
Selang beberapa menit saat Ara keluar dari kamar hendak pergi ke.kamar Rosella. Varo pergi ke kamar mandi. Saat dirinya mencuci tangan di wastafel ia melihat cincin berlian bermata biru itu tergeletak di samping peralatan cuci muka.
" Cincinnya ada di sini tapi kenapa Arab bilang ada di Rosella?" Bingungnya sambil mengambil cincin tersebut.
" Apa mungkin dia lupa." Kemudian Faro keluar dari kamar mandi lalu ia mendengar suara keributan dari arah kamar Rosella.
" Suara apa itu? Atau jangan-jangan …" Varo bergegas keluar dari kamar tak lupa ia membawa cincin berlian tersebut dan menyimpannya di dalam saku celana ia sangat yakin jika saat ini istrinya itu sedang memperebutkan masalah soal cincin.
" Ara sangat yakin sekali Jika Rosella meminjamnya. Tapi cincin ini ada di kamar mandi. Mana yang benar?" Bukan tidak mempercayai istrinya tetapi Varo menemukan fakta jika cincin yang sedang diributkan itu ada di dalam kamar mandi di kamar mereka sendiri.
Keributan semakin menjadi Varo pun langsung masuk untuk menenangkan istrinya ya.
" Kenapa cincin ini bisa ada sama kamu Mas?" Tanya arah kebingungan. Apa mungkin Rosella sudah mengembalikannya kepada suaminya itu, tetapi kenapa saat ia mengatakan ini mengambil cincin itu dari Rosella suaminya tidak mengatakan apapun.
" Cincin ini Mas temukan di kamar mandi, tempat wastafel di samping sabun cuci muka kamu," ungkapnya lirih.
" Apa! Tidak mungkin. Bagaimana bisa ada di sana?" Ara sangat yakin sekali Jika rosella belum mengembalikan cincin itu dia pun langsung menoleh ke arah rosella yang masih menangis.
__ADS_1
" Apa kamu menaruhnya diam-diam di kamarku? Dan sengaja menjebakku, iya!" Bentak Ara kepada Rosella.
Ara yakin jika rosella memang sudah merencanakan semua ini dia ceroboh sekali karena terlalu percaya kepada orang yang baru ya kenal harusnya ia sudah curiga. Tapi kapan gadis itu meletakkan cincin ke kamar mandi tanpa sepengetahuan siapapun.
" Kamu yang teledor, kamu yang pelupa. Tapi kamu malah menuduh orang, apa kamu sudah gila?" Sahut Keyra.
" Ssstttt." Rey menyenggol siku istrinya untuk mengatakan jangan ikut campur.
" Aku kesel Mas, bisa-bisanya dia menuduh orang. Padahal dia sendiri yang teledor, bagaimana jika aku yang dituduh seperti itu?" Kata Keyra semakin memojokkan arah dia sengaja menjadi kompor agar suasana semakin panas.
" Saya tidak mengerti Kak kenapa kakak arah begitu membenci Sella. Hiks, Apa karena Sella ini hanya anak angkat dari keluarga ini sehingga tidak layak menjadi adik ipar?" Lirihnya sambil mengusap air mata di wajahnya.
" Berhentilah berakting Rosella Aku tahu kamu sengaja kan! Berikan hp kamu," pinta Ara, satu-satunya bukti adalah foto itu.
" Untuk apa kakak meminta hp ku?" Tanya Rosella.
" Di sana ada foto kamu sedang memakai cincin itu dan itu adalah bukti," ucapnya. Kemudian arah merampas HP milik jari tangan rosella dan dia langsung membuka galeri foto di HP itu.
__ADS_1
" Terserah kakak saja mau berbuat apapun di HP itu, kakak memang sangat membenciku," ucapnya kembali sedih.
" Kok nggak ada?" Ara mencari foto-foto kemeren. Dia yakin jika Rosella motret saat memakai cincinnya itu.
" Kan aku sudah bilang kalau aku tidur sama sekali tidak pernah meminjam cincin itu kenapa kakak masih ngotot banget? Aku benci sama kakak!" Teriak Rosella.
" Kamu pasti sudah menghapusnya kan, iya kan!" bentak Ara kesal.
" Cukup, Ara!"
Ara terkejut dia menatap suaminya tak percaya, laki-laki yang sangat ia percayai itu membentak dirinya dan tidak mempercayainya. Air matanya langsung seketika mengalir dari kelopak sedari tadi ia tidak ingin menangis karena sudah terjebak dalam situasi namun bentakan dari suaminya membuat hatinya sangat sakit ditambah lagi tidak ada percaya sama sekali dengan dirinya. Arah juga menoleh ke arah sang ibu mertua wanita yang lemah lembut sangat menyayanginya itu tanpa tak merespon apapun seakan tidak mempercayainya juga. Arah pun langsung manggut-manggut kemudian tersenyum miris.
Dia kembali menatap suaminya sambil menghapus air mata di pipi. " Apa kau tidak percaya sama aku Mas?" Tanyanya untuk memastikan.
Varo tidak menjawab. Dia bingung harus mempercayai siapa. Di satu sisi dia sudah menganggap Rosella seperti adiknya sendiri bahkan mereka sudah bersama sejak belasan tahun, dan sementara Ara, istrinya yang sangat ia cintai. Walaupun sudah mengenalnya sejak lama, tetapi Varo masih belum mengenal istrinya lebih dalam lagi. Tetapi ia juga tidak bisa mengatakan untuk tidak percaya, maupun percaya padanya. Varo pun akhirnya memilih untuk bungkam.
Ara tertawa sesaat lalu kemudian kepalanya mengangguk. Dia menatap sinis suaminya." Oke, fine. Aku keluar dari rumah ini!" Ara mengangkat kedua tangannya, dia menatap langit-langit menahan air mata agar tidak jatuh kembali.
__ADS_1
Ara melangkah keluar, saat melewati Rosella gadis itu menyeringai dan dapat dilihat olehnya. Ara pun langsung menghentikan langkahnya.
" Selamat kau berhasil. Aku tidak tahu apa tujuanmu. Tapi aku akui aktingmu sangat hebat. Aku keluar dari rumah ini!"