuuuut, Bibi fokuslah, oke. Jangan hiraukan Ara." 

__ADS_1


Nuri tak bisa berkata apa-apa lagi kemudian dia menoleh ke arah paru yang saat ini tengah memasang wajah dingin namun terlihat sangat menakutkan sekali. Bahkan Varo tidak mengatakan apapun hingga Nuri ikut diam saja dan lebih memilih melihat pemandangan di jalan hingga di dalam mobil tersebut begitu nanti berbeda dengan biasanya di mana kalau Ara selalu nyerocos wajah tidak ada hentinya namun kali ini sangat berbeda Nuri sendiri tidak tahu harus berbuat apa. 


Nuri melihat ke arah kaca spion di mana saat ini keponakannya itu tengah menatap di luar jendela sambil melamun entah apa yang dia pikirkan kemudian Nuri kembali melirik Varo yang tengah fokus menyetir laki-laki itu semakin terlihat sangat menakutkan dengan wajah yang kesal dan nampak sekali dingin hingga bulu kuduknya pun merinding. Nuli berpikir jika Varo dan Ara seperti orang yang sedang perang dingin, dia tidak tahu apa yang terjadi di antara keduanya murid tidak ingin ikut campur sebagai bibi dia hanya bisa menjalankan perannya saja. 


Sesampai di kediaman Varo Ara langsung turun dari mobil dia memperhatikan setiap detail rumah di kediaman Varo yang benar-benar begitu sangat mewah dan besar sekali jika dibandingkan dengan rumahnya sangatlah jauh. Ara berpikir jika laki-laki itu memang benar-benar sangat kaya raya entah sudah berapa jumlah harta yang mereka miliki hingga bisa membangun rumah mewah bak istana seperti ini. 


" Ara, ayo," panggil Nuri lantaran dia menghentikan jalannya sangking terkagumnya melihat rumah yang begitu mewah itu. 


" Eh, iya …" Ara berjalan mengikuti langkah Nuri dan Varo yang sedang berjalan beriringan bahkan Varo meraih tangan Nuri dan menggandeng nya, Ara tidak ingin melihatnya, dia membuang pandangannya ke arah bawah. Seseorang begitu kegirangan menyambut kedatangan mereka di ambang pintu Ara pun mendongak.


" Selamat datang, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga," ucapnya dengan semangat sekali. 


" Halo, selamat malam Tente …" sapa Nuri dengan sopan dia sedikit membungkukkan tubuhnya.


" Wah kamu cantik sekali malam ini, selamat datang di kediaman kami ya," sambutnya ramah, Ara tersenyum tipis kemudian membuang pandangannya ke arah lain. Dia tidak ingin melihat momen haru pertemuan antara calon menantu dan calon mertua itu.


" Ini pasti Ara ya, ya ampun sekarang kamu sudah besar. Mamah kangen sekali sama kamu." 


Deg … Ara pasti salah dengar, tidak mungkin wanita yang tidak pernah ia temui itu menyebut dirinya sendiri dengan sebutan mama padanya. 

__ADS_1


__ADS_2