Merebut Tunangan Bibiku

Merebut Tunangan Bibiku
bab 36


__ADS_3

Nisya pergi menemui Johan, walaupun rasanya tidak mau tetapi dia terpaksa karena sudah terucap juga kepada mantan kekasihnya itu. Nisya menghela nafasnya untuk kesekian kali saat berada di dalam mobil. Malam ini dia sudah janjian bersama Johan untuk bertemu di sebuah cafe karena ingin membicarakan sesuatu hal yang penting, ya tentu sudah pasti mengenai pernikahan. 


Nisa memang tidak menyukai Johan apalagi laki-laki itu bersikap begitu sangat manja sekali kelihatannya namun apalah daya kekasihnya malah tidak setia dan berselingkuh sehingga Nisya pun memutuskan untuk menyetujui pernikahan yang dilandasi tanpa cinta ini dengan laki-laki yang baru saja dia kenal.


" Mungkin kita memang tidak berjodoh Daniel kau selingkuh bahkan aku pun juga melakukan hal yang sama walaupun tidak secara sengaja tetapi tetap saja kesucianku hilang oleh laki-laki lain. Dan itu artinya kita memang tidak berjodoh." Bisa menghapus air matanya dia menatap foto dirinya dan juga Daniel di galeri handphonenya.


 " Selamat tinggal Daniel." Tangan Nisya menekan tombol hapus pada foto tersebut, dia tidak ingin menyimpan apa-apa lagi mengenai laki-laki itu. 


Cintanya hilang begitupun juga dengan kenangannya dia harus bisa melupakan segalanya dan memulai kehidupan yang baru dan membangun cinta kembali dengan laki-laki yang baru walaupun Nisa sama sekali tidak begitu yakin.


" Aku serahkan semuanya kepadamu ya Allah jika memang dia laki-laki yang engkau jodohkan denganku, semoga kedepannya kami bisa saling menerima satu sama lain dan saling mencintai," lirih Nisa, dia sangat berharap sekali masa depannya cerah dan bahagia.


Seseorang mengetuk pintu kaca mobilnya Nisya menoleh dan dia melihat jika yang mengetuk pintu kaca mobilnya itu adalah Johan ternyata sudah tiba di kafe tempat pertemuan mereka. Cepat-cepat Nisa menghapus jejak air matanya, kemudian dia kembali menghilang nafas lalu merogoh tas selempangnya mengambil bedak dan mengoleskannya kembali ke wajah agar tidak ketara jika dirinya habis menangis 

__ADS_1


Setelah sudah merasa cukup Nisa kembali menutup bedak padatnya kemudian kembali memasukkan ke dalam tas lalu Nisa membuka pintu mobilnya dia tersenyum tipis saat Johan tengah menatapnya.


" Terima kasih karena sudah mau menerima undanganku," ucap Nisya datar. Dia melangkah maju dan menutup pintu mobilnya.


" Tentu saja … tidak mungkin aku menolak. Bahkan Aku sangat senang sekali, sering-sering juga tidak apa-apa" ucapnya penuh percaya diri sekali.


" Mari, kita masuk bersama." Johan menjulurkan tangannya agar bisa merangkul lengan nya.


" Silahkan duduk calon istri," ucap Johan dia menarik kursi dan mempersilahkan Nisa duduk. 


" Bersikaplah yang sewajarnya Johan aku tidak suka kamu seperti itu, kayak anak-anak," ketus Nisa tidak suka.


" Baiklah," ucapnya sedih dengan wajah murung. Bisa kembali menghela nafasnya kemudian mereka memesan makanan.

__ADS_1


" Aku sengaja mengajakmu bertemu kan ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," ucap Nisa. Dia menatap wajah Johan begitu sangat serius sekali.


" Oke, aku mendengarkanmu" jawab Johan santai. Dia mengambangkan senyumnya menatap wajah wanita yang sudah mencuri hatinya itu. 


" Malam ini kamu benar-benar sangat cantik, dan aku semakin cinta," puji Johan sebelum membiarkan Indonesia berbicara. Nisa hanya memutar kedua bola matanya malas.


" Aku setuju menikah denganmu tapi dengan satu syarat," kata Nisa dia memang menyetujui tetapi hanya satu syarat yang diajukan.


" Jangankan hanya satu, tiga pun aku bakalan sanggup," ucap Johan main-main. Nisa menatapnya tajam dia sudah sangat serius sekali, tetapi Johan malah main-main dengan ucapannya. 


" Aku serius Johan! Jika kau hanya menganggap semuanya main-main maka lupakan saja." Nisa begitu sangat marah dia hendak bangkit dan pergi meninggalkan Johan tetapi dengan cepat Johan langsung mencegahnya.


" Aku minta maaf tolong jangan pergi." 

__ADS_1


__ADS_2