Merebut Tunangan Bibiku

Merebut Tunangan Bibiku
bab 29


__ADS_3

Ara sedang menunggu jemputan di gerbang kampus, Ara sangat senang karena hari ini yang menjemputnya adalah suaminya setelah di telpon selang beberapa menit tadi. Padahal Ara sendiri menyetir mobil sendiri sehingga sangat terpaksa mobilnya harus ditinggalkan di kampus. 


Saat Ara masih setia menunggu dia duduk sambil memainkan hpnya tiba-tiba pengendara motor berhenti tepat di hadapan nya. Ara menyerngit menatap si pengendara tersebut. 


" Hay, lagi nungguin jemputan ya?" Tanyanya sambil tebar senyuman. Dia melepaskan helm nya lalu turun dari motor besarnya dan duduk di sebelah Ara.


" Kamu ngapain, gak pulang?" Tanya balik Ara dengan nada malas. 


" Tadinya mau pulang, tapi liat kamu duduk sini sendirian jadi aku samperin deh, sekalian mau nawarin kamu tumpangan," ujarnya jujur. 


Dia adalah Viktor laki-laki terpopuler di kampus ini, bukan hanya tampan dan memiliki prestasi yang baik. Tetapi dia juga sangat kaya sehingga banyak para wanita mengejarnya namun Viktor hanya tertarik dengan satu wanita saja yaitu Ara. Wanita yang sudah ratusan kali menolaknya, semakin ditolak semakin pula Viktor penasaran pantang menyerah.


" Makasih, tapi jemputan aku bentar lagi datang kok. Jadi kamu gak perlu repot-repot," tolak Ara jutek. Dia kembali memainkan hp-nya.


Viktor hanya tersenyum sudah biasa baginya ditolak seperti ini jadi tidak merasa sakit hati lagi.


" Oh, yaudah kalau begitu aku temani deh sampai jemputan kamu datang." 


Tidak mau kehabisan akal, tawaran ditolak masih ada cara lain kan yang penting bisa dekat dengan gadis yang dia sukai.


" Kok tumben kamu di jemput, biasanya kan kamu bawa mobil sendiri. Kenapa?" Tanyanya kepo, pandangannya tak luput dari wajah cantik Ara.


" Kepo …" jawabnya cuek, Ara sibuk sendiri dengan HP-nya. Ara memang tidak pernah memberikan harapan palsu pada Viktor, tetapi laki-laki itu pantang menyerah.

__ADS_1


" Ra, kapan-kapan boleh gak kita jalan bareng. Nonton misalnya, please mau ya walaupun kamu nolak cinta aku tapi setidaknya ajakan aku jangan di tolak juga dong, sakit banget tau, sakit nya tuh disini." Viktor menyentuh dadanya. Tetapi Ara tidak menghiraukannya. 


" Ra …" panggilnya sekali lagi dia masih begitu sangat sabar walaupun di acuhkan, dicuekin, dijudesin tetapi dia masih saja berusaha untuk mendapatkan hati Ara.


Cara menarik nafasnya kemudian dia hembuskan perlahan lalu menoleh ke arah fighter menatapnya dengan serius.


"Sorry Vik, aku bener-bener nggak bisa. Sebaiknya kamu ajak cewek lain aja,, dan please jangan mengharapkan apapun dari aku," ucap Ara menolak dengan tegas.


" Tapi kenapa Ra? Cuman kamu yang aku suka. Apa kurangnya aku sebenarnya, Ra. Aku udah berusaha menjadi cowok yang baik, tidak main perempuan, wajah juga lumayan oke. Kekayaan lebih dari cukup, dan aku juga sudah ada pekerjaan, apa aku tidak memiliki kesempatan, Ra." 


Viktor bener-bener tulus menyukai Ara, dia sangat berharap sekali Jika Ara mau menerimanya. Dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi cowok yang jauh lebih baik lagi asal Ara mau memberinya kesempatan. 


" Aku bener-bener minta maaf Viktor, aku tidak bisa menerima kamu karena di hati aku sudah ada seseorang yang aku cintai. Maaf untuk kesekian kalinya, lebih baik lupakan aku Victor, masih banyak wanita lain yang lebih berhak mendapatkan cinta kamu." 


" Apa aku benar-benar tidak ada kesempatan lagi Ra? Aku akan buktikan jika aku serius dan akan menjadi laki-laki yang jauh lebih baik lagi untuk mu." 


Victor meraih tangan arah lalu menggenggamnya dia benar-benar sangat sedih karena lagi-lagi cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Arah hendak melepaskan tangannya dari genggaman tangan Victor tiba-tiba suara klakson mobil begitu kencang berhenti tepat di belakang motor Victor.


Dengan raut wajah yang masam tatapan begitu tajam laki-laki itu turun dari mobilnya. Cara menelan ludahnya kasar dia sangat takut melihat ekspresi suaminya yang begitu sangat menakutkan.


Victor menoleh dia memperhatikan laki-laki itu dari mobil ke ujung kaki hingga ke ujung kepala. Kemudian dia menoleh ke arah arah yang terlihat sangat takut padanya.


" Sorry fix gue tidak bisa dan gue tegaskan sekali lagi tolong jangan mengharapkan apapun dari aku karena ini …" cara mengangkat tangannya kemudian dia menunjukkan jari tengahnya yang terpasang cincin berlian permata hijau tersebut yang diberikan oleh ibu mertuanya.

__ADS_1


" Aku sudah menikah dan dia adalah suamiku!" Ara memeluk suaminya dari samping agar supaya Victor benar-benar berhenti mengharapkan cintanya.


Bak disambar petir hati Victor, hancur berkeping-keping namun tak berdarah. Cintanya yang bertepuk sebelah tangan, dan dia selalu terus berusaha agar bisa mendapatkan hati wanita yang dia cintai itu. Namun ternyata semuanya sia-sia, wanita yang selama ini dia incar ternyata sudah memiliki seorang suami, sungguh sangat mengejutkan. Viktor hanya diam membisu menatap kepergian Ara masuk ke dalam mobil mewah tersebut.


Sementara di dalam mobil arah memberanikan diri untuk menoleh ke arah suaminya yang memasang wajah masam dan dingin. Arah merasakan aura sangat menakutkan dari suaminya tersebut Ara yakin jika suaminya itu marah padanya.


" Mas, aku sama dia tidak memiliki hubungan apa-apa. Memang Victor memiliki perasaan sama aku, dia sudah berapa kali menembak aku, tapi aku selalu menolaknya dengan tegas bahkan tadi aku sudah mengatakan padanya jika aku sudah memiliki suami." 


Ara langsung menjelaskan tanpa harus ditanya dia sangat peka jika suaminya itu marah karena melihat dirinya bersama laki-laki lain. 


" Mas kamu marah sama aku?" Tanya Ara karena suaminya tidak mengatakan apapun padahal dia sudah menjelaskan semuanya.


" Kamu bisa selidiki jika aku sama dia memang tidak memiliki hubungan apapun, aku sudah berusaha untuk menolaknya tapi dianya yang selalu ngejar-ngejar aku." Arah terus berusaha untuk menjelaskan sampai suaminya itu benar-benar percaya jika dirinya memang tidak memiliki hubungan apapun dengan Victor.


"Mas … tolong percaya sama aku, hanya kamu yang aku cinta, hanya kamu yang aku suka. Tidak ada yang lain Mas!" Kembali meyakinkan Ara benar-benar frustasi karena suaminya masih saja mendiamkan dirinya tanpa bicara sepatah kata pun.


" Baiklah jika kamu masih tidak mengatakan apapun, aku ngerti kalau kalau kamu masih belum percaya sama aku. Toh kita belum lama bersama, jadi wajar jika kamu menganggap aku wanita murahan yang mau sana sini dengan laki-laki lain." Ara menghapus air matanya, hatinya benar-benar sakit karena Varo masih tidak mau mengatakan apapun padanya. Dia lebih baik di marahi, di maki ketimbang di damkan kan seperti ini.


Varo masih saja diam membisu, dia sama sekali tidak menghiraukan penjelasan istrinya. Raut wajahnya begitu kesal, merah menahan emosi melihat laki-laki lain menyentuh tangan istrinya. Ingin sekali rasanya Varo memukuli laki-laki tadi, tapi Ara sudah mengajaknya untuk cepat-cepat pergi dari sana. Varo bukannya tidak percaya dengan istrinya itu, hanya saja hatinya terlalu cemburu. Untuk meredakan emosi dan api cemburu dengan diam sehingga tidak menimbulkan pertengkaran diantara keduanya. Varo membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Dia lega ternyata istri kecilnya itu begitu peka dan langsung menjelaskan semuanya tanpa harus ditanya dulu. Tetapi dia masih belum bisa menjawab karena harus menatap hati untuk meredakan api cemburu nya tersebut.


" Jika masih ada keraguan dihatumu, lalu untuk apa kita bersama. Mumpung belum terlalu jauh, sebaiknya kamu pikirkan lagi untuk menjadikan ku istri dalam hidupmu." 


Ciiiiiitttt … Sontak Varo menginjak rem mobilnyanya mendadak mendengar perkataan Ara.

__ADS_1


__ADS_2